Kamis, 19 November 2015

NARASI LELAKI TUA



Lelaki tua itu tergolek lemah dan tak berdaya. Mata rabunnya menatap nanar dinding dan langit-langit kamarnya, yang menjadi saksi perjuangan sang istri tercinta, saat melahirkan putra pertama mereka. Teriakan kesakitan sang istri yang memenuhi penjuru kamar, seolah mengoyak rasa bersalahnya karena tidak punya uang untuk membawa istrinya ke bidan. Namun, tangis keras dari sang jabang bayi, telah menorehkan sejarah indah dalam hidupnya. Dia telah menjadi seorang bapak.

Di kamar ini pula keriangan dan canda tawa anak-anaknya terukir. Bahkan aroma wangi bunga melati saat dia mencium kening anak perempuannya, sesaat sebelum ijab kabul, masih bisa dia rasakan.

Tahun berganti. Anak-anak mereka menikah dan membina keluarga di kota. Kamar itu pun kembali sepi saat semua anak-anaknya sudah jarang pulang mengunjunginya.

"Apa lebaran kali ini mereka juga tidak bisa pulang lagi, Pak?" tanya istrinya setiap kali mushola samping rumahnya mulai mengumandangkan takbir.

"Mungkin mereka sibuk, Bu. Sabar, ya," jawab lelaki itu mencoba menenangkan istrinya. Padahal dia sendiri sibuk meredam segumpal rindu yang menyesakkan dadanya. Hingga sang istri mengembuskan napas terakhirnya di kamar ini, anak-anak pun tak ada yang pulang.

Satu per satu kenangan indah di kamar itu coba dia putar di antara desah napas yang semakin berat.

"Mbah! Mbah Mangsur! Mbah ...!"

"Pintunya terkunci! Ayo kita dobrak saja!"

Satu per satu tetangga masuk dan mengerumuni jasad lelaki tua yang mulai dingin itu.

"Innalillahi wainnaillahirojiun ... Sudah tiga hari beliau tidak terlihat di mushola. Ternyata ...."


Chiayi, November 2015



Rabu, 18 November 2015

MENJEMPUT MAUT

Menjemput Maut
Penulis: Disyak Ayummy

Tak! Tak! Tak!

Aku menggeliat, saat kurasakan sakit yang teramat sangat pada kedua telapak tanganku. Rasa sakit itu begitu cepat merambati serta meluluhlantakkan seluruh tulang dan persendian tanganku. Sepertinya mereka sedang memaku telapak tanganku pada sebuah kayu. Namun, tak ada yang bisa aku perbuat untuk menghentikan perbuatan mereka--suamiku dan wanita simpanannya, Elena.

Tiga hari sudah aku dikurung di gudang, tanpa makanan dan minuman. Kedua kakiku di rantai, kedua kelopak mata dan bibirku dijahit. Kadang aku dipukuli, disayat, lalu disiram dengan air garam.

Sejak kehadiran Elena di rumah ini sebulan lalu, bukan hanya kehidupan rumahtanggaku yang hancur, tapi dia juga berniat menyingkirkan aku dari rumah ini.

"Mmhh ...," leguhku menahan sakit.

"Tuh, benar, kan, apa kataku. Istrimu ini adalah titisan iblis. Buktinya, sudah kita siksa kayak gini, masih saja tetap hidup. Pantas saja karirmu tidak bagus, di kantor." Suara Elena samar terdengar. Ternyata dia sudah berhasil menghasut suamiku dengan karangan mistiknya, tentangku.

"Apa tidak sebaiknya langsung kita bunuh saja dia, supaya aku lekas naik jabatan?"

"Sabar, Sayang. Biarkan aku bermain-main sebentar dengannya. Aku ingin tahu, sekuat apa dia bisa bertahan."

Dug!

Kurasakan sesuatu yang keras menghantam kepalaku sebelum langkah kaki mereka terdengar menjauh. Perlahan kepalaku terasa semakin berat, dada sesak, dan aku sulit bernapas. Kedua tangan dan kakiku pun mati rasa.

'apakah aku akan mati? Kalau memang ini akhir hidupku, permudah aku menuju jalan-Mu ya Allah.' Aku terus berdoa dalam rasa sakit yang semakin menyiksa. Dalam kepasrahan menjemput maut, tiba-tiba kurasakan ada yang mengangkat tubuhku.

"Ya, Allah, Mbak Dhiaz! Cepat, Pak! Cepat bawa ke rumah sakit!"

Suara-suara itu semakin samar seiring rasa sakit yang tiba-tiba hilang. Kini aku merasa tubuhku ringan, melayang, tanpa rasa sakit. Aku bahkan bisa melihat para polisi dan keluargaku yang tengah membopong ragaku ke dalam ambulan. Juga suamiku dan Elena yang digiring ke mobil polisi.

Chiayi, 17 November 2015



TAKDIRKU. (PUISI)

Takdirku


Di dunia nyata, maya
Semua orang menghujatku
Menyumpah serapah
Doadoa terburuk terlontar padaku
Hinaan dan cacian mengalir sederas tanpa jeda

Aku tahu ini tak mudah
Menjadi orang ketiga di mahligai mereka
Tapi, rasa ini terlanjur merasuk ke dalam jiwa
Aku mencintainya
Meski dia sudah berkeluarga
Aku akan merebutnya

Aku yakin ini takdirku
Dipertemukan dengannya; cintaku
Aku tak perduli ada hati yang terluka
Yang penting; aku bahagia

Chiayi, 16 November 2015



PILIHAN HATI



Kuparkir mobilku di depan sebuah rumah megah berlantai dua, bercat kuning gading. Rumah itu tidak banyak berubah sejak aku tinggalkan delapan tahun silam. Kenangan terakhirku di rumah itu pun, seketika terputar ulang di benakku.

Plakk....!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku, begitu aku memalingkan wajah dari cermin karena suara panggilan. Di depanku, ayah berkacak pinggang dengan pandangan penuh amarah. Segera kuhapus riasan di wajahku dan melepas sepatu Mama yang aku pakai.

"Mau jadi apa kamu? Kamu sengaja ingin menghancurkan nama baik dan martabat Ayah, ya?" teriak ayah dengan tangan yang siap terayun lagi ke arahku.

"Sudah, Ayah, jangan tampar Carlo lagi." Mama menarik tanganku ke belakang tubuh mungilnya, saat Ayah hendak menamparku lagi. Sementara aku hanya menundukkan di belakang tubuh Mama sambil menahan sakit di pipi kiriku.

"Kau tahu, sudah berapa banyak uang yang aku keluarkan untuk kampanye pencalonanku? Siapa yang akan memilihku kalau mereka tahu anakku ternyata adalah seorang banci seperti ini?" Suara Ayah yang semakin meninggi, membuatku semakin menggigil ketakutan.

"Tapi memukul Carlo bukanlah jalan keluar yang tepat, Ayah. Kita bisa cari jalan yang lain," bujuk Mama mencoba menenangkan Ayah.

Sesuai musyawarah keluarga, aku pun harus rela keluar dari keluarga, daerah, juga negaraku demi nama baik Ayah. Aku tidak peduli. Inilah pilihan hatiku, menjadi diri aku sendiri.

Dulu, aku pernah menyesal dilahirkan dengan raga seperti ini. Sehingga aku diam-diam merubah diri sesuai jiwaku. Aku berharap kedua orangtuaku bisa menerima perubahan fisikku, dan tidak memandangku seperti sampah. Namun, ternyata mereka menyingkirkanku hingga aku harus berusaha sendiri meniti hidup.

"Miss Carla, para model sudah menunggumu di hotel untuk gladi bersih," bisik Keyla, asistenku, yang langsung memupus lamunanku.

"Beri waktu aku sebentar untuk menyerahkan undangan ini kepada orangtuaku. Aku ingin mereka tahu, bahwa kini aku bisa meraih prestasi jadi desainer terkenal, dengan raga yang berubah ini." Kutarik napas panjang sebelum turun dari mobil dan kulangkahkan kaki dengan mantap menuju pintu gerbang rumah ayahku.

Chiayi, 11 November 2015



PAK BANDI




Sudah tiga hari ini para penghuni komplek, terutama ibu-ibu mengeluhkan bau sampah di rumah mereka. Semua itu karena Pak Bandi yang biasa mengambil sampah mereka sedang sakit.

Lima tahun sudah Pak Bandi dipekerjakan pak RW sebagai pengambil sampah warga. Latar belakang Pak Bandi yang mantan narapidana dan pekerjaannya sebagai pengangkut sampah, membuatnya dipandang sebelah mata bahkan sinis, oleh para warga.

"Bagaimana kalau kita iuran untuk membawa Pak Bandi ke rumah sakit. Bagaimanapun juga, dia salah satu orang yang berjasa di komplek kita. Tanpa dia, sekarang komplek kita jadi kotor dan bau," kata pak RW di hadapan warga.

"Setuju, Pak! Setujuuu ...!" sahut para warga antusias.

Sore itu juga beberapa warga membawa Pak Bandi sang pahlawan kebersihan untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Chiayi, 10 November 2015




DIA PAHLAWAN KITA



Sudah sejak satu jam yang lalu para pelayat meninggalkan pemakaman. Namun, Tarno bersama putrinya, Arum, yang berusia 8 tahun, masih belum beranjak dari makam Sulastri, Istrinya yang meninggal di Taiwan, karena kecelakaan kerja.

"Pak, kata orang-orang, ibu adalah Pahlawan Devisa. Kenapa ibu dimakamkan di sini dan bukan di Taman Makam Pahlawan?" tanya Arum setengah berbisik.

"Arum, tanpa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan pun, ibumu tetaplah seorang pahlawan. Pahlawan buat keluarga kita, yang akan selalu kita kenang, selamanya, di sini," jawab Tarno sambil menunjuk dadanya dan dada Arum

Chiayi, 10 November 2015

Sabtu, 10 Oktober 2015

MANJINGNYA ARWAH DELIA

Gerhana bulan yang sedang berlangsung, membuat suasana di pemakaman umum Desa Kidung, perlahan semakin gelap dan mencekam. Embusan angin menebar wangi bunga kenanga dan mawar dari makam Delia yang tanahnya masih basah. Perlahan gundukan tanah makam itu bergetar, mengugurkan bunga-bunga yang bertaburan di atasnya. Seberkas sinar dari dalam makam seolah membelah tanah dan merekah semakin besar. Tidak berapa lama kemudian, gumpalan asap tampak keluar dari dalam makam Delia dan membentuk sebuah sosok manusia.

Dari balik pohon besar, tampak seorang laki-laki berjalan tertatih mendekati makam Delia sambil memanggul sesuatu. Dengan hati-hati diletakkannya sesuatu yang tadi dipanggulnya, yang tak lain adalah tubuh seorang wanita, di samping makam Delia.

"Delia, bapak datang, Sayang. Ini bapak bawakan media agar kamu bisa terlahir lagi ke dunia. Masuklah ke dalam rahim wanita, Anakku," kata laki-laki itu, yang tak lain adalah Ki Mangun, bapaknya Delia sambil duduk bersimpuh di dekat tubuh wanita tadi yang tergolek pingsan. Mulut Ki Mangun berkomat-kamit membaca mantra.

Gumpalan asap di atas makam Delia yang membentuk sosok manusia tadi, bergerak mendekati bapaknya. Kemudian gumpalan asap itu perlahan masuk ke dalam perut wanita yang masih pingsan itu.

"Ha ha ha ha ....! Bagus anakku. Manjinglah ... manjinglah sukna sari di rahim suci. Manjinglah ...." Ki Mangun itu terus-menerus membaca mantra sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Eeggrhh ... egghh ...," rintih wanita itu saat mulai tersadar dari pingsannya. Belum lagi dia sadar sepenuhnya, wanita itu merasakan sesuatu yang bergerak-gerak dalam perutnya. Kedua tangannya memegang perutnya yang semakin membesar dan membesar.

