Selasa, 30 Juni 2015
SASA
Lima menit menjelang buka puasa, beranda facebook-ku penuh dengan foto makanan, yang seolah berlomba menunjukkan menu buka puasa mereka.
Aku pun tidak mau kalah. Memangnya mereka saja yang bisa pamer menu berbuka. Aku juga bisa. Segera kubuat status di beranda facebook-ku.
'Ini menu buka puasaku, mana menu buka puasamu?' Upload gambar dari google, klik 'send'.
Selesai, tinggal menunggu komentar dari mereka. Pasti mereka bakalan kagum dengan menu berbuka-ku.
Satu komentar masuk,.'Baru tahu kalau di Taiwan ada mangkuk dengan tulisan Sasa.
'Langsung kuhapus 'postingan-ku'.
Cjiayi, 1 Juli 2015
Kamis, 25 Juni 2015
PULANG UNTUK PERGI
Malam perlahan beranjak memasuki dini hari. Dentang jam gantung di ruang depan terdengar bergema dua kali, tapi Mbah Mangsuri memutuskan untuk bangun dari lelapnya yang baru sekejap. Raut kelelahan terpancar jelas dari wajah tuanya yang mulai keriput. Dengan penerangan lampu kamarnya yang hanya 5 watt, Mbah Mangsuri memilih pakaian terbaik yang dia punya. Sebuah kemeja batik warna coklat tua pemberian pak RT, dua tahun lalu. Sebuah sarung dan sandal selop yang sudah tipis, tak lupa dia persiapkan bersama kopiah yang sudah lusuh.
Perlahan dia duduk di tepi tempat tidur dan diusapnya punggung Mukhlis, cucu satu-satunya yang berusia 7 tahun. Sejak kematian istrinya dan kepergian anak semata wayangnya, Karmi, ke Taiwan, Mbah Mangsuri memang hanya tinggal berdua dengan Mukhlis di gubuknya yang sederhana.
"Bangun, Le, sebentar lagi ibumu pulang," bisik Mbah Mangsuri lembut.
"Ngghh ...." Mukhlis hanya menggeliat sesaat, lalu memeluk guling kumalnya dan kembali tertidur.
Mbah Mangsuri kembali mengusap-usap punggung Mukhlis sebelum akhirnya beranjak keluar kamar. Di luar kamar, para tetangga dan kerabat masih terlihat berada di ruang tengah dan ruang depan. Sebagian ada yang tertidur di atas tikar yang sengaja digelar, sebagian lagi ada yang masih mengaji dengan suara lirih. Beberapa pemuda nampak berjaga di depan rumah sembari berbincang ditemani kopi yang sudah dingin. Sementara itu di dapur juga terlihat beberapa ibu-ibu yang tengah memasak sesuatu.
"Sudah ada kabar?" tanya Mbah Mangsuri pada salah satu tetangganya yang berada di situ.
"Rombongan sudah bertolak dari bandara, dua jam yang lalu, Mbah. Semua keperluan juga sudah kami persiapkan di ruang depan, tinggal menunggu kedatangan mereka."
"Terima kasih. Saya akan bersiap dulu," pamit Mbah Mangsuri, lalu melangkah pelan menuju kamar mandi di belakang rumah.
Setelah mencuci muka dan mengambil air wundhu, Mbah Mangsuri pun kembali ke kamarnya. Dikenakannya pakaian yang tadi sudah dia persiapkan. Sekilas dipandanginya sang cucu yang masih terlelap. Hatinya bingung, antara membangunkan sang cucu karena sebentar lagi ibunya akan tiba, ataukah tetap membiarkan sang cucu terlelap melepas segala lelah yang seharian kemarin mendera tubuh mungilnya.
"Tidurlah yang nyenyak, Le. Saat kau bangun nanti, impianmu untuk bertemu ibu akan jadi kenyataan." Mbah Mangsuri meletakkan satu setel baju koko di samping sang cucu, kemudian beranjak keluar kamar.
