Senin, 06 Juli 2015

Akong Kabur (Cerpen)



Tahun baru Imlek sebentar lagi akan tiba. Aku dan majikanku pun sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk perayaan acara itu. Setelah beberapa hari kemarin kami sibuk membersihkan rumah, kali ini kami akan mempersiapkan makanan yang akan dihidangkan untuk para kerabat yang nantinya akan berkunjung ke rumah ini.

"Akong sudah minum obat, Ayu?" tanya nyonya sambil mengeluarkan beberapa plastik berisi bahan-bahan yang akan kami masak, dari dalam kulkas.

"Sudah, Nyonya. Sekarang akong sedang tidur di sofa ruang tamu," jawabku.

"Sekarang baca daging-daging ini ke meja dapur. Aku ajarin kamu memasaknya."

"Baik, Nyonya."

 Hari ini aku dan nyonya berencana memasak daging sapi dan kaki babi bumbu kecap. Karena aku baru satu bulan di sini, maka dengan sabar nyonya mengajariku cara memotong, mencuci, dan memasak dua jenis daging itu, termasuk juga dengan bumbu-bumbunya.

Sambil menunggu daging yang kami masak jadi empuk, kami berencana istirahat sebentar sambil menonton tv. Namun, alangkah terkejutnya kami, saat tidak mendapati akong di ruang tamu. Padahal, setengah jam tadi, dia masih tidur siang dengan pulasnya di sofa. Begitu melihat pintu depan terbuka lebar, kami yakin kalau akong pergi keluar rumah secara diam-diam.

"Yumi, kamu cari akong sampai jalan Ta-Ya. Kalau sampai SD Ta-Ya tidak ketemu, kamu balik ke rumah. Saya akan mencari ke arah danau!" perintah nyonya sambil mengambil kunci mobil.

"Iya, Nyonya. Saya matikan kompor dulu," jawabku.

 Aku langsung berlari ke dapur, untuk mematikan kompor gas. Setelah itu, kami pun berpencar arah sesuai kesepakatan. Sambil setengah berlari aku menyusuri jalanan kompleks. Sial, ternyata cuaca sedang mendung dan aku lupa membawa payung karena terlalu panik. Kira-kira 300 meter dari gerbang kompleks, aku melihat akong berjalan tertatih seorang diri. Segera aku berlari menyusulnya.

"Akong, mau ke mana? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" tanyaku selembut mungkin, tapi akong tidak menjawab. Akong malah mempercepat langkahnya, seolah ingin menghindariku.

"Akong, kita pulang, yuk, mau hujan, nih." Aku kembali mencoba membujuk akong sambil sesekali menarik lengannya, pelan. Namun, akong tetap tidak mempedulikanku. Sedangkan yang aku takutkan sejak tadi, kini jadi kenyataan. Gerimis mulai turun disaat aku belum berhasil membujuk akong untuk kembali ke rumah.

"Akong, hujan, nih. Ayo pulang! Nanti Akong bisa sakit kalau hujan-hujanan." Aku kembali mengajak Akong pulang, tapi dia tetap tidak mau.

"Aku mau ke Bank ambil uang. Uangku ... uangku ...," kata akong berulang kali sambil terus saja berjalan tertatih, dan kini gerimis sudah menjelma menjadi hujan deras.

Akhirnya di bawah guyuran air hujan, kami pun berjalan menyusuri jalan raya. Tidak ada yang bisa aku perbuat, kecuali memegang lengan akong lebih erat lagi supaya dia tidak jatuh. Beberapa tatapan mata dan teriakan dari orang-orang yang berada di teras lobi sebuah apartemen yang tak jauh dari tempat aku dan akong berdiri, seolah menghakimi kebodohanku dalam menjaga akong.

 "Akong, ayo pulang. Ayo, Akong!" Kali ini aku berusaha menarik lengan akong agak kuat, supaya dia mau menuruti kata-kataku. Bukannya menurut, akong malah berontak dan memukuliku dengan membabi buta.

"Aku tidak mau pulang ! Aku mau uangku. Aku mau ambil uangku!" teriak akong sambil terus memukuliku.

Aku mencoba menahan pukulan akong, sambil tetap memegangi lengannya. Tiba-tiba tubuh akong terhuyung ke belakang saat dia berusaha melepaskan pegangan tanganku. Aku berusaha menarik tubuh akong ke depan, supaya dia tidak jatuh ke belakang. Tarik menarik pun tak terelakkan. Tiba-tiba akong mendorongku dengan kuat, dan ....

Brukk!!

Aku dan akong jatuh bersamaan dengan tubuh akong menindihku. Beberapa orang nampak berlari dari arah lobi apartemen sambil membawa payung.

"Kenapa kau biarkan akongmu hujan-hujanan?" tanya seorang wanita bertubuh gemuk.

"Kamu bisa jaga orang tua, tidak, sih? Masak sampai basah kuyup kayak gini?" Seorang laki-laki berpakaian seragam penjaga apartmen ikut memarahiku.

Sambil membantuku dan akong bangkit, mereka terus menyerangku dengan berbagai pertanyaan. Namun, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan mereka. Di samping penguasaan bahasa mandarinku masih kurang, sakit di pantatku lebih menyita pikiranku.

 Untunglah saat itu majikanku datang dengan membawa mobil. Sambil membantu menaikkan akong ke dalam mobil, nyonya menjelaskan kepada orang-orang itu tentang kejadian yang sebenarnya terjadi.

"Ayah saya sudah pikun, dan hari ini kami agak lalai mengawasinya sehingga dia kabur dari rumah. Terima kasih atas bantuannya dan maaf kalau merepotkan kalian semua," kata nyonya sambil membungkukkan badan.

Setelah berpamitan dengan orang-orang yang tadi membantuku dan akong, nyonya pun melajukan mobilnya kembali ke rumah.

"Yumi, kamu tidak apa-apa? Apa ada luka?" tanya nyonya sambil melirikku.

"Tidak, Nyonya. Saya baik-baik saya dan tidak terluka," jawabku.

"Syukulah kalau begitu. Lain kali, kalau saya tidak ada di rumah, kamu harus lebih hati-hati lagi menjaga akong. Mengerti!?"

"Mengerti, Nyonya."

Sampai di rumah, aku dan nyonya langsung memandikan akong dengan air hangat, kemudian menemaninya sampai akong tertidur pulas.

   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar