Minggu, 31 Mei 2015
POSESIF
"Arrgghh ...!!" teriak Della saat Ardy, suaminya mendorong tubuhnya dengan kuat hingga dia tersungkur di atas sofa.
"Dasar wanita jalang! Berani sekali kau berselingkuh di belakangku!" bentak Ardy dengan amarah yang membara. Tangan kanannya melayang ke arah pipi Della.
Plak! Plak!
"Aaa!"
Della kembali menjerit dan memegang kedua pipinya yang kemerahan. Perih. Darah segar terlihat mengalir dari sudut bibirnya.
"Apa maksudmu, Mas? Aku tidak pernah berselingkuh di belakangmu."
"Masih tidak mau ngaku juga, Kau! Ngapain kamu ke pasar pakai dandan segala? Terus pulangnya pakai di antar mantan pacarmu, Si Jeffry! Kamu ada main sama dia, kan?" cerca Ardy.
"Sumpah, Mas, saya tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Bang Jeffry. Kebetulan tadi Bang Jeffry dari bengkel dan nawarin pulang bareng karena kita satu arah." Della berusaha menjelaskan kejadian yang terjadi tadi pagi. Namun, suaminyayang sudah dirasuki rasa cemburu buta, tetap tidak bisa menerima.
"Alaah ... itu, kan, alasanmu saja untuk membohongiku!"
Della beringsut saat Ardy mendekatinya. Wanita itu langsung mengiba ketika tangan kiri Ardy menjambak rambutnya, sedangkan tangan kanan mencekik lehernya.
"Arg- amm-puuhhnn, Maass ...," pinta Della sambil mencoba menjauhkan tangan Ardy.
"Aku peringatkan kamu, ya. Sekali lagi aku lihat kamu bersama Jeffry, aku tidak akan segan-segan membunuhmu. Kamu istriku, milikku seorang. Tidak akan kubiarkan Si Jeffry atau laki-laki lain memilikimu. Mengerti!"
"Mme-nger-thii, Mas ...," jawab Della di antara napasnya yang hampir putus.
Ardy kembali menghempaskan tubuh istrinya sebelum berlalu dan masuk ke kamar. Sementara Della hanya bisa menangis setelah lepas dari cengkeraman suaminya yang posesif.
Chiayi, 2015
Model FLP Taiwan
"Mak, kamu yakin dia model yang bakalan mewakili FLP?" tanya Ryan Ferdian Darsudi pada Mak Siti Allie yang tengah mengeluarkan baju kebaya modern dari dalam 'polybag'. Sesekali diliriknya seseorang yang tengah didandani di ruang 'make up' itu.
"Tentu saja, Tak. Kamu tahu, kan, kalau dia berasal dari Solo. Jadi, walaupun dia sudah lama tinggal di Taiwan, tapi tetap memegang teguh budaya Jawa."
"Iya, juga, sih, Mak. Tapi apa nggak ada yang lebih ...."
"Sudah, Jangan khawatir. Di tangan kami, dia akan menjelma bak putri keraton." Mak Siti menepuk pundak Ryan, pelan. Kemudian dia berlalu, berjalan ke arah sang model, sedangkan Ryan mengekor di belakangnya.
"Wah, hebat kamu, Fy! Riasanmu bikin wajah dia 'mangklingi'."
Ryan masih saja tak berkedip memandangi penampilan sang model, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sesekali nampak mulutnya berdecak kagum sampai meneteskan cairan bening.
"ck, ck, ck ...."
"Hahaha ... Siapa dulu, dong. ALlf Coco Fy gitu loohh." Gadis berjilbab yang bertugas merias model itu, tertawa lepas sambil memainkan kuas 'eye shadow'.
"Sudah, sudah ... jangan becanda terus. Cepat pakaikan baju dan sepatunya. Kita udah nggak punya waktu lagi. Ririn, mana sapatunya? Cepat!" perintah Mak Siti.
"Wah, gawat, Mak! Sepatunya nggak muat! Padahal ini sudah nomer paling besar, lho." Ririn Arums yang bertugas membawakan sepatu untuk sang model hanya bisa menunduk sedih dan takut.
"Waduh, bagaimana ini?" Mak Siti dan Sakina saling berpandangan.
Tiba-tiba datang Radytha Rahma Sarytha FirmanSyah menghampiri mereka. Dia adalah anggota FLP yang memiliki tubuh paling subur.
"Pakai sepatuku saja. Kebetulan aku pakai 'hak' tinggi hari ini." Radytha segera melepas sepatunya dan menyerahkan pada sang model. "Tuh, pas, kan."
"Dan inilah penampilan peserta nomer 30, dari Group Lingkar Pena Taiwan. Hadirin sekalian, beri tepuk tangan untuk peserta nomeeer ... 30!" teriak MC dari atas panggung.
"Cepat! Cepat, Justto! Sampai di depan, jangan lupa selendangnya dikibarkan, ya." Sekali lagi Mak Siti memberi instruksi pada Justto Lasoo, model dari FLP.
"Do'ain aku, ya, teman-teman," kata Justto sambil berjalan ke belakang panggung.
"Pasti ...!" teriak teman-temannya, kompak.
