Jumat, 10 Juli 2015

Lebaran Ke Delapan



Gema takbir menandai berakhirnya bulan ramadhan. Desa Kenanga yang biasanya sepi di malam hari, kini terlihat semarak dan ramai dengan pawai obor dalam takbir keliling.

Bu Karmi masih saja berdiri di depan rumahnya, meski iring-iringan pawai obor sudah satu jam yang lalu berlalu.

"Ini sudah lebaran ke delapan. Kenapa kau tak juga pulang, Nak? Apa kau tidak kangen sama emakmu ini?" Bu Karmi mengusap air matanya dan masuk ke dalam gubuk reotnya.

"Mak, aku pulang, Mak. Aku kangen banget sama Emak," kata sosok yang melayang di atap rumah Bu Karmi.

Chiayi, 8 July 2015




Senin, 06 Juli 2015

ZHU YU (Cerpen)



Perempuan mana yang bisa dengan mudah menerima kenyataan bahwa dirinya diperkosa, apalagi sampai hamil. Sedih, malu, takut, dan menimbulkan trauma yang begitu kuat, itulah yang kini terjadi pada Kinan. Gadis korban perkosaan yang tidak lulus SD itu, kini hanya bisa mengurung diri di kamarnya. Dia tidak berani keluar rumah, karena di dalam perutnya kini telah bersemayam janin berusia dua bulan, akibat tragedi perkosaan itu.

 Kedua orangtua Kinan yang hanya berprofesi sebagai pemulung sampah, sudah berusaha menempuh jalur hukum atas apa yang menimpa putrinya. Namun, semuanya tiada arti. Selain kurangnya barang bukti, para pelaku yang merupakan anak para pejabat itu sepertinya kebal terhadap hukum. Jangankan masuk persidangan, dalam pemeriksaan polisi saja mereka dinyatakan tidak bersalah.

Untunglah ada sepasang suami-istri dari kalangan berada, yang bersedia untuk mengadopsi anaknya Kinan jika lahir nanti. Mereka adalah Tuan Chen dan Nyonya Ming Qui. Pasangan suami-istri ini sudah sepuluh tahun berumah tangga, tetapi belum dikaruniai anak. Begitu mendapat persetujuan dari Kinan dan kedua orangtuanya, Tuan Chen dan Nyonya Ming Qiu lalu meminta Kinan untuk tinggal bersama dengan mereka. Alasannya supaya bisa memantau perkembangan serta kesehatan Kinan dan bayinya.

Kini, seminggu lebih sudah Kinan tinggal di rumah keluarga Chen. Penampilannya yang dulu lusuh tidak terurus, kini sudah berubah jadi lebih bersih dan terawat. Depresi yang dulu pernah membelenggunya, perlahan tapi pasti sudah mulai berkurang. Kinan merasa sangat beruntung bisa tinggal di rumah keluarga Chen. Apapun kebutuhan dan keinginannya, semuanya dijamin terpenuhi. Mulai dari makanan, pakaian, perhiasan, dan juga pemeriksaan kesehatan dia dan calon bayinya. Tuan Chen dan istrinya memang sangat memanjakan Kinan.

Malam ini, Kinan kembali dimanjakan dengan berbagai suguhan di meja makan. Segala macam masakan kesukaan Kinan tersedia di sana.

"Wah, banyak sekali makanannya. Seperti sebuah pesta saja." Kinan mengamati makanan yang tersedia di meja, satu per satu. Mulai dari nasi, sayur, sup, lauk pauk, aneka buah, sampai aneka minuman.

"Ini memang sebuah pesta, Kinan. Pesta kecil untuk merayakan usia kandunganmu yang sudah menginjak tiga bulan," jelas Tuan Chen sambil mempersilahkan Kinan duduk.

Setelah Kinan duduk, Tuan Chen lalu menuang sebuah sup ke dalam sebuah mangkuk, dan menyodorkannya kepada Kinan.

"Makanlah ini dulu sebagai hidangan pembuka, Kinan. Setelah habis, baru kamu boleh memakan apapun yang kamu suka," kata Tuan Chen sambil menaruh sendok ke dalam mangkuk.

"Terima kasih, Tuan, Nyonya."

 Tanpa ragu dan malu, Kinan langsung menyantap sup jagung tersebut hingga habis. Kemudian dia beralih ke ayam goreng yang menjadi kesukaannya. Belum juga paha ayam yang dimakannya habis, Kinan merasakan kepalanya tiba-tiba terasa sakit sekali. Kinan memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Pandangan Kinan perlahan mulai kabur dan dia pun pingsan dengan kepala terkulai di atas meja. Melihat Kinan pingsan, Tuan Chen pun tersenyum penuh kemenangan. Segera dia rebahkan tubuh Kinan yang pingsan di atas lantai.

"Apa yang telah kamu lakukan terhadap gadis ini, Chen? Kenapa dia sampai pingsan?" tanya Nyonya Ming Qui yang kebingungan melihat keadaan Kinan dan tingkah laku suaminya.

"Tentu saja aku akan melakukan apa yang telah Zhu Yu ajarkan. Memakan janin berusia tiga bulan beserta plasentanya, langsung dari rahim ibunya," jawab Tuan Chen sambil mengambil pisau daging yang sudah dia persiapkan sebelumnya.

"Gila kamu! Kita membawa dia ke sini untuk mengadopsi anaknya, bukan untuk kau jadikan obat dari sakitmu. Ingat, Chen! Zhu Yu hanya menyuruh makan janin yang sudah dimasak, bukan janin yang masih hidup!" teriak Nyonya Ming Qiu mencoba menghalangi niat suaminya.

"Aku sudah banyak makan sup janin yang kita beli dari tempat aborsi, tapi apa hasilnya? Aku tetap saja impoten dan punyaku tidak bisa berdiri lama. Aku tidak ingin begini terus! Aku ingin menjadi lelaki yang kuat dan perkasa!" teriak Tuan Chen sambil menyibak baju Kinan.

Nyonya Ming Qui langsung memegangi tangan Tuan Chen yang hendak membelah perut Kinan. Namun dengan beringas Tuan Chen mengibaskan tangannya, dan mendorong tubuh Nyonya Ming Qiu hingga tersungkur.

"Minggir, kau! Aku melakukan semua ini demi kelangsungan marga Chen. Aku ingin punya anak dari benihku sendiri!" Dengan penuh nafsu, Tuan Chen mulai membelah perut Kinan dengan pisau yang digenggamnya. Darah segar langsung mengalir deras dari perut Kinan dan menggenangi lantai di sekitar tubuhnya. Tanpa rasa jijik, kemudian Tuan Chen menarik segumpal daging yang berlumuran darah dari dalam perut Kinan. Seringai licik terlihat dari sudut bibirnya.

"Kau benar-benar bukan manusia, Chen! Kau iblis, setan ...!" teriak Nonya Ming Qui sambil beringsut menjauh.

Tuan Chen sama sekali tidak menghiraukan teriakan istrinya itu. Dia mengangkat janin itu tinggi-tinggi sembari berucap, "Dengan janin dan plasenta ini, berilah aku kesembuhan dan kekuatan, Zhu Yu!"

 Lalu dengan rakusnya Tuan Chen memakan janin Kinan. Darah segar nampak menetes dari sudut bibirnya yang masih terus mengunyah. Nyonya Ming Qui menatap suaminya dengan jijik. Perlahan diraihnya sebuah samurai yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat dia menghampiri suaminya yang tengah lahap memakan janin Kinan.

"Kau telah menodai ajaran Zhu yu dan kau tak pantas untuk hidup, Chen!" teriak Nyonya Ming Qui sambil mengayunkan samurai itu membabi buta ke arah suaminya.

Crass! Crass! Crass!

Tubuh Tuan Chen pun tersungkur. Kepala dan tubuhnya terkoyak penuh luka menganga. Darah, usus, dan otaknya bercampur menggenangi lantai.

Melihat suaminya terkapar tidak bernyawa, Nyonya Ming Qui pun hanya bisa menangis. Ia masih tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Kini, tidak hanya suaminya yang menjadi pembunuh, tetapi dirinya juga. Namun, Nyonya Ming Qui tidak mau bunuh diri untuk lari dari hukum. Dia akan mempertangjawabkan semua yang telah dia lakukan di hadapan hukum.

Dengan langkah gontai Nyonya Ming Qui meraih ponselnya di atas meja. Perlahan ditekannya beberapa tombol pada layarnya, dan tidak lama kemudian, "Hallo, kantor polisi ...."

Tamat




Akong Kabur (Cerpen)



Tahun baru Imlek sebentar lagi akan tiba. Aku dan majikanku pun sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk perayaan acara itu. Setelah beberapa hari kemarin kami sibuk membersihkan rumah, kali ini kami akan mempersiapkan makanan yang akan dihidangkan untuk para kerabat yang nantinya akan berkunjung ke rumah ini.

"Akong sudah minum obat, Ayu?" tanya nyonya sambil mengeluarkan beberapa plastik berisi bahan-bahan yang akan kami masak, dari dalam kulkas.

"Sudah, Nyonya. Sekarang akong sedang tidur di sofa ruang tamu," jawabku.

"Sekarang baca daging-daging ini ke meja dapur. Aku ajarin kamu memasaknya."

"Baik, Nyonya."

 Hari ini aku dan nyonya berencana memasak daging sapi dan kaki babi bumbu kecap. Karena aku baru satu bulan di sini, maka dengan sabar nyonya mengajariku cara memotong, mencuci, dan memasak dua jenis daging itu, termasuk juga dengan bumbu-bumbunya.

Sambil menunggu daging yang kami masak jadi empuk, kami berencana istirahat sebentar sambil menonton tv. Namun, alangkah terkejutnya kami, saat tidak mendapati akong di ruang tamu. Padahal, setengah jam tadi, dia masih tidur siang dengan pulasnya di sofa. Begitu melihat pintu depan terbuka lebar, kami yakin kalau akong pergi keluar rumah secara diam-diam.