"Aarrgghh ... tidaakk! Sa-sakiiit ...! Aarrgghh ...! teriak wanita itu kesakitan.

Melihat hal itu, Ki Mangun langsung mengambil sebuah belati dari balik bajunya. Dengan kasar, disibaknya baju wanita itu dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya membelah perut wanita itu dengan belati.

"Ja-jangan ... aarrgghh ...."

Darah segar bercampur potongan usus menggalir membasahi tubuh wanita itu seiring nyawanya yang terlepas dari raganya. Ki Mangun langsung mengambil jabang bayi dari perut wanita itu sekaligus memotong tali pusarnya.

"Selamat datang kembali ke dunia, Anakku," kata Ki Mangsur sambil membungkus tubuh bayi perwujudan Delia itu dengan bajunya. Sebuah seringai menghiasi bibirnya saat meninggalkan pemakaman itu.

Chiayi, 2 September 2015



Rabu, 30 September 2015

DI MANA MAKAMKU?

Malam ini, seperti biasa kudatangi satu per satu pemakaman di daerah Ngaliyan. Sebuah rutinitas yang aku lakukan sejak aku sadar bahwa aku sudah meninggal tapi tak punya makam. Satu per satu kuperiksa nama dan tanggal kematian pada nisan-nisan itu. Namun, kembali aku harus kecewa. Tidak ada satu pun, nama dan tanggal kematiannya yang cocok denganku.

"Kenapa tak kau coba bertanya pada keluargamu? Siapa tahu mereka tahu di mana makammu," bisik angin di antara dedaunan.

"Baiklah, akan aku turuti saranmu. Tapi aku tak tahu di mana rumahku. Bisakah kau terbangkan aku ke rumahku, sekarang?"

Seketika angin berembus kencang, membawaku ke sebuah pandok sederhana di pinggir sebuah desa. Kulihat dua orang manusia sedang tertidur lelap. Seorang laki-laki di kamar depan dan seorang wanita tua di kamar belakang yang kumuh. Rambut wanita tua itu berantakan dan kedua kakinya dipasung pada sebuah balok kayu.

"Apakah mereka itu keluargaku?" tanyaku ragu, karena aku tidak mengenali wajah kedua manusia itu.

"Tentu saja mereka itu keluargamu," jawab angin bergemuruh.

Aku mendekati laki-laki itu dan memasuki ruang paling kedap-nya, ruang mimpi.

"Nak, apakah kamu tahu di mana makamku?" tanyaku selembut mungkin padanya, tapi dia seolah marah dan mendorong tubuhku dengan keras.

"Apa?! Makam?! Jangankan menunjukkan makammu, mengakuimu sebagai bapak pun aku tak sudi. Gara-gara dirimu, emak menjadi gila dan orang-orang mengucilkan kami. Dasar kau PKI! Pergiii ...!"

Aku keluar dari ruang mimpi laki-laki itu dengan bingung. Aku hanya menanyakan makamku, tapi kenapa dia memarahi, mengusir, dan menuduhkuku sebagai anggota PKI, sama seperti orang-orang yang telah membunuhku dulu? Belum juga kutemukan jawaban, angin menyeretku ke kamar belakang yang kumuh tempat wanita tua itu berbaring.

"Tanyakan padanya, mungkin dia tahu di mana makammu," bisik angin.

Aku kembali masuk ke ruang paling kedap, ruang mimpi. Begitu melihat kedatanganku, wanita itu langsung menghambur padaku. Dengan berderai air mata, diciuminya punggung tangan kananku.

"Assalamualaikum, Pak, kenapa baru sekarang sampeyan datang? Aku kangen banget sama sampeyan."

"Aku datang padamu karena aku ingin bertanya, apakah kamu tahu di mana letak makamku?" tanyaku pelan.

"Dari kabar yang aku terima, mereka membunuh sampeyan di bukit sebelah barat, di hutan bambu, Pak. Aku tidak tahu pasti persisnya di mana karena sampai sekarang, mereka tidak mengizinkanku pergi ke sana."

"Berarti aku dikubur di hutan bambu tanpa nisan?" tanyaku setengah berguman.

"Njih, Pak," jawab wanita itu dalam isaknya. Belum sempat kuulurkan tanganku untuk menyeka air matanya, tiba-tiba angin berteriak dari celah-celah dinding.

"Cepatlah pergi, sebelum subuh menjelang!"

Tanpa pamit, aku keluar dari ruang mimpi wanita itu dan mengikuti embusan angin menuju hutan bambu di bukit sebelah barat.

"Di sini, kan, kuburan masal orang-orang yang diduga anggota PKI. Kasihan, ya, mereka," kata salah satu peronda pada temannya saat melintas di dekat kebun bambu, ketika aku tiba di sana.

Chiai, 30 September 2015



ANTARA BAKTI DAN PENGABDIAN




Dengan lesu Ryan naik ke atas mobil truk bersama teman-temannya. Hari ini sebanyak 2 truk anggota sat-pol PP dikerahkan untuk melakukan penggusuran PKL di kawasan kota tua. Ini adalah tugas pertama Ryan sejak dia diterima menjadi anggota sat-pol PP tiga hari yang lalu.

Sepanjang perjalanan, Ryan berkali-kali mencoba menghubungi seseorang lewat ponselnya. Keringat dingin membasahi wajahnya yang terlihat sangat cemas, manakala telponnya tidak di angkat-angkat.

'Dek, ayo angkat! Kita harus bantu ibu!' teriak hati Ryan berkali-kali sambil terus menekan nomer telpon adiknya.

"Ayo, turun! Turun! Tertibkan semua lapak di sini!" teriak komandan sat-pol PP memberi perintah.

Ryan bergegas turun dan langsung berlari ke arah para pedagang kaki lima yang sudah kalang kabut menyelamatkan barang dagangan mereka. Mata Ryan yang tajam mencoba mencari ibunya, yang hari ini berjualan soto di kawasan kota tua ini. Ryan merasa hatinya bagai diiris sembilu, manakala melihat sosok yang dicarinya tengah bersimpuh sambil mendekap sebuah bakul nasi. Lutut wanita tua itu tampak mengeluarkan darah segar.

***
Antara berbakti dan pengabdian.

Sisahkan tanya pada setiap insan.
Kami bukanlah hewan-hewan buruan.
Hanya ingin mencicipi manisnya kue kemerdekaan.
Dimana kami bisa menikmatinya Tu(h)an.
Jika bukan hanya dipelataran jalan.
Sementara mall dan swalayan tak sanggup kami impikan.
Bagai punguk merindukan bulan.
***

"Jangan ambil dagangan saya, Pak. Saya mohon, Pak ... jangan ambil, Pak ...."

"Makanya, kalau sudah di kasih peringatan itu jangan bandel!" teriak dua orang anggota sat-pol PP sambil mengangkut barang-barang lainnya.

"Ibu ...." Ryan berlari menghampiri ibunya. Dipeluknya tubuh wanita yang telah membesarkannya itu.

"Ryan? Kamu juga ada di sini, Nak?"

"Ibu, maafkan Ryan. Ryan tidak tahu kalau tempat ini akan ditertibkan."

"Tidak apa-apa, Nak. Ibu tidak menyalahkanmu. Lakukanlah tugasmu dan ibu akan selalu bangga padamu." Perlahan sang ibu melepaskan pelukan Ryan dan berjalan tertatih menjauhi kawasan kota tua, sambil mendekap bakul nasinya.

Chiayi, 18 September 2015


QURBAN YANG DIKORBANKAN

Selesai ber-zikir setelah sholat Dzuhur, Bu Pasirah segera menuju teras depan rumahnya. Kemudian dia duduk di atas bale-bale bambu sambil memegang dua buah undangan. Matanya menatap lurus ke ujung jalan, menanti kedatangan suaminya dari masjid, dengan cemas.


Hari ini, bertepatan dengan perayaan hari raya Idul Adha, ada dua buah undangan pernikahan yang harus dihadiri Bu Pasirah. Salah satunya masih terbilang saudara dekat. Jadi, tidak enak rasanya kalau tidak datang.


Memenuhi undangan pernikahan, bukan hal yang mudah buat Bu Pasirah, saat ini. Uang hasil kerja suaminya sebagai buruh penggarap sawah dan uang hasil dari menjual sapu lidi yang dibuatnya sendiri, sering kali kurang untuk biaya hidup sehari-hari. Belum lagi kalau penyakit asam urat suaminya kambuh, tidak ada lagi orang yang membantunya mencari pelepah kelapa.


"Bu, lihat! Aku sudah bikin tusuk sate yang banyak. Nanti, daging qurban-nya kita bikin sate, kan, Bu?" Aisya, gadis manis berusia 8 tahun itu meletakkan seikat tusuk sate di samping ibunya, sebelum dia berlari ke ujung jalan menyambut kedatangan bapaknya. Sebuah plastik kresek kecil warna hitam, segera dibawanya ke dapur.


"Bagaimana daging qurban-nya, Pak?" tanya Bu Pasirah penuh harap.


"Alhamdulillah, bisa, Bu. Ini uangnya, pergilah kondangan sekarang." Pak Rozak menyerah dua lembar uang dua puluhan ribu kepada istrinya.


"Bapak ...! Ibu ...! Kenapa semuanya hanya tulang dan tidak ada dagingnya? Bagaimana Ais bisa bikin sate?" Aisya berlari dari arah dapur sambil membawa panci yang berisi tulang-belulang.


"Ais, bikin satenya tahun depan saja, ya, Sayang." Pak Rozak membungkukkan badannya setinggi badan Aisya. Dengan lembut dibelainya rambut anak semata wayangnya itu. "Sebaiknya sekarang Ais mandi dan ganti baju. Kali ini Ais boleh ikut ibu kondangan."


"Tapi, Pak, Ais pengen sate ...."


Pak Rozak dan Bu Pasirah saling berpandangan. Bagaimana mereka harus menjelaskan pada si kecil, kalau daging qurban yang mereka dapat terpaksa harus dijual, karena mereka butuh uang untuk kondangan. Bagi mereka, tidak masalah jika mereka tidak makan daging, asalkan silaturahmi dengan saudara tetap terjaga.


Chiayi, 24 September 2015


Jumat, 10 Juli 2015

Lebaran Ke Delapan



Gema takbir menandai berakhirnya bulan ramadhan. Desa Kenanga yang biasanya sepi di malam hari, kini terlihat semarak dan ramai dengan pawai obor dalam takbir keliling.

Bu Karmi masih saja berdiri di depan rumahnya, meski iring-iringan pawai obor sudah satu jam yang lalu berlalu.

"Ini sudah lebaran ke delapan. Kenapa kau tak juga pulang, Nak? Apa kau tidak kangen sama emakmu ini?" Bu Karmi mengusap air matanya dan masuk ke dalam gubuk reotnya.

"Mak, aku pulang, Mak. Aku kangen banget sama Emak," kata sosok yang melayang di atap rumah Bu Karmi.

Chiayi, 8 July 2015




Senin, 06 Juli 2015

ZHU YU (Cerpen)



Perempuan mana yang bisa dengan mudah menerima kenyataan bahwa dirinya diperkosa, apalagi sampai hamil. Sedih, malu, takut, dan menimbulkan trauma yang begitu kuat, itulah yang kini terjadi pada Kinan. Gadis korban perkosaan yang tidak lulus SD itu, kini hanya bisa mengurung diri di kamarnya. Dia tidak berani keluar rumah, karena di dalam perutnya kini telah bersemayam janin berusia dua bulan, akibat tragedi perkosaan itu.

 Kedua orangtua Kinan yang hanya berprofesi sebagai pemulung sampah, sudah berusaha menempuh jalur hukum atas apa yang menimpa putrinya. Namun, semuanya tiada arti. Selain kurangnya barang bukti, para pelaku yang merupakan anak para pejabat itu sepertinya kebal terhadap hukum. Jangankan masuk persidangan, dalam pemeriksaan polisi saja mereka dinyatakan tidak bersalah.