Setelah seorang peserta turun panggung, Justto mulai keluar dari 'backstage'. Dengan balutan kebaya modern warna kuning keemasan dan dipadu dengan warna merah marun, Justto melangkah dengan anggun di atas 'catwalk'. Kilatan lampu blitz dan gemuruh tepuk tangan para penonton membuat dia makin percaya diri. Perlahan direntangkannya kedua tangannya, dan selendang batiknya berkibar sempura terkena embusan kipas angin.
Sampai di ujung stage, Justto berhenti sebentar, mengatupkan dua telapak tangannya di dada sebagai penghormatan kepada para juri, lalu memutar tubuhnya dan kembali melenggang dengan anggun menuju 'backstage.
Begitu Justto turun panggung, teman-temannya yang sudah menunggu, langsung menyambut dia penuh dengan kegembiraan. Tiba-tiba seorang laki-laki bermata sipit dan berkulit putih datang menghampiri mereka.
"Maaf, boleh saya berkenalan dengan modelnya. Saya A-Ciang. Bagaimana kalau saya mengundang Nona untuk makan malam?" kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Justto.
"Nona, Nona kepala Lu botak! Aku, tuh, cowok tulen. Masak mau jeruk makan jeruk," kata Justto dengan suaranya yang bariton.
"Oh, maaf ...." Lelaki bermata sipit itu langsung pergi diiringi gelak tawa seluruh anggota FLP.
Dua Bidadariku
Patah tumbuh, hilang berganti.
Mungkin pepatah ini lah yang cocok menggambarkan sekelumit kisah hidupku yang selamanya tidak akan pernah aku lupakan. Aku yakin, apa pun yang terjadi kepadaku adalah kehendak Allah, dan aku kembalikan semuanya ini hanya kepada Allah semata. Keyakinan itu lah yang kini membuatku kembali mencoba bangkit lagi, demi buah hatiku tercinta, Zahra.
*****
Sejak adikku mengenalkanku dengan temannya yang bernama Syakda, aku selalu merasa tidak tenang. Rasanya ingin selalu memandang wajahnya yang cantik, dan melihat senyumnya yang menawan. Sebagai laki-laki normal, wajar saja kalau aku sudah jatuh cinta pada Syakda, kembang desa sebelah yang baru saja pulang dari pondok pesantren.
Lama-kelamaan rasa ini semakin kuat di hatiku, hingga aku beranikan diri meminta kedua orangtuaku untuk melamar Syakda. Aku tahu banyak laki-laki lain yang memperebutkannya, tetapi aku tidak perduli.
Saat aku dan kedua orangtuaku mendatangi rumahnya, hati dan tubuhku terasa bergetar. Apalagi saat aku melihatnya mengenakan jilbab warna ungu, sungguh sangat anggun dan cantik. Dia benar-benar seperti jelmaan bidadari.
Acara lamaran pun berjalan lancar. Aku tidak menyangka, kalau lamaranku yang sebenarnya hanya mencoba keberuntungan ini, ternyata diterima oleh Syakda. Aku tahu banyak pemuda baik-baik dan bahkan kaya, tergila-gila dan berebut ingin mempersunting Syakda.
Pernah suatu hari aku bertanya padanya, apa alasan dia memilih menerima lamaranku, sedangkan aku hanya seorang pengangguran dan berandalan? Kenapa dia tidak memilih mereka yang sarjana, santri yang alim, atau mereka yang berpenghasilan cukup? Dia menjawab, bahwa dia selalu melihat wajahku dalam sholat istikharahnya, sehingga dia yakin aku lah jodoh yang dipilih Allah untuknya.
Bisa menikahi Syakda adalah sebuah anugerah untukku. Bukan karena aku bisa memenangkan persaingan dalam memperebutkannya, tetapi lebih kepada perubahan dalam diriku sendiri. Syakda yang pendiam dan anggun itu selalu saja bisa membuatku nyaman bila berada di sisinya. Hanya dengan seluas senyum dan dekapan lembutnya, maka semua emosi dan lelahku akan hilang seketika. Aku yang dikenal sebagai pemuda berandalan pembuat onar oleh hampir semua orang, perlahan bisa berubah jadi tenang setelah menikah dengannya. Sehingga seluruh keluarga besarku menganggap Syakda adalah malaikat yang dikirim Allah untuk merubah tabiat burukku.
Tidak aku pungkiri, kharisma yang terpancar dari Syakda benar-benar membuatku bertekuk lutut. Apalagi saat dia mengaji, suaranya sungguh bisa menenangkannya batinku. Meskipun dia tahu aku adalah seorang preman, namun dia tidak pernah menuntutku untuk merubah. Yang aku tahu, dia seolah tidak pernah lelah untuk mengajakku sholat bersama. Meski selalu aku tolak, tetapi dia tidak pernah marah. Malahan dia selalu mencium tanganku seusai sholat sembari berkata, "Aku akan selalu sabar menanti Mas Yanto jadi iman dalam hidup dan sholatku."
Sikapnya yang sabar dan penuh pengertian itu lah yang akhirnya membuat aku perlahan sadar dan mencoba untuk hidup normal. Aku ingin menjadi suami yang bisa menafkahi dan juga jadi panutan bagi istriku. Aku ingin menjadi imam yang baik buat istri dan anakku nanti.
