Senin, 06 Juli 2015

ZHU YU (Cerpen)



Perempuan mana yang bisa dengan mudah menerima kenyataan bahwa dirinya diperkosa, apalagi sampai hamil. Sedih, malu, takut, dan menimbulkan trauma yang begitu kuat, itulah yang kini terjadi pada Kinan. Gadis korban perkosaan yang tidak lulus SD itu, kini hanya bisa mengurung diri di kamarnya. Dia tidak berani keluar rumah, karena di dalam perutnya kini telah bersemayam janin berusia dua bulan, akibat tragedi perkosaan itu.

 Kedua orangtua Kinan yang hanya berprofesi sebagai pemulung sampah, sudah berusaha menempuh jalur hukum atas apa yang menimpa putrinya. Namun, semuanya tiada arti. Selain kurangnya barang bukti, para pelaku yang merupakan anak para pejabat itu sepertinya kebal terhadap hukum. Jangankan masuk persidangan, dalam pemeriksaan polisi saja mereka dinyatakan tidak bersalah.

Untunglah ada sepasang suami-istri dari kalangan berada, yang bersedia untuk mengadopsi anaknya Kinan jika lahir nanti. Mereka adalah Tuan Chen dan Nyonya Ming Qui. Pasangan suami-istri ini sudah sepuluh tahun berumah tangga, tetapi belum dikaruniai anak. Begitu mendapat persetujuan dari Kinan dan kedua orangtuanya, Tuan Chen dan Nyonya Ming Qiu lalu meminta Kinan untuk tinggal bersama dengan mereka. Alasannya supaya bisa memantau perkembangan serta kesehatan Kinan dan bayinya.

Kini, seminggu lebih sudah Kinan tinggal di rumah keluarga Chen. Penampilannya yang dulu lusuh tidak terurus, kini sudah berubah jadi lebih bersih dan terawat. Depresi yang dulu pernah membelenggunya, perlahan tapi pasti sudah mulai berkurang. Kinan merasa sangat beruntung bisa tinggal di rumah keluarga Chen. Apapun kebutuhan dan keinginannya, semuanya dijamin terpenuhi. Mulai dari makanan, pakaian, perhiasan, dan juga pemeriksaan kesehatan dia dan calon bayinya. Tuan Chen dan istrinya memang sangat memanjakan Kinan.

Malam ini, Kinan kembali dimanjakan dengan berbagai suguhan di meja makan. Segala macam masakan kesukaan Kinan tersedia di sana.

"Wah, banyak sekali makanannya. Seperti sebuah pesta saja." Kinan mengamati makanan yang tersedia di meja, satu per satu. Mulai dari nasi, sayur, sup, lauk pauk, aneka buah, sampai aneka minuman.

"Ini memang sebuah pesta, Kinan. Pesta kecil untuk merayakan usia kandunganmu yang sudah menginjak tiga bulan," jelas Tuan Chen sambil mempersilahkan Kinan duduk.

Setelah Kinan duduk, Tuan Chen lalu menuang sebuah sup ke dalam sebuah mangkuk, dan menyodorkannya kepada Kinan.

"Makanlah ini dulu sebagai hidangan pembuka, Kinan. Setelah habis, baru kamu boleh memakan apapun yang kamu suka," kata Tuan Chen sambil menaruh sendok ke dalam mangkuk.

"Terima kasih, Tuan, Nyonya."

 Tanpa ragu dan malu, Kinan langsung menyantap sup jagung tersebut hingga habis. Kemudian dia beralih ke ayam goreng yang menjadi kesukaannya. Belum juga paha ayam yang dimakannya habis, Kinan merasakan kepalanya tiba-tiba terasa sakit sekali. Kinan memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Pandangan Kinan perlahan mulai kabur dan dia pun pingsan dengan kepala terkulai di atas meja. Melihat Kinan pingsan, Tuan Chen pun tersenyum penuh kemenangan. Segera dia rebahkan tubuh Kinan yang pingsan di atas lantai.