Untunglah ada sepasang suami-istri dari kalangan berada, yang bersedia untuk mengadopsi anaknya Kinan jika lahir nanti. Mereka adalah Tuan Chen dan Nyonya Ming Qui. Pasangan suami-istri ini sudah sepuluh tahun berumah tangga, tetapi belum dikaruniai anak. Begitu mendapat persetujuan dari Kinan dan kedua orangtuanya, Tuan Chen dan Nyonya Ming Qiu lalu meminta Kinan untuk tinggal bersama dengan mereka. Alasannya supaya bisa memantau perkembangan serta kesehatan Kinan dan bayinya.

Kini, seminggu lebih sudah Kinan tinggal di rumah keluarga Chen. Penampilannya yang dulu lusuh tidak terurus, kini sudah berubah jadi lebih bersih dan terawat. Depresi yang dulu pernah membelenggunya, perlahan tapi pasti sudah mulai berkurang. Kinan merasa sangat beruntung bisa tinggal di rumah keluarga Chen. Apapun kebutuhan dan keinginannya, semuanya dijamin terpenuhi. Mulai dari makanan, pakaian, perhiasan, dan juga pemeriksaan kesehatan dia dan calon bayinya. Tuan Chen dan istrinya memang sangat memanjakan Kinan.

Malam ini, Kinan kembali dimanjakan dengan berbagai suguhan di meja makan. Segala macam masakan kesukaan Kinan tersedia di sana.

"Wah, banyak sekali makanannya. Seperti sebuah pesta saja." Kinan mengamati makanan yang tersedia di meja, satu per satu. Mulai dari nasi, sayur, sup, lauk pauk, aneka buah, sampai aneka minuman.

"Ini memang sebuah pesta, Kinan. Pesta kecil untuk merayakan usia kandunganmu yang sudah menginjak tiga bulan," jelas Tuan Chen sambil mempersilahkan Kinan duduk.

Setelah Kinan duduk, Tuan Chen lalu menuang sebuah sup ke dalam sebuah mangkuk, dan menyodorkannya kepada Kinan.

"Makanlah ini dulu sebagai hidangan pembuka, Kinan. Setelah habis, baru kamu boleh memakan apapun yang kamu suka," kata Tuan Chen sambil menaruh sendok ke dalam mangkuk.

"Terima kasih, Tuan, Nyonya."

 Tanpa ragu dan malu, Kinan langsung menyantap sup jagung tersebut hingga habis. Kemudian dia beralih ke ayam goreng yang menjadi kesukaannya. Belum juga paha ayam yang dimakannya habis, Kinan merasakan kepalanya tiba-tiba terasa sakit sekali. Kinan memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Pandangan Kinan perlahan mulai kabur dan dia pun pingsan dengan kepala terkulai di atas meja. Melihat Kinan pingsan, Tuan Chen pun tersenyum penuh kemenangan. Segera dia rebahkan tubuh Kinan yang pingsan di atas lantai.

"Apa yang telah kamu lakukan terhadap gadis ini, Chen? Kenapa dia sampai pingsan?" tanya Nyonya Ming Qui yang kebingungan melihat keadaan Kinan dan tingkah laku suaminya.

"Tentu saja aku akan melakukan apa yang telah Zhu Yu ajarkan. Memakan janin berusia tiga bulan beserta plasentanya, langsung dari rahim ibunya," jawab Tuan Chen sambil mengambil pisau daging yang sudah dia persiapkan sebelumnya.

"Gila kamu! Kita membawa dia ke sini untuk mengadopsi anaknya, bukan untuk kau jadikan obat dari sakitmu. Ingat, Chen! Zhu Yu hanya menyuruh makan janin yang sudah dimasak, bukan janin yang masih hidup!" teriak Nyonya Ming Qiu mencoba menghalangi niat suaminya.

"Aku sudah banyak makan sup janin yang kita beli dari tempat aborsi, tapi apa hasilnya? Aku tetap saja impoten dan punyaku tidak bisa berdiri lama. Aku tidak ingin begini terus! Aku ingin menjadi lelaki yang kuat dan perkasa!" teriak Tuan Chen sambil menyibak baju Kinan.

Nyonya Ming Qui langsung memegangi tangan Tuan Chen yang hendak membelah perut Kinan. Namun dengan beringas Tuan Chen mengibaskan tangannya, dan mendorong tubuh Nyonya Ming Qiu hingga tersungkur.

"Minggir, kau! Aku melakukan semua ini demi kelangsungan marga Chen. Aku ingin punya anak dari benihku sendiri!" Dengan penuh nafsu, Tuan Chen mulai membelah perut Kinan dengan pisau yang digenggamnya. Darah segar langsung mengalir deras dari perut Kinan dan menggenangi lantai di sekitar tubuhnya. Tanpa rasa jijik, kemudian Tuan Chen menarik segumpal daging yang berlumuran darah dari dalam perut Kinan. Seringai licik terlihat dari sudut bibirnya.

"Kau benar-benar bukan manusia, Chen! Kau iblis, setan ...!" teriak Nonya Ming Qui sambil beringsut menjauh.

Tuan Chen sama sekali tidak menghiraukan teriakan istrinya itu. Dia mengangkat janin itu tinggi-tinggi sembari berucap, "Dengan janin dan plasenta ini, berilah aku kesembuhan dan kekuatan, Zhu Yu!"

 Lalu dengan rakusnya Tuan Chen memakan janin Kinan. Darah segar nampak menetes dari sudut bibirnya yang masih terus mengunyah. Nyonya Ming Qui menatap suaminya dengan jijik. Perlahan diraihnya sebuah samurai yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat dia menghampiri suaminya yang tengah lahap memakan janin Kinan.

"Kau telah menodai ajaran Zhu yu dan kau tak pantas untuk hidup, Chen!" teriak Nyonya Ming Qui sambil mengayunkan samurai itu membabi buta ke arah suaminya.

Crass! Crass! Crass!

Tubuh Tuan Chen pun tersungkur. Kepala dan tubuhnya terkoyak penuh luka menganga. Darah, usus, dan otaknya bercampur menggenangi lantai.

Melihat suaminya terkapar tidak bernyawa, Nyonya Ming Qui pun hanya bisa menangis. Ia masih tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Kini, tidak hanya suaminya yang menjadi pembunuh, tetapi dirinya juga. Namun, Nyonya Ming Qui tidak mau bunuh diri untuk lari dari hukum. Dia akan mempertangjawabkan semua yang telah dia lakukan di hadapan hukum.

Dengan langkah gontai Nyonya Ming Qui meraih ponselnya di atas meja. Perlahan ditekannya beberapa tombol pada layarnya, dan tidak lama kemudian, "Hallo, kantor polisi ...."

Tamat




Akong Kabur (Cerpen)



Tahun baru Imlek sebentar lagi akan tiba. Aku dan majikanku pun sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk perayaan acara itu. Setelah beberapa hari kemarin kami sibuk membersihkan rumah, kali ini kami akan mempersiapkan makanan yang akan dihidangkan untuk para kerabat yang nantinya akan berkunjung ke rumah ini.

"Akong sudah minum obat, Ayu?" tanya nyonya sambil mengeluarkan beberapa plastik berisi bahan-bahan yang akan kami masak, dari dalam kulkas.

"Sudah, Nyonya. Sekarang akong sedang tidur di sofa ruang tamu," jawabku.

"Sekarang baca daging-daging ini ke meja dapur. Aku ajarin kamu memasaknya."

"Baik, Nyonya."

 Hari ini aku dan nyonya berencana memasak daging sapi dan kaki babi bumbu kecap. Karena aku baru satu bulan di sini, maka dengan sabar nyonya mengajariku cara memotong, mencuci, dan memasak dua jenis daging itu, termasuk juga dengan bumbu-bumbunya.

Sambil menunggu daging yang kami masak jadi empuk, kami berencana istirahat sebentar sambil menonton tv. Namun, alangkah terkejutnya kami, saat tidak mendapati akong di ruang tamu. Padahal, setengah jam tadi, dia masih tidur siang dengan pulasnya di sofa. Begitu melihat pintu depan terbuka lebar, kami yakin kalau akong pergi keluar rumah secara diam-diam.

"Yumi, kamu cari akong sampai jalan Ta-Ya. Kalau sampai SD Ta-Ya tidak ketemu, kamu balik ke rumah. Saya akan mencari ke arah danau!" perintah nyonya sambil mengambil kunci mobil.

"Iya, Nyonya. Saya matikan kompor dulu," jawabku.

 Aku langsung berlari ke dapur, untuk mematikan kompor gas. Setelah itu, kami pun berpencar arah sesuai kesepakatan. Sambil setengah berlari aku menyusuri jalanan kompleks. Sial, ternyata cuaca sedang mendung dan aku lupa membawa payung karena terlalu panik. Kira-kira 300 meter dari gerbang kompleks, aku melihat akong berjalan tertatih seorang diri. Segera aku berlari menyusulnya.

"Akong, mau ke mana? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" tanyaku selembut mungkin, tapi akong tidak menjawab. Akong malah mempercepat langkahnya, seolah ingin menghindariku.

"Akong, kita pulang, yuk, mau hujan, nih." Aku kembali mencoba membujuk akong sambil sesekali menarik lengannya, pelan. Namun, akong tetap tidak mempedulikanku. Sedangkan yang aku takutkan sejak tadi, kini jadi kenyataan. Gerimis mulai turun disaat aku belum berhasil membujuk akong untuk kembali ke rumah.

"Akong, hujan, nih. Ayo pulang! Nanti Akong bisa sakit kalau hujan-hujanan." Aku kembali mengajak Akong pulang, tapi dia tetap tidak mau.

"Aku mau ke Bank ambil uang. Uangku ... uangku ...," kata akong berulang kali sambil terus saja berjalan tertatih, dan kini gerimis sudah menjelma menjadi hujan deras.

Akhirnya di bawah guyuran air hujan, kami pun berjalan menyusuri jalan raya. Tidak ada yang bisa aku perbuat, kecuali memegang lengan akong lebih erat lagi supaya dia tidak jatuh. Beberapa tatapan mata dan teriakan dari orang-orang yang berada di teras lobi sebuah apartemen yang tak jauh dari tempat aku dan akong berdiri, seolah menghakimi kebodohanku dalam menjaga akong.

 "Akong, ayo pulang. Ayo, Akong!" Kali ini aku berusaha menarik lengan akong agak kuat, supaya dia mau menuruti kata-kataku. Bukannya menurut, akong malah berontak dan memukuliku dengan membabi buta.

"Aku tidak mau pulang ! Aku mau uangku. Aku mau ambil uangku!" teriak akong sambil terus memukuliku.

Aku mencoba menahan pukulan akong, sambil tetap memegangi lengannya. Tiba-tiba tubuh akong terhuyung ke belakang saat dia berusaha melepaskan pegangan tanganku. Aku berusaha menarik tubuh akong ke depan, supaya dia tidak jatuh ke belakang. Tarik menarik pun tak terelakkan. Tiba-tiba akong mendorongku dengan kuat, dan ....

Brukk!!

Aku dan akong jatuh bersamaan dengan tubuh akong menindihku. Beberapa orang nampak berlari dari arah lobi apartemen sambil membawa payung.

"Kenapa kau biarkan akongmu hujan-hujanan?" tanya seorang wanita bertubuh gemuk.

"Kamu bisa jaga orang tua, tidak, sih? Masak sampai basah kuyup kayak gini?" Seorang laki-laki berpakaian seragam penjaga apartmen ikut memarahiku.

Sambil membantuku dan akong bangkit, mereka terus menyerangku dengan berbagai pertanyaan. Namun, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan mereka. Di samping penguasaan bahasa mandarinku masih kurang, sakit di pantatku lebih menyita pikiranku.

 Untunglah saat itu majikanku datang dengan membawa mobil. Sambil membantu menaikkan akong ke dalam mobil, nyonya menjelaskan kepada orang-orang itu tentang kejadian yang sebenarnya terjadi.

"Ayah saya sudah pikun, dan hari ini kami agak lalai mengawasinya sehingga dia kabur dari rumah. Terima kasih atas bantuannya dan maaf kalau merepotkan kalian semua," kata nyonya sambil membungkukkan badan.

Setelah berpamitan dengan orang-orang yang tadi membantuku dan akong, nyonya pun melajukan mobilnya kembali ke rumah.

"Yumi, kamu tidak apa-apa? Apa ada luka?" tanya nyonya sambil melirikku.

"Tidak, Nyonya. Saya baik-baik saya dan tidak terluka," jawabku.

"Syukulah kalau begitu. Lain kali, kalau saya tidak ada di rumah, kamu harus lebih hati-hati lagi menjaga akong. Mengerti!?"

"Mengerti, Nyonya."

Sampai di rumah, aku dan nyonya langsung memandikan akong dengan air hangat, kemudian menemaninya sampai akong tertidur pulas.

   


Selasa, 30 Juni 2015

SASA




Lima menit menjelang buka puasa, beranda facebook-ku penuh dengan foto makanan, yang seolah berlomba menunjukkan menu buka puasa mereka.

Aku pun tidak mau kalah. Memangnya mereka saja yang bisa pamer menu berbuka. Aku juga bisa. Segera kubuat status di beranda facebook-ku.

'Ini menu buka puasaku, mana menu buka puasamu?' Upload gambar dari google, klik 'send'.

 Selesai, tinggal menunggu komentar dari mereka. Pasti mereka bakalan kagum dengan menu berbuka-ku.

Satu komentar masuk,.'Baru tahu kalau di Taiwan ada mangkuk dengan tulisan Sasa.

'Langsung kuhapus 'postingan-ku'.


Cjiayi, 1 Juli 2015


Kamis, 25 Juni 2015

PULANG UNTUK PERGI


   
Malam perlahan beranjak memasuki dini hari. Dentang jam gantung di ruang depan terdengar bergema dua kali, tapi Mbah Mangsuri memutuskan untuk bangun dari lelapnya yang baru sekejap. Raut kelelahan terpancar jelas dari wajah tuanya yang mulai keriput. Dengan penerangan lampu kamarnya yang hanya 5 watt, Mbah Mangsuri memilih pakaian terbaik yang dia punya. Sebuah kemeja batik warna coklat tua pemberian pak RT, dua tahun lalu. Sebuah sarung dan sandal selop yang sudah tipis, tak lupa dia persiapkan bersama kopiah yang sudah lusuh.

Perlahan dia duduk di tepi tempat tidur dan diusapnya punggung Mukhlis, cucu satu-satunya yang berusia 7 tahun. Sejak kematian istrinya dan kepergian anak semata wayangnya, Karmi, ke Taiwan, Mbah Mangsuri memang hanya tinggal berdua dengan Mukhlis di gubuknya yang sederhana.

"Bangun, Le, sebentar lagi ibumu pulang," bisik Mbah Mangsuri lembut.

"Ngghh ...." Mukhlis hanya menggeliat sesaat, lalu memeluk guling kumalnya dan kembali tertidur.

Mbah Mangsuri kembali mengusap-usap punggung Mukhlis sebelum akhirnya beranjak keluar kamar. Di luar kamar, para tetangga dan kerabat masih terlihat berada di ruang tengah dan ruang depan. Sebagian ada yang tertidur di atas tikar yang sengaja digelar, sebagian lagi ada yang masih mengaji dengan suara lirih. Beberapa pemuda nampak berjaga di depan rumah sembari berbincang ditemani kopi yang sudah dingin. Sementara itu di dapur juga terlihat beberapa ibu-ibu yang tengah memasak sesuatu.

"Sudah ada kabar?" tanya Mbah Mangsuri pada salah satu tetangganya yang berada di situ.

"Rombongan sudah bertolak dari bandara, dua jam yang lalu, Mbah. Semua keperluan juga sudah kami persiapkan di ruang depan, tinggal menunggu kedatangan mereka."

"Terima kasih. Saya akan bersiap dulu," pamit Mbah Mangsuri, lalu melangkah pelan menuju kamar mandi di belakang rumah.

Setelah mencuci muka dan mengambil air wundhu, Mbah Mangsuri pun kembali ke kamarnya. Dikenakannya pakaian yang tadi sudah dia persiapkan. Sekilas dipandanginya sang cucu yang masih terlelap. Hatinya bingung, antara membangunkan sang cucu karena sebentar lagi ibunya akan tiba, ataukah tetap membiarkan sang cucu terlelap melepas segala lelah yang seharian kemarin mendera tubuh mungilnya.

"Tidurlah yang nyenyak, Le. Saat kau bangun nanti, impianmu untuk bertemu ibu akan jadi kenyataan." Mbah Mangsuri meletakkan satu setel baju koko di samping sang cucu, kemudian beranjak keluar kamar.

"Mereka datang! Mereka datang!" teriak beberapa orang di depan rumah seiring suara sirine ambulan yang semakin mendekat. Satu per satu orang-orang yang berada di dalam rumah berjalan menuju depan rumah, termasuk Mbah Mangsuri.

"Yang tabah, ya, Mbah," kata pak RT sambil membimbing Mbah Mangsuri.

Tak berapa lama rombongan yang terdiri dari empat mobil, satu ambulan, dan beberapa sepeda motor nampak berhenti di depan rumah Mbah Mangsuri. Mereka adalah rombongan pengantar jenazah Karmi, anak semata sayang Mbah Mangsuri sekaligus ibu dari Mukhlis yang meninggal di Taiwan, karena dibunuh pacarnya. Karmi ditemukan sudah tidak bernyawa di dekat kebun pinang di daerah Kaoshiung.

Karmi pergi ke Taiwan 6 tahun lalu setelah bercerai dengan suaminya. Saat itu Mukhlis baru berusia 6 bulan. Setahun berlalu, tidak sekali pun Karmi memberi kabar atau mengirim uang ke rumah. Bahkan pihak PJTKI yang memberangkatkan Karmi malah menyuruh Mbah Mangsuri mengganti biaya penempatan Karmi dikarenakan Karmi kabur dari majikannya, sebelum biaya penempatan itu terbayar lunas.

Mbah Mangsuri terpaksa menjual separuh sawahnya untuk membayar denda Karmi. Hingga tahun ke empat ada sedikit titik terang mengenai keberadaan Karmi. Seorang tetangga yang juga bekerja di Taiwan, pernah bertemu dengan Karmi di depan sebuah KTV pada suatu malam. Menurutnya, Karmi yang malam itu berpenampilan sexy, dikawal dua orang laki-laki bertubuh kekar keluar dari KTV. Karmi sempat berhenti dan menoleh ketika tetangganya itu memanggil namanya. Namun kemudian dua orang laki-laki itu segera menarik Karmi ke dalam mobil warna hitam yang terparkir di depan KTV. Dalam hitungan menit, mobil itu pun melaju meninggalkan KTV.

Berita miring tentang Karmi yang diduga menjadi wanita panggilan pun santer terdengar di telinga Mbah Mangsuri. Namun, lelaki tua itu tetap diam dan tidak mau berkomentar apa-apa. Dia tetap percaya kalau Karmi punya iman yang kuat.

"Mbah, kami dari pihak pemerintah dan PJTKI, datang untuk mengantar jenazah Mbak Karmi. Bersama ini, kami sampaikan juga santunan dan beberapa surat bukti kematian almarhumah. Mohon diterima, Mbah," kata seorang laki-laki berpakaian seragam warna coklat muda, didampingi tiga orang laki-laki berpakaian serupa dan dua orang polisi. Dia menyerahkan sebuah amplop warna coklat dan map warna biru.

Setelah menandatangi sejumlah dokumen, Mbah Mangsuri menghampiri peti mati Karmi yang sudah dibuka. Seorang kerabat membantu membuka penutup wajah Karmi. Mbah Mangsuri berdiri mematung memandangi wajah putri kesayangannya yang sudah begitu lama dia rindukan. Anak satu-satunya yang dia harapkan bisa jadi tumpuan di hari tuanya nanti, kini telah terbujur kaku dengan mata terpejam. Tak ada senyum bahagia atau pelukan hangat di pertemuan yang terkahir mereka. Hanya ada keheningan dan duka yang terpancar di antara keduanya.

Dengan tangan gemetar, perlahan Mbah Mangsuri mengusap wajah dingin Karmi dan mencium keningnya.

"Assalamualaikum ... selamat datang, Nduk. Akhirnya hari ini kamu pulang ke rumah, meski besok harus pergi lagi untuk selamanya. Apapun yang sudah terjadi kemarin, bapak tidak pernah marah atau membencimu. Buat bapak, kamu tetap putri bapak yang paling bapak sayangi. Maafkan bapak yang tidak pernah bisa membahagiakanmu, hingga kamu menempuh jalan ini. Maafkan bapak, Nduk ...." Mbah Mangsuri kembali mencium kening Karmi. Setitik air mata nampak mengalir di pipinya yang keriput dan tubuh Mbah Mangsuri jatuh terduduk dan lemas.

"Mbah ... sabar, Mbah ... Istiqfar, Mbah. Ikhlaskan Mbak Karmi supaya dia tenang di sana." Melihat keadaan Mbah Mangsuri, beberapa kerabat langsung memapah Mbah Mangsuri masuk ke dalam kamar.

Setelah kepergian istrinya, kini giliran kebersamaannya dengan sang putri tercinta juga harus berakhir. Tinggallah sang cucu yang menjadi tumpuan terakhirnya dalam melewati masa tuanya nanti. Mbah Mangsuri tahu semua ini sangatlah berat baginya, tapi Mbah Mangsuri percaya, Allah tidak pernah meninggalkan hambanya sendirian dalam mengahadapi cobaan. Kepasrahan dan keikhlasan diteguhkannya dalam hati dan Mbah Mangsuri siap menghadapi hari esok.


Tamat.



Rabu, 24 Juni 2015

Emak, Aku Pulang!



Ini adalah lebaran ke 7 sejak kepergianku pergi merantau ke kota, dan baru sekarang aku bisa pulang ke rumah. Impianku untuk membahagiakan emak dengan merantau ke kota, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Jangankan mengirim uang untuk emak di kampung, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja aku tidak bisa. Tidak jarang tiap hari aku harus berpuasa dan hidup menggelandang dari emperan toko sampai terminal bis.

Minimnya pengetahuan dan pendidikan, membuatku harus menghadapi terjalnya perjalanan hidup di kota, sejak pertama aku menjejakkan kakiku di sana. Mulai dari tasku yang dijambret, bekerja tidak dibayar, jadi pemulung, sampai jadi gelandangan.

 Dengan kebaikan seorang dermawan, puasa ke 25 tahun ini akhirnya aku bisa pulang. Akh, kenapa jalan desa ini terasa panjang sekali? Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan emak. Begitu sampai rumah nanti, aku tidak akan lagi meninggalkan emak. Aku akan setiap hari menemaninya menggarap sawah.

"Mak! Aku pulang, Mak!" teriakku sambil berlari begitu sampai halaman rumah.

Namun, yang keluar dari dalam rumah bukanlah emakku, melainkan Pakdhe Mardi dan Istrinya. Aku langsung menyalami dan memeluk keduanya yang masih diam terpaku melihatku. Ternyata selama kepergianku, mereka ada untuk menemani emak.

"Emak mana, Pakdhe, Budhe? Aku kangen sama emak?"

"Masuklah dulu, Angga, tidak baik berbicara dengan berdiri di depan rumah seperti ini," jawab pakdhe sambil mempersilakan aku masuk.

Aku mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam, aku langsung berlari ke dapur begitu mendengar suara orang memasak. Mungkin emak sedang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Namun, yang aku temui di dapur juga bukan emak, melainkan tiga orang ibu-ibu tetangga yang sedang memasak.

"E-emak, mana?" tanyaku perlahan tapi membuat mereka seketika berhenti beraktifitas.

"Angga, sebenarnnya emakmu sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Dan hari ini bertepatan peringatan 100 hari kepergiannya," jelas pakdhe sambil menepuk pundakku.

"E-emak ...." Aku jatuh bersimpuh mendengar jawaban pakdhe yang seperti halilintar menghantam hatiku. Seketika air mataku tumpah membasahi pipi. Semua harapanku musnah sudah. Jangankan untuk memeluk tubuh renta itu, melihat senyum di wajahnya yang keriput saja aku tak bisa.

"Emak, maafkan aku yang tidak bisa membahagiakanmu, yang tidak bisa menemani di hari tuamu, yang tidak bisa mengantar di peristirahatan terakhirmu. Maafkan aku, Mak."

Chiayi, 24 Juni 2015



Pekerjaan Pertamaku



 Setelah sekian lama ke sana ke mari mencari kerja, akhirnya aku mendapat panggilan kerja di sebuah pabrik garment, PT. AMT. Dari keterangan staf HRD lewat telepon, aku diterima di bagian finishing. Saking bahagianya aku langsung memberitahu pada bapak dan ibu kalau aku sudah diterima kerja. Mereka pun membuat sebuah syukuran kecil atas keberhasilanku diterima kerja.

"Selamat, ya, Nduk. Akhirnya kamu dapat kerjaan. Tidak sia-sia ibu menyekolahkan kamu tinggi-tinggi," sambut ibu dengan penuh bahagia.

"Pokoknya gaji pertama nanti, aku traktir Bapak sama Ibu makan bakso di dekat palang kereta," ucapku penuh semangat pada kedua orangtuaku.

 Pagi-pagi sekali aku sudah mempersiapkan diri dengan baju hitam-putih. Aku tidak mau terlambat di hari pertama kerjaku. Bayang-bayang lulus training dan memakai seragam resmi perusahaan, serta menerima gaji ratusan ribu tiap bulannya, membuat bibirku tidak berhenti tersenyum.

Setelah diabsen di pos satpam, aku dan para karyawan baru lainnya digiring menuju salah satu gedung produksi. Di depan pintu masuk, sudah berdiri kepala HRD dan seorang supervisor bagian finishing.

"Selamat datang dan selamat bergabung dengan perusahaan kami. Kalian semua yang ada di sini, akan membantu bagian finishing untuk memotong benang sisa di garment. Sistem kerja kalian adalah borongan. Berapa hasil kalian setiap hari, akan dikalikan harga potong benang tiap garment," kata superior menjelaskan sistem kerja kami.

Aku yang awalnya penuh semangat ingin segera bekerja, seketika langsung berubah jadi lemas. Ternyata aku hanya diterima sebagai tenaga borongan, bukan karyawan kontrak apalagi karyawan tetap. Bagaimana harus aku jelaskan pada bapak, ibu, dan juga para tetangga jika aku hanya diterima sebagai tenaga borongan?

Chiayi, 23 Juli 2015



Rabu, 17 Juni 2015

MULAS


By: Disyak Ayummy

Sore itu suasana kantin tidak terlalu ramai tapi terasa menyesakkan buat Siena. Tubuh Siena bergetar dan keringat dingin membasahi keningnya saat Arkha dan kedua temannya berjalan mendekatinya.

"Siena, kamu grogi, ya, mau ketemu Arkha? Ayo, ngaku! Kamu kan udah lama naksir sama tuh cowok," ledek Keeran, sahabat dekat Siena.

"Bu-bukan begitu, tapi saat ini bukan waktu yang tepat, sebab ...." Siena semakin salah tingkah. Apalagi saat Arkha tiba-tiba duduk di sampingnya, wajah Siena terlihat pucat. Keeran yang melihat perubahan sikap sahabatnya itu, hanya bisa tersenyum.

"Hai, Siena, apa kabar? Kata Keeran kamu mau ngomong sesuatu denganku. Soal apa?" tanya Arkha dengan senyumnya yang menggoda.

"Eh, iya, tapi ... tapi tidak sekarang. Ka-karena ... maaf, aku pergi dulu." Dengan gugup Siena beranjak dari tempat duduknya diikuti suara yang tidak asing yang keluar dari pantat Siena.

Duutt ... duutt ... brut.

Arkha, Keeran, dan teman-temannya langsung menutup hidung mereka dari aroma yang memabukkan.

Chiayi, 17 Juli 2015


Jumat, 05 Juni 2015

Sandiwara Kerinduan



Arin terhenyak dari lelapnya oleh sebuah tepukan lembut di pundaknya. Sambil menguap, Arin menegakkan kepalanya.

"Ambil obat di lobby depan." Seorang wanita cantik, berkulit putih dengan seragam berwana merah muda, menyerahkan secarik kertas kepada Arin.

"Oh, iya, Suster." Arin menerima kertas berisi daftar resep itu. Dengan menahan lelah dan kantuk, perempuan Indonesia berusia 34 tahun yang bekerja sebagai perawat lansia itu, melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang remang, menuju lobby depan rumah sakit itu.

Sepuluh menit kemudian dia sudah kembali dengan tiga bungkus obat di tangannya. Setelah menyerahkan obat itu kepada suster jaga, Arin kembali ke kursinya di samping ranjang ama yang dijaganya. Sekilas ditatapnya jam dinding di tembok samping, yang menunjukkan pukul 4.53 pagi.

"Ah, sudah hampir pagi rupanya." Arin segera melipat selimut yang dipakainya semalam, dan menyimpannya ke dalam tas. Sementara itu seorang suster menyuntikkan beberapa obat ke dalam infus ama.

"Kapan ikatan ama akan dibuka, Suster?" tanya Arin pelan sambil memperhatikan pergelangan tangan dan kaki ama, yang diikat pada sisi ranjang.

"Saya tidak berani memastikan kapan, tergantung kondisi psikologi ama. Kalau dia terus mengamuk seperti semalam, ya sebaiknya dia tetap diikat supaya tidak membahayakan dirinya sendiri," jawab suster itu. Setelah selesai menyuntikkan obat, suster itu pun kembali ke meja jaga.

Arin mengusap wajah ama yang tertidur pulas karena pengaruh obat tidur. Tak nampak sedikit pun beban di wajah keriputnya. Berbeda dengan beberapa hari belakangan ini. Ama selalu nampak murung dan uring-uringan. Kerinduannya terhadap Chen Lu--anak bungsunya--sepertinya sudah tidak tertahan.

Chen Lu adalah anak kesayangan ama. Di usianya yang belum genap 30 tahun, Chen Lu sudah bisa membelikan ama rumah, mobil, dan beberapa saham dari berbagai perusahaan terkenal. Namun, sejak ama di ajak tinggal bersama Tuan Hwang--anaknya yang pertama--di kota ini, lima tahun yang lalu, Chen Lu tidak pernah sekalipun datang mengunjungi ama. Bahkan telpon pun tidak pernah.

"Kalau sampai kali ini Chen Lu tidak datang juga, aku akan benar-benar bunuh diri!" teriak ama saat Arin menemaninya makan siang kemarin.

"Mungkin Tuan Chen Lu sedang sibuk, Ama." Arin mencoba menenangkan.

"Sibuk apa? Sudah lima tahun lebih dia tidak pulang. Padahal jarak Taipei ke sini hanya 5 jam. Kalau dia sudah tidak mau menganggap aku ibunya, lebih baik aku mati!" Ama meletakkan sumpit ke meja dengan kasar, dan beranjak menuju kamar. Selera makannya seketika hilang. Rasa kangen dan amarah pada anak kesayangannya beradu dalam dadanya.

Arin hanya bisa mengusap lembut punggung ama. Perjanjiannya dengan sang majikan untuk merahasiakan keberadaan Chen Lu dari sang ibu, membuat Arin hanya bisa membisu.

"Arin, kau sudah siapkan perlengkapan untuk tinggal beberapa hari di rumah sakit!" teriak Ama dari balkon depan.

Arin yang sedang mencuci piring di dapur langsung berlari ke arah balkon depan. Ama yang dikiranya sedang tidur, ternyata diam-diam pergi ke balkon depan.

"Ama, apa-apaan ini? Cepat masuk! Nanti dikira tetangga, ama mau bunuh diri." Dengan raut wajah panik, Arin mencoba menarik tangan ama yang sudah terlanjur tengkurap di atas pagar balkon. Namun, ama menolak, malah kedua kakinya kini sudah berada di luar, berpijak pada alas pagar balkon.

"Cepat teriak panggil tetangga, biar mereka segera telpon 119. Tanganku sudah capek!"

"Ah, Ama, kenapa bohong lagi? Ama kan sudah janji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi." Arin geregetan bercampur panik melihat tingkah laku ama. Arin takut kalau ama tidak kuat menahan berat beban tubuhnya yang lumayan gendut itu dan jatuh dari lantai lima, apartemen mereka.

"Aku mau tahu, apakah Chen Lu akan pulang jika melihat aku stres dan mau bunuh diri."

Melihat kelakuan ama, Arin hanya bisa mengambil napas panjang. Ini ketiga kalinya ama nekad melakukan hal-hal aneh, supaya Chen Lu mau pulang. Ama pernah pura-pura sakit jantung, pernah juga minum obat tidur dua kali lipat, dan sekarang pura-pura mau bunuh diri.

Kerinduan ama sebagai seorang ibu terhadap anaknya, ternyata bisa membuatnya nekad melakukan hal yang membahayakan. Tanpa ama sadari, bahwa anaknya tidak akan pernah kembali lagi sampai kapan pun.

"Ibu tidak pernah tahu kalau Chen Lu telah dihukum mati, karena menjadi kurir narkoba di negara tetangga. Saya membawa ibu ke sini, untuk menjaga perasaan ibu dari gunjingan masyarat. Mudah-mudahan di tempat ini, ibu bisa melupakan Chen Lu dan menikmati hari tua dengan tenang," kata Tuan Hwang, sewaktu Arin bertanya mengenai Chen Lu

"Arin, cepat! Aku sudah tidak tahan, nih!" teriak ama membuyarkan lamunan Arin.

"I-iya, Ama ...." Arin pun segera berteriak minta tolong ke tetangga, sesuai permintaan ama.

Para tetangga di apartemen itu seketika jadi heboh, melihat seorang nenek hendak lompat dari lantai lima. Beberapa dari mereka segera merentangkan selimut tebal untuk jaga-jaga kalau nenek itu terjatuh, sebelum petugas penyelamat datang.

"Arin, pegang tanganku yang kuat, aku ingin teriak dan berontak. Jangan dilepaskan, ya. Nanti kamu pura-pura mencegah aku, ya. Awas, kalau kamu tidak nurut!" Ama sempat tersenyum pada Arin yang terlihat masih bengong, sebelum akhirnya berteriak-teriak dan meronta.

"Lepaskan! Biarkan aku mati, tidak ada seorang pun yang menyayangiku!" Ama mulai berakting. Dia berteriak sambil menggerak-gerakan badannya. Kemudian dia mengerdipkan matanya ke arah Arin. Arin yang menangkap maksud ama, langsung ganti berteriak.

"Jangan, Ama! Masih banyak yang menyayangimu, termasuk aku. Aku sayang kamu, Ama! Jangan lompat!"

Keduanya tetap terus berakting sampai petugas penyelamat datang. Begitu petugas penyelamat berhasil menarik ama, Arin langsung masuk kamar mengambil tas perlengkapan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sementara ama, masih terus berteriak-teriak dan mengamuk, meski dalam keadaan sudah terikat.

"Arin, bagaimana? Apa ada kabar kalau Chen Lu akan pulang?" tanya ama setengah berbisik, membuyarkan lamunan Arin.

"Hah, Ama sudah bangun ...." Arin tergagap, senang.

"Sstt, jangan keras-keras, nanti ketahuan suster. Kapan Chen Lu akan datang?"

Arin diam. Dia sadar, sampai kapan pun dia tidak akan bisa menjawab dengan jujur pertanyaan perempuan tua yang merindukan anaknya itu. Kerinduan ama terhadap Chen Lu, selamanya hanya berupa asa-asa kering yang maya. Seperti halnya dirinya, yang tidak akan pernah bertemu anak semata wayangnya yang telah meninggal dunia karena muntaber, empat tahun lalu. Kondisi ekonomi yang sulit, membuat Arin tidak bisa membawa anaknya untuk berobat.

Cinta dan rindu seorang ibu pada anaknya, tak terbatas ruang dan waktu. Semua itu terpatri dalam sukma, selamanya.


Chiayi 2015





SEBUAH TUGAS



Bibir Karim berhenti mengucap doa-doa, ketika mobil yang ditumpanginya berhenti tak jauh dari pusat kota. Beberapa ruas jalan yang menuju ke arah pusat kota memang sengaja ditutup untuk menghindari kemacetan, saat perayaan pergantian tahun seperti saat ini. Dari balik jendela kaca mobil, Karim melihat begitu banyak orang lalu-lalang di sepanjang jalan itu.

"Kamu sudah siap, Karim?" tanya lelaki separuh baya yang duduk di samping Karim.

"Saya ...." Karim menatap ragu pada lelaki yang berpakaian serba putih itu. Tangannya mencengkeram kuat tas punggung warna hitam di pangkuannya.

"Seharusnya kamu bahagia dengan tugas ini, Karim, karena surga telah menantimu." Lelaki itu menepuk-nepuk pundak Karim, lembut. Beberapa wejangan yang terucap dari bibirnya, perlahan membakar semangat Karim yang sedang dilanda keraguan.

"Saya siap, Kyai!" kata Karim, mantap.

Karim bergegas memakai tas punggung yang sedari tadi dipangkunya. Setelah berpamitan dan mencium punggung tangan lelaki yang dipanggilnya 'kyai', Karim kemudian turun dari mobil diikuti oleh dua orang laki-laki berpakaian modis, yang sedari tadi duduk di jok belakang.

Tanpa sepatah kata pun, ketiganya berjalan di antara kerumunan orang, menuju pusat kota. Suara bising terompet seolah menjadi penyemangat Karim dalam mengemban tugasnya.

Setelah 30 menit berjalan, ketiganya berhenti di depan sebuah club malam yang cukup besar, di kota itu. Ketiganya dengan mudah bisa masuk ke dalam club, karena Kedua orang teman Karim itu, sebelumnya sudah ditugaskan selama sebulan untuk menyelidiki tempat itu. Dengan menjadi anggota VIP club tersebut, kedua orang itu dengan mudah bisa akrab dengan para penjaga dan pekerja di sana.

Begitu sampai di dalam, Karim memperhatikan seluruh ruangan club itu. Aroma minuman keras dan asap rokok begitu menyengat hidung Karim. Hentakan musik dari DJ, mengiringi para pengunjung untuk bergoyang. Beberapa wanita berpakaian bikini nampak tengah meliuk-liukan badannya, pada sebuah tiang di panggung sebelah kiri.

"Lima belas menit lagi, acara puncak pergantian tahun akan dimulai. Kami harus segera pergi dari sini," bisik salah satu teman, di telinga Karim.

"Baiklah, selamat tinggal, Saudaraku," kata Karim sambil memeluk mereka satu per satu.

Sepeninggal kedua temannya, Karim duduk di bar sambil menanti acara pergantian tahun. Segelas arak putih yang dipesannya, sama sekali tidak dia sentuh.

Tiga puluh detik menuju pukul 12 malam, seorang DJ mengajak semua pengunjung untuk berkumpul di tengah ruangan, dan bersiap menghitung mundur. Karim pun beranjak dari tempat duduknya. Dengan langkah tenang, dia berjalan menuju tengah-tengah kerumunan pengunjung yang mulai berhitung dari angka dua puluh.

Menginjak hitungan ke lima, Karim memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Sebuah benda kecil berbentuk kotak, digenggamnya erat. Saat para pengunjung berteriak menyebut angka 'dua', Karim menekan sebuah tombol pada benda kecil yang tengah di genggamnya.

Duuaarrr!!

*****

Pagi ini, semua media memberitakan peristiwa ledakan bom di malam tahun baru, di sebuah club malam yang menewaskan lebih dari 80% pengunjungnya.



Chiayi 2015


Minggu, 31 Mei 2015

POSESIF



"Arrgghh ...!!" teriak Della saat Ardy, suaminya mendorong tubuhnya dengan kuat hingga dia tersungkur di atas sofa.

"Dasar wanita jalang! Berani sekali kau berselingkuh di belakangku!" bentak Ardy dengan amarah yang membara. Tangan kanannya melayang ke arah pipi Della.

Plak! Plak!

"Aaa!"

Della kembali menjerit dan memegang kedua pipinya yang kemerahan. Perih. Darah segar terlihat mengalir dari sudut bibirnya.

"Apa maksudmu, Mas? Aku tidak pernah berselingkuh di belakangmu."

"Masih tidak mau ngaku juga, Kau! Ngapain kamu ke pasar pakai dandan segala? Terus pulangnya pakai di antar mantan pacarmu, Si Jeffry! Kamu ada main sama dia, kan?" cerca Ardy.

"Sumpah, Mas, saya tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Bang Jeffry. Kebetulan tadi Bang Jeffry dari bengkel dan nawarin pulang bareng karena kita satu arah." Della berusaha menjelaskan kejadian yang terjadi tadi pagi. Namun, suaminyayang sudah dirasuki rasa cemburu buta, tetap tidak bisa menerima.

"Alaah ... itu, kan, alasanmu saja untuk membohongiku!"

Della beringsut saat Ardy mendekatinya. Wanita itu langsung mengiba ketika tangan kiri Ardy menjambak rambutnya, sedangkan tangan kanan mencekik lehernya.

"Arg- amm-puuhhnn, Maass ...," pinta Della sambil mencoba menjauhkan tangan Ardy.

"Aku peringatkan kamu, ya. Sekali lagi aku lihat kamu bersama Jeffry, aku tidak akan segan-segan membunuhmu. Kamu istriku, milikku seorang. Tidak akan kubiarkan Si Jeffry atau laki-laki lain memilikimu. Mengerti!"

"Mme-nger-thii, Mas ...," jawab Della di antara napasnya yang hampir putus.

Ardy kembali menghempaskan tubuh istrinya sebelum berlalu dan masuk ke kamar. Sementara Della hanya bisa menangis setelah lepas dari cengkeraman suaminya yang posesif.



Chiayi, 2015



Model FLP Taiwan



"Mak, kamu yakin dia model yang bakalan mewakili FLP?" tanya Ryan Ferdian Darsudi pada Mak Siti Allie yang tengah mengeluarkan baju kebaya modern dari dalam 'polybag'. Sesekali diliriknya seseorang yang tengah didandani di ruang 'make up' itu.

"Tentu saja, Tak. Kamu tahu, kan, kalau dia berasal dari Solo. Jadi, walaupun dia sudah lama tinggal di Taiwan, tapi tetap memegang teguh budaya Jawa."

"Iya, juga, sih, Mak. Tapi apa nggak ada yang lebih ...."

"Sudah, Jangan khawatir. Di tangan kami, dia akan menjelma bak putri keraton." Mak Siti menepuk pundak Ryan, pelan. Kemudian dia berlalu, berjalan ke arah sang model, sedangkan Ryan mengekor di belakangnya.

"Wah, hebat kamu, Fy! Riasanmu bikin wajah dia 'mangklingi'."

Ryan masih saja tak berkedip memandangi penampilan sang model, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sesekali nampak mulutnya berdecak kagum sampai meneteskan cairan bening.

"ck, ck, ck ...."

"Hahaha ... Siapa dulu, dong. ALlf Coco Fy gitu loohh." Gadis berjilbab yang bertugas merias model itu, tertawa lepas sambil memainkan kuas 'eye shadow'.

"Sudah, sudah ... jangan becanda terus. Cepat pakaikan baju dan sepatunya. Kita udah nggak punya waktu lagi. Ririn, mana sapatunya? Cepat!" perintah Mak Siti.

"Wah, gawat, Mak! Sepatunya nggak muat! Padahal ini sudah nomer paling besar, lho." Ririn Arums yang bertugas membawakan sepatu untuk sang model hanya bisa menunduk sedih dan takut.

"Waduh, bagaimana ini?" Mak Siti dan Sakina saling berpandangan.

Tiba-tiba datang Radytha Rahma Sarytha FirmanSyah menghampiri mereka. Dia adalah anggota FLP yang memiliki tubuh paling subur.

"Pakai sepatuku saja. Kebetulan aku pakai 'hak' tinggi hari ini." Radytha segera melepas sepatunya dan menyerahkan pada sang model. "Tuh, pas, kan."

"Dan inilah penampilan peserta nomer 30, dari Group Lingkar Pena Taiwan. Hadirin sekalian, beri tepuk tangan untuk peserta nomeeer ... 30!" teriak MC dari atas panggung.

"Cepat! Cepat, Justto! Sampai di depan, jangan lupa selendangnya dikibarkan, ya." Sekali lagi Mak Siti memberi instruksi pada Justto Lasoo, model dari FLP.

"Do'ain aku, ya, teman-teman," kata Justto sambil berjalan ke belakang panggung.

"Pasti ...!" teriak teman-temannya, kompak.

Setelah seorang peserta turun panggung, Justto mulai keluar dari 'backstage'. Dengan balutan kebaya modern warna kuning keemasan dan dipadu dengan warna merah marun, Justto melangkah dengan anggun di atas 'catwalk'. Kilatan lampu blitz dan gemuruh tepuk tangan para penonton membuat dia makin percaya diri. Perlahan direntangkannya kedua tangannya, dan selendang batiknya berkibar sempura terkena embusan kipas angin.

Sampai di ujung stage, Justto berhenti sebentar, mengatupkan dua telapak tangannya di dada sebagai penghormatan kepada para juri, lalu memutar tubuhnya dan kembali melenggang dengan anggun menuju 'backstage.

Begitu Justto turun panggung, teman-temannya yang sudah menunggu, langsung menyambut dia penuh dengan kegembiraan. Tiba-tiba seorang laki-laki bermata sipit dan berkulit putih datang menghampiri mereka.

"Maaf, boleh saya berkenalan dengan modelnya. Saya A-Ciang. Bagaimana kalau saya mengundang Nona untuk makan malam?" kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Justto.

"Nona, Nona kepala Lu botak! Aku, tuh, cowok tulen. Masak mau jeruk makan jeruk," kata Justto dengan suaranya yang bariton.

"Oh, maaf ...." Lelaki bermata sipit itu langsung pergi diiringi gelak tawa seluruh anggota FLP.





Dua Bidadariku



Patah tumbuh, hilang berganti.
Mungkin pepatah ini lah yang cocok menggambarkan sekelumit kisah hidupku yang selamanya tidak akan pernah aku lupakan. Aku yakin, apa pun yang terjadi kepadaku adalah kehendak Allah, dan aku kembalikan semuanya ini hanya kepada Allah semata. Keyakinan itu lah yang kini membuatku kembali mencoba bangkit lagi, demi buah hatiku tercinta, Zahra.

*****
Sejak adikku mengenalkanku dengan temannya yang bernama Syakda, aku selalu merasa tidak tenang. Rasanya ingin selalu memandang wajahnya yang cantik, dan melihat senyumnya yang menawan. Sebagai laki-laki normal, wajar saja kalau aku sudah jatuh cinta pada Syakda, kembang desa sebelah yang baru saja pulang dari pondok pesantren.

Lama-kelamaan rasa ini semakin kuat di hatiku, hingga aku beranikan diri meminta kedua orangtuaku untuk melamar Syakda. Aku tahu banyak laki-laki lain yang memperebutkannya, tetapi aku tidak perduli.

Saat aku dan kedua orangtuaku mendatangi rumahnya, hati dan tubuhku terasa bergetar. Apalagi saat aku melihatnya mengenakan jilbab warna ungu, sungguh sangat anggun dan cantik. Dia benar-benar seperti jelmaan bidadari.

Acara lamaran pun berjalan lancar. Aku tidak menyangka, kalau lamaranku yang sebenarnya hanya mencoba keberuntungan ini, ternyata diterima oleh Syakda. Aku tahu banyak pemuda baik-baik dan bahkan kaya, tergila-gila dan berebut ingin mempersunting Syakda.

Pernah suatu hari aku bertanya padanya, apa alasan dia memilih menerima lamaranku, sedangkan aku hanya seorang pengangguran dan berandalan? Kenapa dia tidak memilih mereka yang sarjana, santri yang alim, atau mereka yang berpenghasilan cukup? Dia menjawab, bahwa dia selalu melihat wajahku dalam sholat istikharahnya, sehingga dia yakin aku lah jodoh yang dipilih Allah untuknya.

Bisa menikahi Syakda adalah sebuah anugerah untukku. Bukan karena aku bisa memenangkan persaingan dalam memperebutkannya, tetapi lebih kepada perubahan dalam diriku sendiri. Syakda yang pendiam dan anggun itu selalu saja bisa membuatku nyaman bila berada di sisinya. Hanya dengan seluas senyum dan dekapan lembutnya, maka semua emosi dan lelahku akan hilang seketika. Aku yang dikenal sebagai pemuda berandalan pembuat onar oleh hampir semua orang, perlahan bisa berubah jadi tenang setelah menikah dengannya. Sehingga seluruh keluarga besarku menganggap Syakda adalah malaikat yang dikirim Allah untuk merubah tabiat burukku.

Tidak aku pungkiri, kharisma yang terpancar dari Syakda benar-benar membuatku bertekuk lutut. Apalagi saat dia mengaji, suaranya sungguh bisa menenangkannya batinku. Meskipun dia tahu aku adalah seorang preman, namun dia tidak pernah menuntutku untuk merubah. Yang aku tahu, dia seolah tidak pernah lelah untuk mengajakku sholat bersama. Meski selalu aku tolak, tetapi dia tidak pernah marah. Malahan dia selalu mencium tanganku seusai sholat sembari berkata, "Aku akan selalu sabar menanti Mas Yanto jadi iman dalam hidup dan sholatku."

Sikapnya yang sabar dan penuh pengertian itu lah yang akhirnya membuat aku perlahan sadar dan mencoba untuk hidup normal. Aku ingin menjadi suami yang bisa menafkahi dan juga jadi panutan bagi istriku. Aku ingin menjadi imam yang baik buat istri dan anakku nanti.

Aku pun mulai meninggalkan kebiasaan burukku dan mencoba bekerja. Jika pagi aku bekerja di sawah, warisan dari orangtua Syakda, sedangkan sore sampai malam aku menjadi kernet angkutan kota. Meskipun hasilnya tidak seberapa, namun aku bersyukur bisa menafkahi istriku dengan uang halal, apalagi Syakda tidak pernah protes dengan jumlah uang yang aku berikan padanya. Aku juga mulai belajar sholat lagi. Ternyata tidak mudah untuk kembali belajar agama yang sudah begitu lama aku tinggalkan. Yang aku ingat, terakhir aku sholat sewaktu kelas satu SMP. Namun Syakda seolah tidak pernah lelah untuk mengajariku. Di bawah bimbingannya, perlahan aku mulai bisa membaca Alquran, dan alhamdulilah sudah bisa menjadi iman sholat untuknya.

Kebahagian rumah tanggaku pun semakin lengkap dengan kehamilan istriku ditahun ke-empat pernikahan kami. Subhanallah, tidak hentinya aku bersyukur, atas segala nikmat dan karunia ini. Anak yang sudah lama kami nantikan, kini sudah bersemayam dalam rahim istriku tercinta. Akh, rasanya masih tidak percaya kalau aku akan menjadi seorang bapak.

Semenjak istriku hamil, aku jadi semakin semangat bekerja. Aku ingin mempersiapkan yang terbaik untuk kelahiran bayi kami. Bahkan aku rela pulang larut, asalkan bisa mendapatkan tambahan uang untuk menyambut kelahiran bayi kami nanti.

Namun ternyata Allah berkehendak lain. Siang itu, 25 November 2006, aku mendapat kabar kalau istriku di bawa ke RSUD Ungaran karena jatuh, dan mengalami pendarahan hebat. Padahal saat itu usia kandungannya baru masuk bulan ke delapan. Saat itu aku benar-benar panik dan takut. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menyusul ke sana. Sampai di sana, keluarga besarku sudah berkumpul di depan UGD dan tidak diperbolehkan masuk, karena istriku sedang dalam perawatan intensif. Aku coba bertanya kepada ibuku penyebab jatuhnya istriku. Katanya istriku terpeleset saat mencuci baju. Padahal sejak kehamilannya menginjak tujuh bulan, aku dan ibu selalu melarang dia untuk melakukan pekerjaan berat, ternyata dia keras kepala.

Setelah hampir satu jam kami menunggu, akhirnya seorang dokter keluar menemui kami. Aku pun langsung bertanya padanya tentang kondisi istriku, dan dia menyampaikan sesuatu yang sangat mengejutkan.

"Posisi bayi melintang, sedangkan Si Ibu terlalu lemah untuk melahirkan secara normal karena pendarah, dan ketubannya sudah pecah. Jalan satu-satunya adalah operasi. Mengingat kondisi keduanya, kemungkinan kami hanya bisa menyelamatkan satu diantara keduanya."

Aku langsung lemas mendengar ucapan Dokter itu, "Ya Allah, jangan Kau ambil salah satu dari mereka. Aku sangat menyayangi keduanya." pintaku dalam hati. Tanpa sadar butiran bening sudah menetes di pipiku.

"Silahkan ke bagian administrasi untuk menandatangani surat persetujuan operasi," kata seorang suster menyadarkanku.

"Apa kah tidak bisa diselamatkan keduanya, Dok? Saya mohon ... saya mohon, Dokter ...," kataku mengiba pada dokter itu.

"Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk ibu dan bayinya."

Setelah menandatangani surat persetujuan operasi aku langsung berlari menghampiri istriku yang tengah didorong menuju kamar operasi. Di bias wajahnya yang pucat, dia masih berusaha melukis seulas senyum di bibirnya. Jarum infus dan transfusi darah masih melekat di pergelangan tangannya. Darah segar pun masih nampak membekas di seprai dan selimutnya.

"Bertahan, Dek, kamu dan anak kita akan baik-baik saja," kataku mencoba menenangkannya. Padahal di dalam hatiku sendiri, rasa takut dan khawatir begitu hebat menyekapku. Kugenggam erat tangannya yang terasa dingin dan berkali-kali kuciumi keningnya. Aku ingin dia tahu, bahwa aku di sini untuknya dan ikut merasakan sakitnya.

"Ka ... sih nama anak ki ... ta Az ... zahra," bisik lirih istriku. Aku hanya bisa mengangguk. Air mataku berderai. Aku sungguh tak tega melihat wajahnya yang menahan sakit yang teramat sangat. Sebelum memasuki ruang operasi, kembali kuciumi wajah istriku tercinta.

Takut, cemas, bingung, gelisah ... dan entah perasaan apalagi yang kini menghantuiku selama proses operasi istriku. Aku hanya bisa duduk, berjalan mondar-mandir, dan duduk lagi, persis seperti orang linglung.

"Berdoa, Yan. Doakan istri dan anakmu supaya selamat," kata ibu seiring suara adzan isya yang terdengar sayup.

Aku segera bergegas ke mushola rumahsakit untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Baru dua rokaat aku berhenti dan kembali menangis. Sholatku tidak tenang. Bayangan wajah istriku yang sedang kesakitan begitu kuat menari di pelupuk mataku.

"Ya Allah, ampuni aku yang tidak bisa menegakkan sholat ini dengan benar. Ya Allah, selamatkan istri dan anakku. Jangan Kau ambil salah satu dari mereka." kupanjatkan sebaris doa sebelum aku kembali bersuci dan mengulang sholatku.

Setelah selesai sholat, aku segera berlari menuju kamar operasi lagi. Tepat saat aku sampai di sana, pintu kamar operasi dibuka dari dalam. Aku dan keluargaku langsung menghampiri dokter yang tadi mengoperasi istriku.

"Bagaimana, Dok ...?" tanyaku hampir serempak dengan ibuku.

"Maaf kan saya, Pak, Bu. Bayinya sudah lahir dengan selamat, tetapi kami tidak bisa menyelamatkan nyawa ibunya."

"Tidaaakk ...!! Dek, Syakda ...!" aku langsung berlari masuk ke dalam ruang operasi. Kupeluk erat tubuh istriku yang baru saja di tutup oleh seorang suster. Tidak mampu lagi kutahan airmata ini. Hatiku terasa hampa saat kulihat wajah istriku yang telah pucat. Kosong ... hatiku seolah hilang. Separuh jiwaku kini telah pergi untuk selamanya. Tiba-tiba semua kebahagian selama ini menjelma menjadi kemarau yang gersang dalam sekejap.

"Istri bapak sendiri yang meminta dokter untuk menyelamatkan bayinya. Dia tidak ingin membunuh bayi yang sudah lama dia nantikan," kata seorang suster di sampingku.

Ya, aku mengerti maksud istriku. Dia sangat ingin bisa mempersembahkan seorang bayi untuk pernikahan kami, tetapi aku tidak menyangka semua itu harus ditebus dengan kepergiannya. Akh, betapa mulia hati istriku.

"Selamat jalan, Sayang. Ijinkan aku titipkan salam perpisahan panjang di keningmu. Selamanya, kamu lah bidadariku di dunia dan di surga. Terimakasih atas kesetiaanmu menemaniku dalam suka dan duka. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga dan membahagiakanmu. Tunggu aku di sana, Sayang." Kembali kucium kening istriku dan berusaha untuk ikhlas melepasnya menghadap Illahi.

*****
Beberapa hari sejak kematian istriku, aku masih malas untuk bekerja. Duka ini masih kuat menyelimuti hatiku. Setiap bayangan wajahnya melintas di benakku, airmataku selalu menetes. Kini seluruh waktuku hanya aku gunakan untuk beribadah dan berdoa untuk istriku. Aku ingin istriku tahu, bahwa aku akan selalu ada untuknya, meski kini dia di alam yang berbeda.

Hingga suatu hari Allah menyadarkanku bahwa aku masih punya tanggung jawab yang lain. Zahra, anakku yang selama ini dirawat ibuku sakit, dan harus diopname karena suhu badannya mencapai 40 derajat. Aku sadar, Zahra membutuhkanku, dan aku tidak boleh menyia-nyiakan amanah yang telah Allah titipkan padaku. Aku belum siap kehilangan lagi.

Sejak saat itu, aku kembali berusaha menata hidupku. Kembali bekerja untuk masa depan anakku tercinta, Zahra yang membutuhkan kasih sayang dan juga biaya, sedangkan tabunganku semakin menipis.

Demi masa depan bidadari kecilku, akhirnya aku terima tawaran seorang teman untuk bekerja ke Taiwan.

Kini, satu tahun sudah aku di tanah Formusa ini. Mengais rezeki demi anakku, Disyak Putri Az-zahra.




JAUZA



Menjadi seorang ibu, adalah sebuah anugerah. Jangan pernah kita sia-siakan kesempatan itu.

****

Rasanya puas sekali, gladi bersih terakhir siang ini berjalan lancar. Para pendukung acara dan segala perlengkapan pun sudah 95% siap. Tiket pun sudah 'sold out' jauh-jauh hari. Tinggal istirahat sebentar lalu persiapan 'make up' untuk tampil malam nanti.

Sebagai salah satu calon diva, tentunya aku ingin konser amal malam nanti bisa sukses. Dengan begitu, nama dan penjualan albumku pun akan ikut terdongkrak. Aku benar-benar beruntung mempunyai management dan perusahaan rekamanan yang solid, yang membantu melambungkanku di dunia tarik suara ini.

"Mbak, ada BBM dari kakakmu." segera kusambar HP yang disodorkan Meylan, managerku.

'Aku udah sampai Jakarta, menginap di Putri Duyung, Ancol. Jauza aku ajak juga. Kalau ada waktu, Kemarilah.' isi pesan kakakku, Aulia.

"Mey, aku mau pergi sebentar menemui kakakku,"

"Tapi kamu perlu istirahat untuk perform kamu nanti malam."

"Hanya sebentar, Mey ... Please. Aku kangen banget sama Jauza."

"Hhmm, baiklah. Untuk mengalihkan wartawan, aku akan mengajak Ipank untuk keluar, wawancara. Kamu keluar lewat belakang. Jangan lupa pakai kerudung. Nih, pakai saja mobilnya Ipank." Aku menerima kunci mobil yang Meylan sodorkan. Setelah memakai kerudung, aku mengambil tas dan bergegas ke tempat parkir lewat pintu belakang.

Kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi ke arah Ancol. Aku ingin segera melampiaskan rasa kangen di antara waktu yang sempit ini.

Kedatangan Jauza ke Jakarta ini, sangatlah berarti buat aku. Bocah berusia 5 tahun itu adalah anak kandungku yang sengaja aku sembunyikan dari publik, demi karir menyanyiku. Dia terpaksa aku titipkan ke kakakku yang tinggal di Kalimantan, setelah aku lolos audisi lomba menyanyi, yang digelar salah satu stasiun televisi swasta. Pihak management dan perusahaan rekaman tidak mau statusku sebagai 'single parent', menghambat laju karirku yang terus menanjak. Aku selalu mengalihkan pembicaraan jika para wartawan bertanya tentang masalah pribadi. Baik itu status maupun kondisi keluargaku. Rencananya, jika konserku sukses malam nanti, baru aku akan mengenalkan Jauza ke publik, dan membuka status asliku.

Begitu sampai di hotel, aku langsung menemui kakakku yang sedang bermain di pantai, bersama Jauza.

"Terima kasih udah bawa Jauza ke sini, Mbak. Aku kangen banget sama dia." Sejenak aku dan kakakku berpelukan untuk melepas kangen.

"Sama-sama," kata kakakku. "Jauza, sini, salaman dulu sama Tante Aura!" teriak kakakku memanggil Jauza yang tengah asik bermain pasir. Jauza pun berlari menghampiri kami berdua.

"Tante, apa kabar?" Jauza mengulurkan tangannya yang mungil.

"Tante, kabar baik," jawabku sambil membalas uluran tangannya. "Bolehkah tante memelukmu?" Jauza memandangku sesaat, lalu mengangguk pelan.

Kupeluk tubuh mungil itu dengan segenap hati. Air mataku luruh di pipi. Sedih sekali menerima kenyataan, buah hatiku tak mengenaliku. Rasa bersalah dan bahagia beradu dalam dadaku. Bayi yang dulu aku tinggal, kini telah telah menjelma menjadi seorang bocah tampan yang sangat menggemaskan.

"Maafkan mama, Sayang," lirihku pilu. Kubelai rambutnya dan kucium pipinya yang cubby.

"Tante, kita main ombak, yuk," ajak Jauza membuyarkan lamunanku.

"Ayuk! Siapa takut!" jawabku setelah menghapus air mata.

Sesaat kemudian aku dan anakku, Jauza, sudah berkejaran di antara gemuruh ombak. Semburat keemasan mentari semakin menambah ceria kebahagiaanku bisa memeluk, mencium, dan mengejar anakku. Sambil bergandengan tangan, kami melompat-lompat di antara laju ombak. Hari ini aku benar-benar merasakan menjadi seorang ibu.

"Ra! Aura ... telpon!" teriak kakakku sambil melambai-lambaikan ponselku.

Setelah mengajak Jauza menepi, aku menghampiri kakak dan meraih telpon yang disodorkannya.

"Mbak Aura, ini sudah jam berapa? Kenapa belum balik ke sini? Dua jam lagi acaranya akan dimulai." Suara Meylan terdengar panik dari seberang sana.

"Aduh, maaf ... aku keasikkan main sama Zaza. Okay, aku balik sekarang." Kututup telpon dan menyimpannya kembali ke dalam tas.

"Zaza, jangan terlalu ke tengah, Sayang! Zaza kembali!" Teriakan kakakku yang sambil berlari ke berlari ke arah laut, seketika membuatku panik.

"Zaza mau ngejar burung-burung itu!" teriak Jauza di antara gemuruh ombak. Sementara air laut sudah mencapai dadanya.

"Cepat tarik Zaza, Mbak! Laut sudah mulai pas,...." Belum selesai aku mengingatkan, tiba-tiba ombak besar datang menerjang.

"Jauzaaa ...!" Aku langsung berlari ke tengah lautan menyusul kakakku yang saat itu sudah berjarak satu meter dari Jauza. Begitu ombak surut, aku hanya menemukan kakakku berdiri mematung sendiri, tanpa Jauza di pelukannya.

"Tolong! Tolong! Anakku hilang!" Aku berteriak-teriak sambil berjalan ke tengah lautan dengan panik. Aku semakin berteriak histeris manakala tubuh anakku tetap tidak ditemukan, meski petugas Sar pantai sudah turun tangan. Kakakku dan seorang petugas Sar, kemudian memaksaku untuk menunggu di darat selama masa pencarian.

Hingga malam tiba, aku masih bersimpuh di tepi pantai, menanti buah hatiku kembali. Tak kuhiraukan HPku yang terus berdering. Entah sudah berapa puluh panggilan dan pesan singkat dari Meylan, tapi aku tidak peduli. Anakku lebih penting dari konser itu.

"Tuhan, kembalikan anakku. Aku berjanji akan mengakui dan merawatnya dengan tanganku sendiri. Beri hamba kesempatan untuk jadi ibu yang baik buat anak hamba, Tuhan," doaku di antara derai air mata.

"Sudah ketemu! Sudah ketemu!" teriak beberapa orang dari perahu karet yang merapat ke pantai. Aku dan kakakku segera berlari menghampiri mereka. Namun, kakiku seketika lemas, manakala mereka bilang kalau Jauza telah meninggal.

"Zaza ... bangun, Sayang! Maafkan mama. Jangan tinggalkan mama, Sayang. Zazaaa ...!" Kupeluk tubuh anakku yang dingin. Sedingin wajahnya yang tanpa senyum. Zazaku kini telah pergi untuk selamanya.

Chiayi,




Kamis, 21 Mei 2015

Seribu Dolar ( Flash Fiction )



Hari ini, waktu berjalan begitu lambat. Jarum jam di dinding pun seolah tidak mau bergerak. Berulang kali kuperhatikan, masih saja bertengger di angka 12.

Saat ini aku sedang menunggu majikanku pulang kerja. Biasanya dia pulang jam 6 sore. Beberapa hari yang lalu, majikanku sudah berjanji untuk membantuku menarik uang tunai dari bank, tempat aku menabung. Namun, sudah dua hari dia selalu lupa. Terlalu sibuk, itu alasannya. Semoga saja hari ini dia tidak lupa lagi, karena aku sudah berjanji pada keluargaku untuk mengirim uang ke mereka, secepatnya.

Krak! Krak! Krak!

Suara pintu garasi terbuka. Dari balik tirai jendela, aku melihat mobil majikanku tengah masuk garasi. Aku segera berlari membukakan pintu depan buat dia.

"Nyonya, uang sa-ya ...." Pintaku malu-malu, begitu dia masuk ke rumah.

"Oh, jangan khawatir, hari ini sudah aku ambil. Ini uangmu, pas 80 ribu dolar," kata nyonya sambil menyodorkan sebuah amplop tebal, warna coklat.

"Alhamdulilah ...," lirihku . Segera kumasukkan amplop itu ke dalam saku celanaku.

Setelah semua pekerjaanku selesai, aku lantas masuk ke kamar untuk menghitung uang itu. Deg! Hanya 79 ribu dolar, kurang seribu dolar. Ah, mungkin aku yang salah hitung. Kembali kuhitung lembaran uang seribu-an dolar itu, tapi tetap saja jumlahnya tidak berubah. Tetap 79 lembar.

Uang seribu dolar sangatlah berharga buat aku. Itu adalah hasil keringatku bekerja di kota besar ini. Jika uang itu aku kasih ke Mbah Yayi--mertuaku-- uang itu bisa buat beli beras beberapa kilo, atau buat bayar listrik. Bisa juga buat bayar uang SPP, Dek Putri. Namun, ternyata uang seribu dolar itu tidak aku temukan. Aku juga tidak berani bertanya pada majikan, takut dikira tidak percaya. Ah, rasanya pengin nangis menerima kenyataan ini. Sejenak duniaku terasa runtuh berkeping-keping dan berhamburan entah kemana.

Butuh waktu beberapa hari buatku untuk mengikhlaskan uang itu. Rasa sesak di dada ini perlahan hilang, saat aku mendengar nasihat Mbah Yayi di telpon.

"Allah lebih tahu yang terbaik buat hamba-Nya, Nduk. Jangan bersedih, Allah tidak akan pernah menukar rezeki hamba-Nya."

Ternyata Mbah Yayi benar, aku mendapat ganti uangku yang hilang. Akhir bulan Juli aku mendapat undian struk belanja, sebesar seribu dolar.



Chiayi,   2015


Serupa Aku ( Flash Fiction )



Dari jendela apartemennya di lantai sembilan, Sandy melepas pandangan pada angkuhnya kota. Hamparan rumah-rumah dan gedung pencakar langit di luar sana, seakan jadi saksi kesia-siaan perjuangan Sandy, dalam meraih cintanya.

Ketampanan wajah Sandy ternyata bukan jaminan untuk mendapatkan cinta Calista. Kemiskinan menjadi alasan utama keluarga Calista, memutuskan hubungan mereka berdua.

"Saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian! Kamu itu hanya anak tukang kebunku! Ngaca dong! Derajat keluarga kamu itu tidak sebanding dengan keluarga kami," tegas ayah Calista. Sebuah keputusan yang sangat menyakitkan, namun sekaligus menyulut semangat Sandy untuk bangkit menggenggam dunia.

"Saat ini saya memang bukan siapa-siapa, Om. Tapi suatu saat nanti, saya akan tunjukkan kalau saya layak dan pantas untuk Calista," janji Sandy kepada kedua orangtua Calista.

Tekad Sandy untuk mendapatkan kekayaan dalam waktu singkat, membuat dia terpaksa masuk ke dalam dunia gemerlap namun nista. Tawaran itu sungguh menggiyur dan menggoyahkan iman Sandy.

"Dia salah satu konglomerat di kota ini. Jika kamu jadi pasangan gelapnya, maka apapun yang kamu minta, pasti akan dia kasih," kata sang perantara pada Sandy. Tanpa pikir panjang, Sandy menyetujui tawaran itu. Dia tidak perduli dengan profesi itu, asalkan lembaran-lembaran rupiah bisa dia dapat sebanyak-banyaknya.

Kini Sandy sudah mempunyai segala yang dia inginkan, untuk dipersembahankan pada keluarga Calista. Mobil, apartemen, dan setumpuk deposito di bank, tentu bisa membeli restu dari orangtua Calista.

Namun sayang, sebuah undangan pernikahan yang baru saja dia temukan di apartemennya, telah menghancurkan segala mimpinya. Dua orang yang sangat dia kenal, akan segera mengucap sumpah-janji sehidup semati.

"Haruskah aku merelakan Calista jatuh ke tangan orang yang sama bejatnya seperti diriku?" Sandy bimbang. Pandangannya beralih pada sosok laki-laki yang baru bangkit dari ranjang dan melangkah mendekatinya.

"Sayang, sebentar lagi aku akan menikah, tapi itu hanya untuk statusku di masyarakat saja. Dan kita akan tetap terus bersama, meski secara sembunyi-sembunyi," kata laki-laki bertubuh atletis itu sambil memeluk mesra Sandy.


Chiayi,  2015