Aku pun mulai meninggalkan kebiasaan burukku dan mencoba bekerja. Jika pagi aku bekerja di sawah, warisan dari orangtua Syakda, sedangkan sore sampai malam aku menjadi kernet angkutan kota. Meskipun hasilnya tidak seberapa, namun aku bersyukur bisa menafkahi istriku dengan uang halal, apalagi Syakda tidak pernah protes dengan jumlah uang yang aku berikan padanya. Aku juga mulai belajar sholat lagi. Ternyata tidak mudah untuk kembali belajar agama yang sudah begitu lama aku tinggalkan. Yang aku ingat, terakhir aku sholat sewaktu kelas satu SMP. Namun Syakda seolah tidak pernah lelah untuk mengajariku. Di bawah bimbingannya, perlahan aku mulai bisa membaca Alquran, dan alhamdulilah sudah bisa menjadi iman sholat untuknya.
Kebahagian rumah tanggaku pun semakin lengkap dengan kehamilan istriku ditahun ke-empat pernikahan kami. Subhanallah, tidak hentinya aku bersyukur, atas segala nikmat dan karunia ini. Anak yang sudah lama kami nantikan, kini sudah bersemayam dalam rahim istriku tercinta. Akh, rasanya masih tidak percaya kalau aku akan menjadi seorang bapak.
Semenjak istriku hamil, aku jadi semakin semangat bekerja. Aku ingin mempersiapkan yang terbaik untuk kelahiran bayi kami. Bahkan aku rela pulang larut, asalkan bisa mendapatkan tambahan uang untuk menyambut kelahiran bayi kami nanti.
Namun ternyata Allah berkehendak lain. Siang itu, 25 November 2006, aku mendapat kabar kalau istriku di bawa ke RSUD Ungaran karena jatuh, dan mengalami pendarahan hebat. Padahal saat itu usia kandungannya baru masuk bulan ke delapan. Saat itu aku benar-benar panik dan takut. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menyusul ke sana. Sampai di sana, keluarga besarku sudah berkumpul di depan UGD dan tidak diperbolehkan masuk, karena istriku sedang dalam perawatan intensif. Aku coba bertanya kepada ibuku penyebab jatuhnya istriku. Katanya istriku terpeleset saat mencuci baju. Padahal sejak kehamilannya menginjak tujuh bulan, aku dan ibu selalu melarang dia untuk melakukan pekerjaan berat, ternyata dia keras kepala.
Setelah hampir satu jam kami menunggu, akhirnya seorang dokter keluar menemui kami. Aku pun langsung bertanya padanya tentang kondisi istriku, dan dia menyampaikan sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Posisi bayi melintang, sedangkan Si Ibu terlalu lemah untuk melahirkan secara normal karena pendarah, dan ketubannya sudah pecah. Jalan satu-satunya adalah operasi. Mengingat kondisi keduanya, kemungkinan kami hanya bisa menyelamatkan satu diantara keduanya."
Aku langsung lemas mendengar ucapan Dokter itu, "Ya Allah, jangan Kau ambil salah satu dari mereka. Aku sangat menyayangi keduanya." pintaku dalam hati. Tanpa sadar butiran bening sudah menetes di pipiku.
"Silahkan ke bagian administrasi untuk menandatangani surat persetujuan operasi," kata seorang suster menyadarkanku.
"Apa kah tidak bisa diselamatkan keduanya, Dok? Saya mohon ... saya mohon, Dokter ...," kataku mengiba pada dokter itu.
"Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk ibu dan bayinya."
Setelah menandatangani surat persetujuan operasi aku langsung berlari menghampiri istriku yang tengah didorong menuju kamar operasi. Di bias wajahnya yang pucat, dia masih berusaha melukis seulas senyum di bibirnya. Jarum infus dan transfusi darah masih melekat di pergelangan tangannya. Darah segar pun masih nampak membekas di seprai dan selimutnya.
"Bertahan, Dek, kamu dan anak kita akan baik-baik saja," kataku mencoba menenangkannya. Padahal di dalam hatiku sendiri, rasa takut dan khawatir begitu hebat menyekapku. Kugenggam erat tangannya yang terasa dingin dan berkali-kali kuciumi keningnya. Aku ingin dia tahu, bahwa aku di sini untuknya dan ikut merasakan sakitnya.
"Ka ... sih nama anak ki ... ta Az ... zahra," bisik lirih istriku. Aku hanya bisa mengangguk. Air mataku berderai. Aku sungguh tak tega melihat wajahnya yang menahan sakit yang teramat sangat. Sebelum memasuki ruang operasi, kembali kuciumi wajah istriku tercinta.
Takut, cemas, bingung, gelisah ... dan entah perasaan apalagi yang kini menghantuiku selama proses operasi istriku. Aku hanya bisa duduk, berjalan mondar-mandir, dan duduk lagi, persis seperti orang linglung.
"Berdoa, Yan. Doakan istri dan anakmu supaya selamat," kata ibu seiring suara adzan isya yang terdengar sayup.
Aku segera bergegas ke mushola rumahsakit untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Baru dua rokaat aku berhenti dan kembali menangis. Sholatku tidak tenang. Bayangan wajah istriku yang sedang kesakitan begitu kuat menari di pelupuk mataku.
"Ya Allah, ampuni aku yang tidak bisa menegakkan sholat ini dengan benar. Ya Allah, selamatkan istri dan anakku. Jangan Kau ambil salah satu dari mereka." kupanjatkan sebaris doa sebelum aku kembali bersuci dan mengulang sholatku.
Setelah selesai sholat, aku segera berlari menuju kamar operasi lagi. Tepat saat aku sampai di sana, pintu kamar operasi dibuka dari dalam. Aku dan keluargaku langsung menghampiri dokter yang tadi mengoperasi istriku.
"Bagaimana, Dok ...?" tanyaku hampir serempak dengan ibuku.
"Maaf kan saya, Pak, Bu. Bayinya sudah lahir dengan selamat, tetapi kami tidak bisa menyelamatkan nyawa ibunya."
"Tidaaakk ...!! Dek, Syakda ...!" aku langsung berlari masuk ke dalam ruang operasi. Kupeluk erat tubuh istriku yang baru saja di tutup oleh seorang suster. Tidak mampu lagi kutahan airmata ini. Hatiku terasa hampa saat kulihat wajah istriku yang telah pucat. Kosong ... hatiku seolah hilang. Separuh jiwaku kini telah pergi untuk selamanya. Tiba-tiba semua kebahagian selama ini menjelma menjadi kemarau yang gersang dalam sekejap.
"Istri bapak sendiri yang meminta dokter untuk menyelamatkan bayinya. Dia tidak ingin membunuh bayi yang sudah lama dia nantikan," kata seorang suster di sampingku.
Ya, aku mengerti maksud istriku. Dia sangat ingin bisa mempersembahkan seorang bayi untuk pernikahan kami, tetapi aku tidak menyangka semua itu harus ditebus dengan kepergiannya. Akh, betapa mulia hati istriku.
"Selamat jalan, Sayang. Ijinkan aku titipkan salam perpisahan panjang di keningmu. Selamanya, kamu lah bidadariku di dunia dan di surga. Terimakasih atas kesetiaanmu menemaniku dalam suka dan duka. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga dan membahagiakanmu. Tunggu aku di sana, Sayang." Kembali kucium kening istriku dan berusaha untuk ikhlas melepasnya menghadap Illahi.
*****
Beberapa hari sejak kematian istriku, aku masih malas untuk bekerja. Duka ini masih kuat menyelimuti hatiku. Setiap bayangan wajahnya melintas di benakku, airmataku selalu menetes. Kini seluruh waktuku hanya aku gunakan untuk beribadah dan berdoa untuk istriku. Aku ingin istriku tahu, bahwa aku akan selalu ada untuknya, meski kini dia di alam yang berbeda.
Hingga suatu hari Allah menyadarkanku bahwa aku masih punya tanggung jawab yang lain. Zahra, anakku yang selama ini dirawat ibuku sakit, dan harus diopname karena suhu badannya mencapai 40 derajat. Aku sadar, Zahra membutuhkanku, dan aku tidak boleh menyia-nyiakan amanah yang telah Allah titipkan padaku. Aku belum siap kehilangan lagi.
Sejak saat itu, aku kembali berusaha menata hidupku. Kembali bekerja untuk masa depan anakku tercinta, Zahra yang membutuhkan kasih sayang dan juga biaya, sedangkan tabunganku semakin menipis.
Demi masa depan bidadari kecilku, akhirnya aku terima tawaran seorang teman untuk bekerja ke Taiwan.
Kini, satu tahun sudah aku di tanah Formusa ini. Mengais rezeki demi anakku, Disyak Putri Az-zahra.
JAUZA
Menjadi seorang ibu, adalah sebuah anugerah. Jangan pernah kita sia-siakan kesempatan itu.
****
Rasanya puas sekali, gladi bersih terakhir siang ini berjalan lancar. Para pendukung acara dan segala perlengkapan pun sudah 95% siap. Tiket pun sudah 'sold out' jauh-jauh hari. Tinggal istirahat sebentar lalu persiapan 'make up' untuk tampil malam nanti.
Sebagai salah satu calon diva, tentunya aku ingin konser amal malam nanti bisa sukses. Dengan begitu, nama dan penjualan albumku pun akan ikut terdongkrak. Aku benar-benar beruntung mempunyai management dan perusahaan rekamanan yang solid, yang membantu melambungkanku di dunia tarik suara ini.
"Mbak, ada BBM dari kakakmu." segera kusambar HP yang disodorkan Meylan, managerku.
'Aku udah sampai Jakarta, menginap di Putri Duyung, Ancol. Jauza aku ajak juga. Kalau ada waktu, Kemarilah.' isi pesan kakakku, Aulia.
"Mey, aku mau pergi sebentar menemui kakakku,"
"Tapi kamu perlu istirahat untuk perform kamu nanti malam."
"Hanya sebentar, Mey ... Please. Aku kangen banget sama Jauza."
"Hhmm, baiklah. Untuk mengalihkan wartawan, aku akan mengajak Ipank untuk keluar, wawancara. Kamu keluar lewat belakang. Jangan lupa pakai kerudung. Nih, pakai saja mobilnya Ipank." Aku menerima kunci mobil yang Meylan sodorkan. Setelah memakai kerudung, aku mengambil tas dan bergegas ke tempat parkir lewat pintu belakang.
Kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi ke arah Ancol. Aku ingin segera melampiaskan rasa kangen di antara waktu yang sempit ini.