"Apa yang telah kamu lakukan terhadap gadis ini, Chen? Kenapa dia sampai pingsan?" tanya Nyonya Ming Qui yang kebingungan melihat keadaan Kinan dan tingkah laku suaminya.

"Tentu saja aku akan melakukan apa yang telah Zhu Yu ajarkan. Memakan janin berusia tiga bulan beserta plasentanya, langsung dari rahim ibunya," jawab Tuan Chen sambil mengambil pisau daging yang sudah dia persiapkan sebelumnya.

"Gila kamu! Kita membawa dia ke sini untuk mengadopsi anaknya, bukan untuk kau jadikan obat dari sakitmu. Ingat, Chen! Zhu Yu hanya menyuruh makan janin yang sudah dimasak, bukan janin yang masih hidup!" teriak Nyonya Ming Qiu mencoba menghalangi niat suaminya.

"Aku sudah banyak makan sup janin yang kita beli dari tempat aborsi, tapi apa hasilnya? Aku tetap saja impoten dan punyaku tidak bisa berdiri lama. Aku tidak ingin begini terus! Aku ingin menjadi lelaki yang kuat dan perkasa!" teriak Tuan Chen sambil menyibak baju Kinan.

Nyonya Ming Qui langsung memegangi tangan Tuan Chen yang hendak membelah perut Kinan. Namun dengan beringas Tuan Chen mengibaskan tangannya, dan mendorong tubuh Nyonya Ming Qiu hingga tersungkur.

"Minggir, kau! Aku melakukan semua ini demi kelangsungan marga Chen. Aku ingin punya anak dari benihku sendiri!" Dengan penuh nafsu, Tuan Chen mulai membelah perut Kinan dengan pisau yang digenggamnya. Darah segar langsung mengalir deras dari perut Kinan dan menggenangi lantai di sekitar tubuhnya. Tanpa rasa jijik, kemudian Tuan Chen menarik segumpal daging yang berlumuran darah dari dalam perut Kinan. Seringai licik terlihat dari sudut bibirnya.

"Kau benar-benar bukan manusia, Chen! Kau iblis, setan ...!" teriak Nonya Ming Qui sambil beringsut menjauh.

Tuan Chen sama sekali tidak menghiraukan teriakan istrinya itu. Dia mengangkat janin itu tinggi-tinggi sembari berucap, "Dengan janin dan plasenta ini, berilah aku kesembuhan dan kekuatan, Zhu Yu!"

 Lalu dengan rakusnya Tuan Chen memakan janin Kinan. Darah segar nampak menetes dari sudut bibirnya yang masih terus mengunyah. Nyonya Ming Qui menatap suaminya dengan jijik. Perlahan diraihnya sebuah samurai yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat dia menghampiri suaminya yang tengah lahap memakan janin Kinan.

"Kau telah menodai ajaran Zhu yu dan kau tak pantas untuk hidup, Chen!" teriak Nyonya Ming Qui sambil mengayunkan samurai itu membabi buta ke arah suaminya.

Crass! Crass! Crass!

Tubuh Tuan Chen pun tersungkur. Kepala dan tubuhnya terkoyak penuh luka menganga. Darah, usus, dan otaknya bercampur menggenangi lantai.

Melihat suaminya terkapar tidak bernyawa, Nyonya Ming Qui pun hanya bisa menangis. Ia masih tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Kini, tidak hanya suaminya yang menjadi pembunuh, tetapi dirinya juga. Namun, Nyonya Ming Qui tidak mau bunuh diri untuk lari dari hukum. Dia akan mempertangjawabkan semua yang telah dia lakukan di hadapan hukum.

Dengan langkah gontai Nyonya Ming Qui meraih ponselnya di atas meja. Perlahan ditekannya beberapa tombol pada layarnya, dan tidak lama kemudian, "Hallo, kantor polisi ...."

Tamat




Tidak ada komentar:

Posting Komentar