"Mereka datang! Mereka datang!" teriak beberapa orang di depan rumah seiring suara sirine ambulan yang semakin mendekat. Satu per satu orang-orang yang berada di dalam rumah berjalan menuju depan rumah, termasuk Mbah Mangsuri.
"Yang tabah, ya, Mbah," kata pak RT sambil membimbing Mbah Mangsuri.
Tak berapa lama rombongan yang terdiri dari empat mobil, satu ambulan, dan beberapa sepeda motor nampak berhenti di depan rumah Mbah Mangsuri. Mereka adalah rombongan pengantar jenazah Karmi, anak semata sayang Mbah Mangsuri sekaligus ibu dari Mukhlis yang meninggal di Taiwan, karena dibunuh pacarnya. Karmi ditemukan sudah tidak bernyawa di dekat kebun pinang di daerah Kaoshiung.
Karmi pergi ke Taiwan 6 tahun lalu setelah bercerai dengan suaminya. Saat itu Mukhlis baru berusia 6 bulan. Setahun berlalu, tidak sekali pun Karmi memberi kabar atau mengirim uang ke rumah. Bahkan pihak PJTKI yang memberangkatkan Karmi malah menyuruh Mbah Mangsuri mengganti biaya penempatan Karmi dikarenakan Karmi kabur dari majikannya, sebelum biaya penempatan itu terbayar lunas.
Mbah Mangsuri terpaksa menjual separuh sawahnya untuk membayar denda Karmi. Hingga tahun ke empat ada sedikit titik terang mengenai keberadaan Karmi. Seorang tetangga yang juga bekerja di Taiwan, pernah bertemu dengan Karmi di depan sebuah KTV pada suatu malam. Menurutnya, Karmi yang malam itu berpenampilan sexy, dikawal dua orang laki-laki bertubuh kekar keluar dari KTV. Karmi sempat berhenti dan menoleh ketika tetangganya itu memanggil namanya. Namun kemudian dua orang laki-laki itu segera menarik Karmi ke dalam mobil warna hitam yang terparkir di depan KTV. Dalam hitungan menit, mobil itu pun melaju meninggalkan KTV.
Berita miring tentang Karmi yang diduga menjadi wanita panggilan pun santer terdengar di telinga Mbah Mangsuri. Namun, lelaki tua itu tetap diam dan tidak mau berkomentar apa-apa. Dia tetap percaya kalau Karmi punya iman yang kuat.
"Mbah, kami dari pihak pemerintah dan PJTKI, datang untuk mengantar jenazah Mbak Karmi. Bersama ini, kami sampaikan juga santunan dan beberapa surat bukti kematian almarhumah. Mohon diterima, Mbah," kata seorang laki-laki berpakaian seragam warna coklat muda, didampingi tiga orang laki-laki berpakaian serupa dan dua orang polisi. Dia menyerahkan sebuah amplop warna coklat dan map warna biru.
Setelah menandatangi sejumlah dokumen, Mbah Mangsuri menghampiri peti mati Karmi yang sudah dibuka. Seorang kerabat membantu membuka penutup wajah Karmi. Mbah Mangsuri berdiri mematung memandangi wajah putri kesayangannya yang sudah begitu lama dia rindukan. Anak satu-satunya yang dia harapkan bisa jadi tumpuan di hari tuanya nanti, kini telah terbujur kaku dengan mata terpejam. Tak ada senyum bahagia atau pelukan hangat di pertemuan yang terkahir mereka. Hanya ada keheningan dan duka yang terpancar di antara keduanya.
Dengan tangan gemetar, perlahan Mbah Mangsuri mengusap wajah dingin Karmi dan mencium keningnya.