Kedatangan Jauza ke Jakarta ini, sangatlah berarti buat aku. Bocah berusia 5 tahun itu adalah anak kandungku yang sengaja aku sembunyikan dari publik, demi karir menyanyiku. Dia terpaksa aku titipkan ke kakakku yang tinggal di Kalimantan, setelah aku lolos audisi lomba menyanyi, yang digelar salah satu stasiun televisi swasta. Pihak management dan perusahaan rekaman tidak mau statusku sebagai 'single parent', menghambat laju karirku yang terus menanjak. Aku selalu mengalihkan pembicaraan jika para wartawan bertanya tentang masalah pribadi. Baik itu status maupun kondisi keluargaku. Rencananya, jika konserku sukses malam nanti, baru aku akan mengenalkan Jauza ke publik, dan membuka status asliku.
Begitu sampai di hotel, aku langsung menemui kakakku yang sedang bermain di pantai, bersama Jauza.
"Terima kasih udah bawa Jauza ke sini, Mbak. Aku kangen banget sama dia." Sejenak aku dan kakakku berpelukan untuk melepas kangen.
"Sama-sama," kata kakakku. "Jauza, sini, salaman dulu sama Tante Aura!" teriak kakakku memanggil Jauza yang tengah asik bermain pasir. Jauza pun berlari menghampiri kami berdua.
"Tante, apa kabar?" Jauza mengulurkan tangannya yang mungil.
"Tante, kabar baik," jawabku sambil membalas uluran tangannya. "Bolehkah tante memelukmu?" Jauza memandangku sesaat, lalu mengangguk pelan.
Kupeluk tubuh mungil itu dengan segenap hati. Air mataku luruh di pipi. Sedih sekali menerima kenyataan, buah hatiku tak mengenaliku. Rasa bersalah dan bahagia beradu dalam dadaku. Bayi yang dulu aku tinggal, kini telah telah menjelma menjadi seorang bocah tampan yang sangat menggemaskan.
"Maafkan mama, Sayang," lirihku pilu. Kubelai rambutnya dan kucium pipinya yang cubby.
"Tante, kita main ombak, yuk," ajak Jauza membuyarkan lamunanku.
"Ayuk! Siapa takut!" jawabku setelah menghapus air mata.
Sesaat kemudian aku dan anakku, Jauza, sudah berkejaran di antara gemuruh ombak. Semburat keemasan mentari semakin menambah ceria kebahagiaanku bisa memeluk, mencium, dan mengejar anakku. Sambil bergandengan tangan, kami melompat-lompat di antara laju ombak. Hari ini aku benar-benar merasakan menjadi seorang ibu.
"Ra! Aura ... telpon!" teriak kakakku sambil melambai-lambaikan ponselku.
Setelah mengajak Jauza menepi, aku menghampiri kakak dan meraih telpon yang disodorkannya.
"Mbak Aura, ini sudah jam berapa? Kenapa belum balik ke sini? Dua jam lagi acaranya akan dimulai." Suara Meylan terdengar panik dari seberang sana.
"Aduh, maaf ... aku keasikkan main sama Zaza. Okay, aku balik sekarang." Kututup telpon dan menyimpannya kembali ke dalam tas.
"Zaza, jangan terlalu ke tengah, Sayang! Zaza kembali!" Teriakan kakakku yang sambil berlari ke berlari ke arah laut, seketika membuatku panik.
"Zaza mau ngejar burung-burung itu!" teriak Jauza di antara gemuruh ombak. Sementara air laut sudah mencapai dadanya.
"Cepat tarik Zaza, Mbak! Laut sudah mulai pas,...." Belum selesai aku mengingatkan, tiba-tiba ombak besar datang menerjang.
"Jauzaaa ...!" Aku langsung berlari ke tengah lautan menyusul kakakku yang saat itu sudah berjarak satu meter dari Jauza. Begitu ombak surut, aku hanya menemukan kakakku berdiri mematung sendiri, tanpa Jauza di pelukannya.
"Tolong! Tolong! Anakku hilang!" Aku berteriak-teriak sambil berjalan ke tengah lautan dengan panik. Aku semakin berteriak histeris manakala tubuh anakku tetap tidak ditemukan, meski petugas Sar pantai sudah turun tangan. Kakakku dan seorang petugas Sar, kemudian memaksaku untuk menunggu di darat selama masa pencarian.
Hingga malam tiba, aku masih bersimpuh di tepi pantai, menanti buah hatiku kembali. Tak kuhiraukan HPku yang terus berdering. Entah sudah berapa puluh panggilan dan pesan singkat dari Meylan, tapi aku tidak peduli. Anakku lebih penting dari konser itu.
"Tuhan, kembalikan anakku. Aku berjanji akan mengakui dan merawatnya dengan tanganku sendiri. Beri hamba kesempatan untuk jadi ibu yang baik buat anak hamba, Tuhan," doaku di antara derai air mata.
"Sudah ketemu! Sudah ketemu!" teriak beberapa orang dari perahu karet yang merapat ke pantai. Aku dan kakakku segera berlari menghampiri mereka. Namun, kakiku seketika lemas, manakala mereka bilang kalau Jauza telah meninggal.
"Zaza ... bangun, Sayang! Maafkan mama. Jangan tinggalkan mama, Sayang. Zazaaa ...!" Kupeluk tubuh anakku yang dingin. Sedingin wajahnya yang tanpa senyum. Zazaku kini telah pergi untuk selamanya.
