Rabu, 30 September 2015

DI MANA MAKAMKU?

Malam ini, seperti biasa kudatangi satu per satu pemakaman di daerah Ngaliyan. Sebuah rutinitas yang aku lakukan sejak aku sadar bahwa aku sudah meninggal tapi tak punya makam. Satu per satu kuperiksa nama dan tanggal kematian pada nisan-nisan itu. Namun, kembali aku harus kecewa. Tidak ada satu pun, nama dan tanggal kematiannya yang cocok denganku.

"Kenapa tak kau coba bertanya pada keluargamu? Siapa tahu mereka tahu di mana makammu," bisik angin di antara dedaunan.

"Baiklah, akan aku turuti saranmu. Tapi aku tak tahu di mana rumahku. Bisakah kau terbangkan aku ke rumahku, sekarang?"

Seketika angin berembus kencang, membawaku ke sebuah pandok sederhana di pinggir sebuah desa. Kulihat dua orang manusia sedang tertidur lelap. Seorang laki-laki di kamar depan dan seorang wanita tua di kamar belakang yang kumuh. Rambut wanita tua itu berantakan dan kedua kakinya dipasung pada sebuah balok kayu.

"Apakah mereka itu keluargaku?" tanyaku ragu, karena aku tidak mengenali wajah kedua manusia itu.

"Tentu saja mereka itu keluargamu," jawab angin bergemuruh.

Aku mendekati laki-laki itu dan memasuki ruang paling kedap-nya, ruang mimpi.

"Nak, apakah kamu tahu di mana makamku?" tanyaku selembut mungkin padanya, tapi dia seolah marah dan mendorong tubuhku dengan keras.

"Apa?! Makam?! Jangankan menunjukkan makammu, mengakuimu sebagai bapak pun aku tak sudi. Gara-gara dirimu, emak menjadi gila dan orang-orang mengucilkan kami. Dasar kau PKI! Pergiii ...!"

Aku keluar dari ruang mimpi laki-laki itu dengan bingung. Aku hanya menanyakan makamku, tapi kenapa dia memarahi, mengusir, dan menuduhkuku sebagai anggota PKI, sama seperti orang-orang yang telah membunuhku dulu? Belum juga kutemukan jawaban, angin menyeretku ke kamar belakang yang kumuh tempat wanita tua itu berbaring.

"Tanyakan padanya, mungkin dia tahu di mana makammu," bisik angin.

Aku kembali masuk ke ruang paling kedap, ruang mimpi. Begitu melihat kedatanganku, wanita itu langsung menghambur padaku. Dengan berderai air mata, diciuminya punggung tangan kananku.

"Assalamualaikum, Pak, kenapa baru sekarang sampeyan datang? Aku kangen banget sama sampeyan."

"Aku datang padamu karena aku ingin bertanya, apakah kamu tahu di mana letak makamku?" tanyaku pelan.

"Dari kabar yang aku terima, mereka membunuh sampeyan di bukit sebelah barat, di hutan bambu, Pak. Aku tidak tahu pasti persisnya di mana karena sampai sekarang, mereka tidak mengizinkanku pergi ke sana."

"Berarti aku dikubur di hutan bambu tanpa nisan?" tanyaku setengah berguman.

"Njih, Pak," jawab wanita itu dalam isaknya. Belum sempat kuulurkan tanganku untuk menyeka air matanya, tiba-tiba angin berteriak dari celah-celah dinding.

"Cepatlah pergi, sebelum subuh menjelang!"

Tanpa pamit, aku keluar dari ruang mimpi wanita itu dan mengikuti embusan angin menuju hutan bambu di bukit sebelah barat.

"Di sini, kan, kuburan masal orang-orang yang diduga anggota PKI. Kasihan, ya, mereka," kata salah satu peronda pada temannya saat melintas di dekat kebun bambu, ketika aku tiba di sana.

Chiai, 30 September 2015



ANTARA BAKTI DAN PENGABDIAN




Dengan lesu Ryan naik ke atas mobil truk bersama teman-temannya. Hari ini sebanyak 2 truk anggota sat-pol PP dikerahkan untuk melakukan penggusuran PKL di kawasan kota tua. Ini adalah tugas pertama Ryan sejak dia diterima menjadi anggota sat-pol PP tiga hari yang lalu.

Sepanjang perjalanan, Ryan berkali-kali mencoba menghubungi seseorang lewat ponselnya. Keringat dingin membasahi wajahnya yang terlihat sangat cemas, manakala telponnya tidak di angkat-angkat.

'Dek, ayo angkat! Kita harus bantu ibu!' teriak hati Ryan berkali-kali sambil terus menekan nomer telpon adiknya.