"Assalamualaikum ... selamat datang, Nduk. Akhirnya hari ini kamu pulang ke rumah, meski besok harus pergi lagi untuk selamanya. Apapun yang sudah terjadi kemarin, bapak tidak pernah marah atau membencimu. Buat bapak, kamu tetap putri bapak yang paling bapak sayangi. Maafkan bapak yang tidak pernah bisa membahagiakanmu, hingga kamu menempuh jalan ini. Maafkan bapak, Nduk ...." Mbah Mangsuri kembali mencium kening Karmi. Setitik air mata nampak mengalir di pipinya yang keriput dan tubuh Mbah Mangsuri jatuh terduduk dan lemas.
"Mbah ... sabar, Mbah ... Istiqfar, Mbah. Ikhlaskan Mbak Karmi supaya dia tenang di sana." Melihat keadaan Mbah Mangsuri, beberapa kerabat langsung memapah Mbah Mangsuri masuk ke dalam kamar.
Setelah kepergian istrinya, kini giliran kebersamaannya dengan sang putri tercinta juga harus berakhir. Tinggallah sang cucu yang menjadi tumpuan terakhirnya dalam melewati masa tuanya nanti. Mbah Mangsuri tahu semua ini sangatlah berat baginya, tapi Mbah Mangsuri percaya, Allah tidak pernah meninggalkan hambanya sendirian dalam mengahadapi cobaan. Kepasrahan dan keikhlasan diteguhkannya dalam hati dan Mbah Mangsuri siap menghadapi hari esok.
Tamat.
Rabu, 24 Juni 2015
Emak, Aku Pulang!
Ini adalah lebaran ke 7 sejak kepergianku pergi merantau ke kota, dan baru sekarang aku bisa pulang ke rumah. Impianku untuk membahagiakan emak dengan merantau ke kota, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Jangankan mengirim uang untuk emak di kampung, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja aku tidak bisa. Tidak jarang tiap hari aku harus berpuasa dan hidup menggelandang dari emperan toko sampai terminal bis.
Minimnya pengetahuan dan pendidikan, membuatku harus menghadapi terjalnya perjalanan hidup di kota, sejak pertama aku menjejakkan kakiku di sana. Mulai dari tasku yang dijambret, bekerja tidak dibayar, jadi pemulung, sampai jadi gelandangan.
Dengan kebaikan seorang dermawan, puasa ke 25 tahun ini akhirnya aku bisa pulang. Akh, kenapa jalan desa ini terasa panjang sekali? Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan emak. Begitu sampai rumah nanti, aku tidak akan lagi meninggalkan emak. Aku akan setiap hari menemaninya menggarap sawah.
"Mak! Aku pulang, Mak!" teriakku sambil berlari begitu sampai halaman rumah.
Namun, yang keluar dari dalam rumah bukanlah emakku, melainkan Pakdhe Mardi dan Istrinya. Aku langsung menyalami dan memeluk keduanya yang masih diam terpaku melihatku. Ternyata selama kepergianku, mereka ada untuk menemani emak.
"Emak mana, Pakdhe, Budhe? Aku kangen sama emak?"
"Masuklah dulu, Angga, tidak baik berbicara dengan berdiri di depan rumah seperti ini," jawab pakdhe sambil mempersilakan aku masuk.
Aku mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam, aku langsung berlari ke dapur begitu mendengar suara orang memasak. Mungkin emak sedang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Namun, yang aku temui di dapur juga bukan emak, melainkan tiga orang ibu-ibu tetangga yang sedang memasak.
"E-emak, mana?" tanyaku perlahan tapi membuat mereka seketika berhenti beraktifitas.
"Angga, sebenarnnya emakmu sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Dan hari ini bertepatan peringatan 100 hari kepergiannya," jelas pakdhe sambil menepuk pundakku.
"E-emak ...." Aku jatuh bersimpuh mendengar jawaban pakdhe yang seperti halilintar menghantam hatiku. Seketika air mataku tumpah membasahi pipi. Semua harapanku musnah sudah. Jangankan untuk memeluk tubuh renta itu, melihat senyum di wajahnya yang keriput saja aku tak bisa.
"Emak, maafkan aku yang tidak bisa membahagiakanmu, yang tidak bisa menemani di hari tuamu, yang tidak bisa mengantar di peristirahatan terakhirmu. Maafkan aku, Mak."
Chiayi, 24 Juni 2015
Pekerjaan Pertamaku
Setelah sekian lama ke sana ke mari mencari kerja, akhirnya aku mendapat panggilan kerja di sebuah pabrik garment, PT. AMT. Dari keterangan staf HRD lewat telepon, aku diterima di bagian finishing. Saking bahagianya aku langsung memberitahu pada bapak dan ibu kalau aku sudah diterima kerja. Mereka pun membuat sebuah syukuran kecil atas keberhasilanku diterima kerja.
"Selamat, ya, Nduk. Akhirnya kamu dapat kerjaan. Tidak sia-sia ibu menyekolahkan kamu tinggi-tinggi," sambut ibu dengan penuh bahagia.
"Pokoknya gaji pertama nanti, aku traktir Bapak sama Ibu makan bakso di dekat palang kereta," ucapku penuh semangat pada kedua orangtuaku.
Pagi-pagi sekali aku sudah mempersiapkan diri dengan baju hitam-putih. Aku tidak mau terlambat di hari pertama kerjaku. Bayang-bayang lulus training dan memakai seragam resmi perusahaan, serta menerima gaji ratusan ribu tiap bulannya, membuat bibirku tidak berhenti tersenyum.
Setelah diabsen di pos satpam, aku dan para karyawan baru lainnya digiring menuju salah satu gedung produksi. Di depan pintu masuk, sudah berdiri kepala HRD dan seorang supervisor bagian finishing.
"Selamat datang dan selamat bergabung dengan perusahaan kami. Kalian semua yang ada di sini, akan membantu bagian finishing untuk memotong benang sisa di garment. Sistem kerja kalian adalah borongan. Berapa hasil kalian setiap hari, akan dikalikan harga potong benang tiap garment," kata superior menjelaskan sistem kerja kami.
Aku yang awalnya penuh semangat ingin segera bekerja, seketika langsung berubah jadi lemas. Ternyata aku hanya diterima sebagai tenaga borongan, bukan karyawan kontrak apalagi karyawan tetap. Bagaimana harus aku jelaskan pada bapak, ibu, dan juga para tetangga jika aku hanya diterima sebagai tenaga borongan?
Chiayi, 23 Juli 2015
Rabu, 17 Juni 2015
MULAS
By: Disyak Ayummy
Sore itu suasana kantin tidak terlalu ramai tapi terasa menyesakkan buat Siena. Tubuh Siena bergetar dan keringat dingin membasahi keningnya saat Arkha dan kedua temannya berjalan mendekatinya.
"Siena, kamu grogi, ya, mau ketemu Arkha? Ayo, ngaku! Kamu kan udah lama naksir sama tuh cowok," ledek Keeran, sahabat dekat Siena.
"Bu-bukan begitu, tapi saat ini bukan waktu yang tepat, sebab ...." Siena semakin salah tingkah. Apalagi saat Arkha tiba-tiba duduk di sampingnya, wajah Siena terlihat pucat. Keeran yang melihat perubahan sikap sahabatnya itu, hanya bisa tersenyum.
"Hai, Siena, apa kabar? Kata Keeran kamu mau ngomong sesuatu denganku. Soal apa?" tanya Arkha dengan senyumnya yang menggoda.
"Eh, iya, tapi ... tapi tidak sekarang. Ka-karena ... maaf, aku pergi dulu." Dengan gugup Siena beranjak dari tempat duduknya diikuti suara yang tidak asing yang keluar dari pantat Siena.
Duutt ... duutt ... brut.
Arkha, Keeran, dan teman-temannya langsung menutup hidung mereka dari aroma yang memabukkan.
Chiayi, 17 Juli 2015
Jumat, 05 Juni 2015
Sandiwara Kerinduan
Arin terhenyak dari lelapnya oleh sebuah tepukan lembut di pundaknya. Sambil menguap, Arin menegakkan kepalanya.