Chiayi,
Kamis, 21 Mei 2015
Seribu Dolar ( Flash Fiction )
Hari ini, waktu berjalan begitu lambat. Jarum jam di dinding pun seolah tidak mau bergerak. Berulang kali kuperhatikan, masih saja bertengger di angka 12.
Saat ini aku sedang menunggu majikanku pulang kerja. Biasanya dia pulang jam 6 sore. Beberapa hari yang lalu, majikanku sudah berjanji untuk membantuku menarik uang tunai dari bank, tempat aku menabung. Namun, sudah dua hari dia selalu lupa. Terlalu sibuk, itu alasannya. Semoga saja hari ini dia tidak lupa lagi, karena aku sudah berjanji pada keluargaku untuk mengirim uang ke mereka, secepatnya.
Krak! Krak! Krak!
Suara pintu garasi terbuka. Dari balik tirai jendela, aku melihat mobil majikanku tengah masuk garasi. Aku segera berlari membukakan pintu depan buat dia.
"Nyonya, uang sa-ya ...." Pintaku malu-malu, begitu dia masuk ke rumah.
"Oh, jangan khawatir, hari ini sudah aku ambil. Ini uangmu, pas 80 ribu dolar," kata nyonya sambil menyodorkan sebuah amplop tebal, warna coklat.
"Alhamdulilah ...," lirihku . Segera kumasukkan amplop itu ke dalam saku celanaku.
Setelah semua pekerjaanku selesai, aku lantas masuk ke kamar untuk menghitung uang itu. Deg! Hanya 79 ribu dolar, kurang seribu dolar. Ah, mungkin aku yang salah hitung. Kembali kuhitung lembaran uang seribu-an dolar itu, tapi tetap saja jumlahnya tidak berubah. Tetap 79 lembar.
Uang seribu dolar sangatlah berharga buat aku. Itu adalah hasil keringatku bekerja di kota besar ini. Jika uang itu aku kasih ke Mbah Yayi--mertuaku-- uang itu bisa buat beli beras beberapa kilo, atau buat bayar listrik. Bisa juga buat bayar uang SPP, Dek Putri. Namun, ternyata uang seribu dolar itu tidak aku temukan. Aku juga tidak berani bertanya pada majikan, takut dikira tidak percaya. Ah, rasanya pengin nangis menerima kenyataan ini. Sejenak duniaku terasa runtuh berkeping-keping dan berhamburan entah kemana.
Butuh waktu beberapa hari buatku untuk mengikhlaskan uang itu. Rasa sesak di dada ini perlahan hilang, saat aku mendengar nasihat Mbah Yayi di telpon.
"Allah lebih tahu yang terbaik buat hamba-Nya, Nduk. Jangan bersedih, Allah tidak akan pernah menukar rezeki hamba-Nya."
Ternyata Mbah Yayi benar, aku mendapat ganti uangku yang hilang. Akhir bulan Juli aku mendapat undian struk belanja, sebesar seribu dolar.
Chiayi, 2015
Serupa Aku ( Flash Fiction )
Dari jendela apartemennya di lantai sembilan, Sandy melepas pandangan pada angkuhnya kota. Hamparan rumah-rumah dan gedung pencakar langit di luar sana, seakan jadi saksi kesia-siaan perjuangan Sandy, dalam meraih cintanya.
Ketampanan wajah Sandy ternyata bukan jaminan untuk mendapatkan cinta Calista. Kemiskinan menjadi alasan utama keluarga Calista, memutuskan hubungan mereka berdua.
"Saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian! Kamu itu hanya anak tukang kebunku! Ngaca dong! Derajat keluarga kamu itu tidak sebanding dengan keluarga kami," tegas ayah Calista. Sebuah keputusan yang sangat menyakitkan, namun sekaligus menyulut semangat Sandy untuk bangkit menggenggam dunia.
"Saat ini saya memang bukan siapa-siapa, Om. Tapi suatu saat nanti, saya akan tunjukkan kalau saya layak dan pantas untuk Calista," janji Sandy kepada kedua orangtua Calista.
Tekad Sandy untuk mendapatkan kekayaan dalam waktu singkat, membuat dia terpaksa masuk ke dalam dunia gemerlap namun nista. Tawaran itu sungguh menggiyur dan menggoyahkan iman Sandy.
"Dia salah satu konglomerat di kota ini. Jika kamu jadi pasangan gelapnya, maka apapun yang kamu minta, pasti akan dia kasih," kata sang perantara pada Sandy. Tanpa pikir panjang, Sandy menyetujui tawaran itu. Dia tidak perduli dengan profesi itu, asalkan lembaran-lembaran rupiah bisa dia dapat sebanyak-banyaknya.
Kini Sandy sudah mempunyai segala yang dia inginkan, untuk dipersembahankan pada keluarga Calista. Mobil, apartemen, dan setumpuk deposito di bank, tentu bisa membeli restu dari orangtua Calista.
Namun sayang, sebuah undangan pernikahan yang baru saja dia temukan di apartemennya, telah menghancurkan segala mimpinya. Dua orang yang sangat dia kenal, akan segera mengucap sumpah-janji sehidup semati.
"Haruskah aku merelakan Calista jatuh ke tangan orang yang sama bejatnya seperti diriku?" Sandy bimbang. Pandangannya beralih pada sosok laki-laki yang baru bangkit dari ranjang dan melangkah mendekatinya.