"Yumi, kamu cari akong sampai jalan Ta-Ya. Kalau sampai SD Ta-Ya tidak ketemu, kamu balik ke rumah. Saya akan mencari ke arah danau!" perintah nyonya sambil mengambil kunci mobil.

"Iya, Nyonya. Saya matikan kompor dulu," jawabku.

 Aku langsung berlari ke dapur, untuk mematikan kompor gas. Setelah itu, kami pun berpencar arah sesuai kesepakatan. Sambil setengah berlari aku menyusuri jalanan kompleks. Sial, ternyata cuaca sedang mendung dan aku lupa membawa payung karena terlalu panik. Kira-kira 300 meter dari gerbang kompleks, aku melihat akong berjalan tertatih seorang diri. Segera aku berlari menyusulnya.

"Akong, mau ke mana? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" tanyaku selembut mungkin, tapi akong tidak menjawab. Akong malah mempercepat langkahnya, seolah ingin menghindariku.

"Akong, kita pulang, yuk, mau hujan, nih." Aku kembali mencoba membujuk akong sambil sesekali menarik lengannya, pelan. Namun, akong tetap tidak mempedulikanku. Sedangkan yang aku takutkan sejak tadi, kini jadi kenyataan. Gerimis mulai turun disaat aku belum berhasil membujuk akong untuk kembali ke rumah.

"Akong, hujan, nih. Ayo pulang! Nanti Akong bisa sakit kalau hujan-hujanan." Aku kembali mengajak Akong pulang, tapi dia tetap tidak mau.

"Aku mau ke Bank ambil uang. Uangku ... uangku ...," kata akong berulang kali sambil terus saja berjalan tertatih, dan kini gerimis sudah menjelma menjadi hujan deras.

Akhirnya di bawah guyuran air hujan, kami pun berjalan menyusuri jalan raya. Tidak ada yang bisa aku perbuat, kecuali memegang lengan akong lebih erat lagi supaya dia tidak jatuh. Beberapa tatapan mata dan teriakan dari orang-orang yang berada di teras lobi sebuah apartemen yang tak jauh dari tempat aku dan akong berdiri, seolah menghakimi kebodohanku dalam menjaga akong.

 "Akong, ayo pulang. Ayo, Akong!" Kali ini aku berusaha menarik lengan akong agak kuat, supaya dia mau menuruti kata-kataku. Bukannya menurut, akong malah berontak dan memukuliku dengan membabi buta.

"Aku tidak mau pulang ! Aku mau uangku. Aku mau ambil uangku!" teriak akong sambil terus memukuliku.

Aku mencoba menahan pukulan akong, sambil tetap memegangi lengannya. Tiba-tiba tubuh akong terhuyung ke belakang saat dia berusaha melepaskan pegangan tanganku. Aku berusaha menarik tubuh akong ke depan, supaya dia tidak jatuh ke belakang. Tarik menarik pun tak terelakkan. Tiba-tiba akong mendorongku dengan kuat, dan ....

Brukk!!

Aku dan akong jatuh bersamaan dengan tubuh akong menindihku. Beberapa orang nampak berlari dari arah lobi apartemen sambil membawa payung.

"Kenapa kau biarkan akongmu hujan-hujanan?" tanya seorang wanita bertubuh gemuk.

"Kamu bisa jaga orang tua, tidak, sih? Masak sampai basah kuyup kayak gini?" Seorang laki-laki berpakaian seragam penjaga apartmen ikut memarahiku.

Sambil membantuku dan akong bangkit, mereka terus menyerangku dengan berbagai pertanyaan. Namun, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan mereka. Di samping penguasaan bahasa mandarinku masih kurang, sakit di pantatku lebih menyita pikiranku.

 Untunglah saat itu majikanku datang dengan membawa mobil. Sambil membantu menaikkan akong ke dalam mobil, nyonya menjelaskan kepada orang-orang itu tentang kejadian yang sebenarnya terjadi.

"Ayah saya sudah pikun, dan hari ini kami agak lalai mengawasinya sehingga dia kabur dari rumah. Terima kasih atas bantuannya dan maaf kalau merepotkan kalian semua," kata nyonya sambil membungkukkan badan.

Setelah berpamitan dengan orang-orang yang tadi membantuku dan akong, nyonya pun melajukan mobilnya kembali ke rumah.

"Yumi, kamu tidak apa-apa? Apa ada luka?" tanya nyonya sambil melirikku.

"Tidak, Nyonya. Saya baik-baik saya dan tidak terluka," jawabku.

"Syukulah kalau begitu. Lain kali, kalau saya tidak ada di rumah, kamu harus lebih hati-hati lagi menjaga akong. Mengerti!?"

"Mengerti, Nyonya."

Sampai di rumah, aku dan nyonya langsung memandikan akong dengan air hangat, kemudian menemaninya sampai akong tertidur pulas.