"Ambil obat di lobby depan." Seorang wanita cantik, berkulit putih dengan seragam berwana merah muda, menyerahkan secarik kertas kepada Arin.
"Oh, iya, Suster." Arin menerima kertas berisi daftar resep itu. Dengan menahan lelah dan kantuk, perempuan Indonesia berusia 34 tahun yang bekerja sebagai perawat lansia itu, melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang remang, menuju lobby depan rumah sakit itu.
Sepuluh menit kemudian dia sudah kembali dengan tiga bungkus obat di tangannya. Setelah menyerahkan obat itu kepada suster jaga, Arin kembali ke kursinya di samping ranjang ama yang dijaganya. Sekilas ditatapnya jam dinding di tembok samping, yang menunjukkan pukul 4.53 pagi.
"Ah, sudah hampir pagi rupanya." Arin segera melipat selimut yang dipakainya semalam, dan menyimpannya ke dalam tas. Sementara itu seorang suster menyuntikkan beberapa obat ke dalam infus ama.
"Kapan ikatan ama akan dibuka, Suster?" tanya Arin pelan sambil memperhatikan pergelangan tangan dan kaki ama, yang diikat pada sisi ranjang.
"Saya tidak berani memastikan kapan, tergantung kondisi psikologi ama. Kalau dia terus mengamuk seperti semalam, ya sebaiknya dia tetap diikat supaya tidak membahayakan dirinya sendiri," jawab suster itu. Setelah selesai menyuntikkan obat, suster itu pun kembali ke meja jaga.
Arin mengusap wajah ama yang tertidur pulas karena pengaruh obat tidur. Tak nampak sedikit pun beban di wajah keriputnya. Berbeda dengan beberapa hari belakangan ini. Ama selalu nampak murung dan uring-uringan. Kerinduannya terhadap Chen Lu--anak bungsunya--sepertinya sudah tidak tertahan.
Chen Lu adalah anak kesayangan ama. Di usianya yang belum genap 30 tahun, Chen Lu sudah bisa membelikan ama rumah, mobil, dan beberapa saham dari berbagai perusahaan terkenal. Namun, sejak ama di ajak tinggal bersama Tuan Hwang--anaknya yang pertama--di kota ini, lima tahun yang lalu, Chen Lu tidak pernah sekalipun datang mengunjungi ama. Bahkan telpon pun tidak pernah.
"Kalau sampai kali ini Chen Lu tidak datang juga, aku akan benar-benar bunuh diri!" teriak ama saat Arin menemaninya makan siang kemarin.
"Mungkin Tuan Chen Lu sedang sibuk, Ama." Arin mencoba menenangkan.
"Sibuk apa? Sudah lima tahun lebih dia tidak pulang. Padahal jarak Taipei ke sini hanya 5 jam. Kalau dia sudah tidak mau menganggap aku ibunya, lebih baik aku mati!" Ama meletakkan sumpit ke meja dengan kasar, dan beranjak menuju kamar. Selera makannya seketika hilang. Rasa kangen dan amarah pada anak kesayangannya beradu dalam dadanya.
Arin hanya bisa mengusap lembut punggung ama. Perjanjiannya dengan sang majikan untuk merahasiakan keberadaan Chen Lu dari sang ibu, membuat Arin hanya bisa membisu.
"Arin, kau sudah siapkan perlengkapan untuk tinggal beberapa hari di rumah sakit!" teriak Ama dari balkon depan.
Arin yang sedang mencuci piring di dapur langsung berlari ke arah balkon depan. Ama yang dikiranya sedang tidur, ternyata diam-diam pergi ke balkon depan.
"Ama, apa-apaan ini? Cepat masuk! Nanti dikira tetangga, ama mau bunuh diri." Dengan raut wajah panik, Arin mencoba menarik tangan ama yang sudah terlanjur tengkurap di atas pagar balkon. Namun, ama menolak, malah kedua kakinya kini sudah berada di luar, berpijak pada alas pagar balkon.
"Cepat teriak panggil tetangga, biar mereka segera telpon 119. Tanganku sudah capek!"