"Sayang, sebentar lagi aku akan menikah, tapi itu hanya untuk statusku di masyarakat saja. Dan kita akan tetap terus bersama, meski secara sembunyi-sembunyi," kata laki-laki bertubuh atletis itu sambil memeluk mesra Sandy.
Chiayi, 2015
Tentang Mas Ari ( Flash Fiction )
Tentang Mas Ari
Lebaran selalu identik dengan acara silaturahmi atau saling mengunjungi. Seperti pada Lebaran ketiga kali ini, aku diajak oleh keluarga besar suami untuk mengunjungi Mbah Bardhi, salah seorang leluhurnya yang tinggal di kota Magelang.
Ternyata di rumah Mbah Bardhi telah berkumpul beberapa kerabat lainnya yang berasal dari berbagai kota. Meskipun banyak orang dan ada beberapa yang baru kenal, tapi suasana kekeluargaan sangat terasa sekali di sana. Para dewasa saling bercerita dan melepas kangen. Sedangkan anak-anak, riang bermain sambil sesekali mencicipi berbagai menu makanan yang tersedia.
Di antara sekian banyak anak-anak di sana, hanya Ari---anak laki-laki berusia 7 tahun yang merupakan anak pertama dari Mbak Yeni, berasal dari Jakarta---yang tidak mau bermain dengan anak-anak lainnya. Sama seperti Lebaran tiga tahun yang lalu, Ari hanya duduk di balai ruang tengah. Kalau dulu dia mengambil banyak Aqua gelas sebagai mainan, kini dia mengambil kaleng biskuit. Ari mengeluarkan beberapa biskuit dan menyusunnya ke atas atau ke samping. Dia tidak mau bicara atau pun menjawab jika ada yang mengajaknya bicara atau bermain.
"Bunda, Mas Ari itu sombong, ya, mentang-mentang dari Jakarta," bisik anakku sambil bergelayut manja.
"Mas Ari itu tidak sombong, Sayang. Tapi, ada sedikit 'sakit' di kepalanya."
"Begini, ya, Bunda?" Anakku menggerakkan jari telunjuk kanannya seperti membelah kening.
"Sstt ... bukan seperti itu dan tidak boleh bilang seperti itu tentang Mas Ari."
Aku segera menarik anakku dalam pelukanku, sebelum ada yang tahu tentang penilaiannya terhadap Ari. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada anakku bahwa Ari tidak sombong dan tidak gila. Namun, Ari punya dunia yang lain dan dia sedang menikmati dunianya itu. Dunia yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya, dunia Autis. Mbak Yeni memang pernah bercerita, kalau Ari mengindap autis dan sampai sekarang masih menjalani terapi.
"Nanti kalau kita sudah sampai rumah, bunda akan kasih tahu kamu kenapa Mas Ari seperti itu. Pokoknya tidak boleh bicara soal Mas Ari di sini. Mengerti?"
"Mengerti, Bunda," jawab anakku. Lalu, dia kembali berbaur dengan teman-temannya untuk meneruskan permainan yang tertunda.
Chiayi, 2015
Lebaran selalu identik dengan acara silaturahmi atau saling mengunjungi. Seperti pada Lebaran ketiga kali ini, aku diajak oleh keluarga besar suami untuk mengunjungi Mbah Bardhi, salah seorang leluhurnya yang tinggal di kota Magelang.
Ternyata di rumah Mbah Bardhi telah berkumpul beberapa kerabat lainnya yang berasal dari berbagai kota. Meskipun banyak orang dan ada beberapa yang baru kenal, tapi suasana kekeluargaan sangat terasa sekali di sana. Para dewasa saling bercerita dan melepas kangen. Sedangkan anak-anak, riang bermain sambil sesekali mencicipi berbagai menu makanan yang tersedia.
Di antara sekian banyak anak-anak di sana, hanya Ari---anak laki-laki berusia 7 tahun yang merupakan anak pertama dari Mbak Yeni, berasal dari Jakarta---yang tidak mau bermain dengan anak-anak lainnya. Sama seperti Lebaran tiga tahun yang lalu, Ari hanya duduk di balai ruang tengah. Kalau dulu dia mengambil banyak Aqua gelas sebagai mainan, kini dia mengambil kaleng biskuit. Ari mengeluarkan beberapa biskuit dan menyusunnya ke atas atau ke samping. Dia tidak mau bicara atau pun menjawab jika ada yang mengajaknya bicara atau bermain.
"Bunda, Mas Ari itu sombong, ya, mentang-mentang dari Jakarta," bisik anakku sambil bergelayut manja.
"Mas Ari itu tidak sombong, Sayang. Tapi, ada sedikit 'sakit' di kepalanya."
"Begini, ya, Bunda?" Anakku menggerakkan jari telunjuk kanannya seperti membelah kening.
"Sstt ... bukan seperti itu dan tidak boleh bilang seperti itu tentang Mas Ari."
Aku segera menarik anakku dalam pelukanku, sebelum ada yang tahu tentang penilaiannya terhadap Ari. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada anakku bahwa Ari tidak sombong dan tidak gila. Namun, Ari punya dunia yang lain dan dia sedang menikmati dunianya itu. Dunia yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya, dunia Autis. Mbak Yeni memang pernah bercerita, kalau Ari mengindap autis dan sampai sekarang masih menjalani terapi.