"Ayo, turun! Turun! Tertibkan semua lapak di sini!" teriak komandan sat-pol PP memberi perintah.

Ryan bergegas turun dan langsung berlari ke arah para pedagang kaki lima yang sudah kalang kabut menyelamatkan barang dagangan mereka. Mata Ryan yang tajam mencoba mencari ibunya, yang hari ini berjualan soto di kawasan kota tua ini. Ryan merasa hatinya bagai diiris sembilu, manakala melihat sosok yang dicarinya tengah bersimpuh sambil mendekap sebuah bakul nasi. Lutut wanita tua itu tampak mengeluarkan darah segar.

***
Antara berbakti dan pengabdian.

Sisahkan tanya pada setiap insan.
Kami bukanlah hewan-hewan buruan.
Hanya ingin mencicipi manisnya kue kemerdekaan.
Dimana kami bisa menikmatinya Tu(h)an.
Jika bukan hanya dipelataran jalan.
Sementara mall dan swalayan tak sanggup kami impikan.
Bagai punguk merindukan bulan.
***

"Jangan ambil dagangan saya, Pak. Saya mohon, Pak ... jangan ambil, Pak ...."

"Makanya, kalau sudah di kasih peringatan itu jangan bandel!" teriak dua orang anggota sat-pol PP sambil mengangkut barang-barang lainnya.

"Ibu ...." Ryan berlari menghampiri ibunya. Dipeluknya tubuh wanita yang telah membesarkannya itu.

"Ryan? Kamu juga ada di sini, Nak?"

"Ibu, maafkan Ryan. Ryan tidak tahu kalau tempat ini akan ditertibkan."

"Tidak apa-apa, Nak. Ibu tidak menyalahkanmu. Lakukanlah tugasmu dan ibu akan selalu bangga padamu." Perlahan sang ibu melepaskan pelukan Ryan dan berjalan tertatih menjauhi kawasan kota tua, sambil mendekap bakul nasinya.

Chiayi, 18 September 2015


QURBAN YANG DIKORBANKAN

Selesai ber-zikir setelah sholat Dzuhur, Bu Pasirah segera menuju teras depan rumahnya. Kemudian dia duduk di atas bale-bale bambu sambil memegang dua buah undangan. Matanya menatap lurus ke ujung jalan, menanti kedatangan suaminya dari masjid, dengan cemas.


Hari ini, bertepatan dengan perayaan hari raya Idul Adha, ada dua buah undangan pernikahan yang harus dihadiri Bu Pasirah. Salah satunya masih terbilang saudara dekat. Jadi, tidak enak rasanya kalau tidak datang.


Memenuhi undangan pernikahan, bukan hal yang mudah buat Bu Pasirah, saat ini. Uang hasil kerja suaminya sebagai buruh penggarap sawah dan uang hasil dari menjual sapu lidi yang dibuatnya sendiri, sering kali kurang untuk biaya hidup sehari-hari. Belum lagi kalau penyakit asam urat suaminya kambuh, tidak ada lagi orang yang membantunya mencari pelepah kelapa.


"Bu, lihat! Aku sudah bikin tusuk sate yang banyak. Nanti, daging qurban-nya kita bikin sate, kan, Bu?" Aisya, gadis manis berusia 8 tahun itu meletakkan seikat tusuk sate di samping ibunya, sebelum dia berlari ke ujung jalan menyambut kedatangan bapaknya. Sebuah plastik kresek kecil warna hitam, segera dibawanya ke dapur.


"Bagaimana daging qurban-nya, Pak?" tanya Bu Pasirah penuh harap.


"Alhamdulillah, bisa, Bu. Ini uangnya, pergilah kondangan sekarang." Pak Rozak menyerah dua lembar uang dua puluhan ribu kepada istrinya.


"Bapak ...! Ibu ...! Kenapa semuanya hanya tulang dan tidak ada dagingnya? Bagaimana Ais bisa bikin sate?" Aisya berlari dari arah dapur sambil membawa panci yang berisi tulang-belulang.


"Ais, bikin satenya tahun depan saja, ya, Sayang." Pak Rozak membungkukkan badannya setinggi badan Aisya. Dengan lembut dibelainya rambut anak semata wayangnya itu. "Sebaiknya sekarang Ais mandi dan ganti baju. Kali ini Ais boleh ikut ibu kondangan."


"Tapi, Pak, Ais pengen sate ...."


Pak Rozak dan Bu Pasirah saling berpandangan. Bagaimana mereka harus menjelaskan pada si kecil, kalau daging qurban yang mereka dapat terpaksa harus dijual, karena mereka butuh uang untuk kondangan. Bagi mereka, tidak masalah jika mereka tidak makan daging, asalkan silaturahmi dengan saudara tetap terjaga.


Chiayi, 24 September 2015