"Ah, Ama, kenapa bohong lagi? Ama kan sudah janji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi." Arin geregetan bercampur panik melihat tingkah laku ama. Arin takut kalau ama tidak kuat menahan berat beban tubuhnya yang lumayan gendut itu dan jatuh dari lantai lima, apartemen mereka.
"Aku mau tahu, apakah Chen Lu akan pulang jika melihat aku stres dan mau bunuh diri."
Melihat kelakuan ama, Arin hanya bisa mengambil napas panjang. Ini ketiga kalinya ama nekad melakukan hal-hal aneh, supaya Chen Lu mau pulang. Ama pernah pura-pura sakit jantung, pernah juga minum obat tidur dua kali lipat, dan sekarang pura-pura mau bunuh diri.
Kerinduan ama sebagai seorang ibu terhadap anaknya, ternyata bisa membuatnya nekad melakukan hal yang membahayakan. Tanpa ama sadari, bahwa anaknya tidak akan pernah kembali lagi sampai kapan pun.
"Ibu tidak pernah tahu kalau Chen Lu telah dihukum mati, karena menjadi kurir narkoba di negara tetangga. Saya membawa ibu ke sini, untuk menjaga perasaan ibu dari gunjingan masyarat. Mudah-mudahan di tempat ini, ibu bisa melupakan Chen Lu dan menikmati hari tua dengan tenang," kata Tuan Hwang, sewaktu Arin bertanya mengenai Chen Lu
"Arin, cepat! Aku sudah tidak tahan, nih!" teriak ama membuyarkan lamunan Arin.
"I-iya, Ama ...." Arin pun segera berteriak minta tolong ke tetangga, sesuai permintaan ama.
Para tetangga di apartemen itu seketika jadi heboh, melihat seorang nenek hendak lompat dari lantai lima. Beberapa dari mereka segera merentangkan selimut tebal untuk jaga-jaga kalau nenek itu terjatuh, sebelum petugas penyelamat datang.
"Arin, pegang tanganku yang kuat, aku ingin teriak dan berontak. Jangan dilepaskan, ya. Nanti kamu pura-pura mencegah aku, ya. Awas, kalau kamu tidak nurut!" Ama sempat tersenyum pada Arin yang terlihat masih bengong, sebelum akhirnya berteriak-teriak dan meronta.
"Lepaskan! Biarkan aku mati, tidak ada seorang pun yang menyayangiku!" Ama mulai berakting. Dia berteriak sambil menggerak-gerakan badannya. Kemudian dia mengerdipkan matanya ke arah Arin. Arin yang menangkap maksud ama, langsung ganti berteriak.
"Jangan, Ama! Masih banyak yang menyayangimu, termasuk aku. Aku sayang kamu, Ama! Jangan lompat!"
Keduanya tetap terus berakting sampai petugas penyelamat datang. Begitu petugas penyelamat berhasil menarik ama, Arin langsung masuk kamar mengambil tas perlengkapan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sementara ama, masih terus berteriak-teriak dan mengamuk, meski dalam keadaan sudah terikat.
"Arin, bagaimana? Apa ada kabar kalau Chen Lu akan pulang?" tanya ama setengah berbisik, membuyarkan lamunan Arin.
"Hah, Ama sudah bangun ...." Arin tergagap, senang.
"Sstt, jangan keras-keras, nanti ketahuan suster. Kapan Chen Lu akan datang?"
Arin diam. Dia sadar, sampai kapan pun dia tidak akan bisa menjawab dengan jujur pertanyaan perempuan tua yang merindukan anaknya itu. Kerinduan ama terhadap Chen Lu, selamanya hanya berupa asa-asa kering yang maya. Seperti halnya dirinya, yang tidak akan pernah bertemu anak semata wayangnya yang telah meninggal dunia karena muntaber, empat tahun lalu. Kondisi ekonomi yang sulit, membuat Arin tidak bisa membawa anaknya untuk berobat.
Cinta dan rindu seorang ibu pada anaknya, tak terbatas ruang dan waktu. Semua itu terpatri dalam sukma, selamanya.
Chiayi 2015
SEBUAH TUGAS
Bibir Karim berhenti mengucap doa-doa, ketika mobil yang ditumpanginya berhenti tak jauh dari pusat kota. Beberapa ruas jalan yang menuju ke arah pusat kota memang sengaja ditutup untuk menghindari kemacetan, saat perayaan pergantian tahun seperti saat ini. Dari balik jendela kaca mobil, Karim melihat begitu banyak orang lalu-lalang di sepanjang jalan itu.
"Kamu sudah siap, Karim?" tanya lelaki separuh baya yang duduk di samping Karim.
"Saya ...." Karim menatap ragu pada lelaki yang berpakaian serba putih itu. Tangannya mencengkeram kuat tas punggung warna hitam di pangkuannya.
"Seharusnya kamu bahagia dengan tugas ini, Karim, karena surga telah menantimu." Lelaki itu menepuk-nepuk pundak Karim, lembut. Beberapa wejangan yang terucap dari bibirnya, perlahan membakar semangat Karim yang sedang dilanda keraguan.
"Saya siap, Kyai!" kata Karim, mantap.
Karim bergegas memakai tas punggung yang sedari tadi dipangkunya. Setelah berpamitan dan mencium punggung tangan lelaki yang dipanggilnya 'kyai', Karim kemudian turun dari mobil diikuti oleh dua orang laki-laki berpakaian modis, yang sedari tadi duduk di jok belakang.
Tanpa sepatah kata pun, ketiganya berjalan di antara kerumunan orang, menuju pusat kota. Suara bising terompet seolah menjadi penyemangat Karim dalam mengemban tugasnya.
Setelah 30 menit berjalan, ketiganya berhenti di depan sebuah club malam yang cukup besar, di kota itu. Ketiganya dengan mudah bisa masuk ke dalam club, karena Kedua orang teman Karim itu, sebelumnya sudah ditugaskan selama sebulan untuk menyelidiki tempat itu. Dengan menjadi anggota VIP club tersebut, kedua orang itu dengan mudah bisa akrab dengan para penjaga dan pekerja di sana.
Begitu sampai di dalam, Karim memperhatikan seluruh ruangan club itu. Aroma minuman keras dan asap rokok begitu menyengat hidung Karim. Hentakan musik dari DJ, mengiringi para pengunjung untuk bergoyang. Beberapa wanita berpakaian bikini nampak tengah meliuk-liukan badannya, pada sebuah tiang di panggung sebelah kiri.
"Lima belas menit lagi, acara puncak pergantian tahun akan dimulai. Kami harus segera pergi dari sini," bisik salah satu teman, di telinga Karim.
"Baiklah, selamat tinggal, Saudaraku," kata Karim sambil memeluk mereka satu per satu.
Sepeninggal kedua temannya, Karim duduk di bar sambil menanti acara pergantian tahun. Segelas arak putih yang dipesannya, sama sekali tidak dia sentuh.
Tiga puluh detik menuju pukul 12 malam, seorang DJ mengajak semua pengunjung untuk berkumpul di tengah ruangan, dan bersiap menghitung mundur. Karim pun beranjak dari tempat duduknya. Dengan langkah tenang, dia berjalan menuju tengah-tengah kerumunan pengunjung yang mulai berhitung dari angka dua puluh.
Menginjak hitungan ke lima, Karim memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Sebuah benda kecil berbentuk kotak, digenggamnya erat. Saat para pengunjung berteriak menyebut angka 'dua', Karim menekan sebuah tombol pada benda kecil yang tengah di genggamnya.
Duuaarrr!!
*****
Pagi ini, semua media memberitakan peristiwa ledakan bom di malam tahun baru, di sebuah club malam yang menewaskan lebih dari 80% pengunjungnya.
Chiayi 2015
Langganan:
Komentar (Atom)