"Nanti kalau kita sudah sampai rumah, bunda akan kasih tahu kamu kenapa Mas Ari seperti itu. Pokoknya tidak boleh bicara soal Mas Ari di sini. Mengerti?"
"Mengerti, Bunda," jawab anakku. Lalu, dia kembali berbaur dengan teman-temannya untuk meneruskan permainan yang tertunda.
Chiayi, 2015
Paranoid ( Flash Fiction )
Beberapa hari ini Nenek Gayung sangat bahagia karena cucunya, Si Tobil, akhirnya meninggal dunia dan menyusulnya ke dunia hantu. Namun, karena Si Tobil dianggap terlalu ganteng dan kematiannya kurang tragis---mendadak sakit jantung karena tiba-tiba dicium oleh topeng monyet yang sedang ditanggapnya---membuat dia harus menjalani ospek beberapa hari di makam, supaya bisa jadi hantu yang menyeramkan dan ditakuti oleh manusia.
Malam itu nampak Nenek Gayung bergegas melayang menuju tempat Si Tobil menjalani ospek. Tangan kanannya membawa gayung yang berisi penuh darah kambing, sedangkan tangan kirinya memegang erat kain kebayanya yang hampir lepas karena tiupan angin malam yang wuuss ... kencang banget. Sebuah berita yang barusan dia baca di beranda facebook-nya, membuat Nenek Gayung takut dan cemas akan kondisi Si Tobil yang saat ini tengah menjalani ospek.
'Seorang mahasiswa baru, meninggal dunia karena dianiaya oleh seniornya saat ospek.' Demikian judul dari berita yang langsung membuat kain kebaya Nenek Gayung melorot nggak karuan, saking syoknya.
'Bagaimana jika mereka menyiksa Si Tobil sama seperti mahasiswa baru itu? Tidak memberinya minum darah atau memanggangnya di bawah sinar matahari. Atau ... Jangan-jangan ... oh, tidaak!!' Berbagai pikiran paranoid langsung berjumpalitan di benak Nenek Gayung.
Begitu sampai di tempat ospek, Nenek Gayung langsung meletakkan gayungnya. Lalu, dia mencincing kebayanya tinggi-tinggi, memasukkan ujung kain ke tali yang mengikat pinggangnya, kemudian berkacak pinggang. Beberapa hantu nampak melongo melihat betis dan paha Nenek Gayung yang kurus dan tidak mulus alias keriput. Tanpa basa-basi Nenek Gayung langsung marah-marah pada; Pakdhe Pocong, Tuyul imut, Genderuwo Merah, dan Kunti sexy yang bertugas sebagai tukang plonco hantu baru.
"Wooii ...!! Awas, ya, kalau sampai kalian menganiaya cucu kesayanganku, Si Tobil, sampai meninggal! Aku tidak akan segan-segan mencium kalian satu per satu sampai kalian muntah!"
"Menganiaya, bagaimana, Nek? Kita sebagai keluarga besar hantu, kan, harus saling mengasihi," kata Pakdhe Pocong sambil ngesot ke arah Nenek Gayung. Dia barusan makan mie ayam, jadinya tidak berani lompat-lompat karena takut sakit perut.
"Menganiaya seperti di berita ini, lho," Nenek Gayung mengeluarkan HP Sa*m*ng yang dia selipkan di dadanya yang telah rata. Kemudian dia membuka aplikasi Facebook dan menunjukkan berita yang tadi dibacanya kepada Pakdhe Pocong.
"Ini, sih, kejadiannya di dunia manusia, Nek. Manusia dan hantu, kan, udah beda dunia. Kalau mereka, dianiaya memang bisa mati, tapi kalau hantu dianiaya dan diplonco kayak gimana, ya, nggak mungkin bisa mati. Masak mau mati dua kali, sih."
"Oh, iya ... ya. Aku lupa kalau kita dan manusia itu udah beda dunia. Dan cucuku, Si Tobil, tidak akan mati karena dia sekarang sudah jadi mantan manusia. Xixixixixi ...." Nenek Gayung tertawa nyaring, membuat para hantu yang berada di situ langsung menutup hidung, karena aroma tempe busuk yang menyebar dari mulut Nenek Gayung.
Chiayi, 2015
Rabu, 20 Mei 2015
Rayuan Maut
Sepertinya sudah sepuluh menit lebih, Brian---anak tetanggaku---yang berusia tiga tahun, menangis keras. Aku sedikit cemas, takut kalau suara tangisannya itu akan mengganggu tidur siang anakku.
Setelah mendapat izin dari suamiku, aku pun pergi ke rumah tetangga untuk mencari tahu, kenapa Brian menangis terus.
"Dia lagi demam, tapi tidak mau minum obat. Sampai aku paksa pun tetap tidak mau. Karena tidak mau nurut, akhirnya aku pukul pantatnya," jelas Mbak Mitha---ibunya Brian---sambil menunjukkan bungkusan kecil-kecil, yang berisi serbuk obat dari Puskesmas.
"Kalau begitu, coba saya bujuk dia, ya, Mbak. Siapa tahu dia mau nurut," kataku sambil mengambil alih bungkusan obat itu dari tangan Mbak Mitha. Kemudian aku menghampiri Brian yang masih menangis di sofa.
"Lho, Brian kenapa nangis, Sayang? Sini, sini, sama tante Ayu. Cup, cup,cup." Kugendong Brian sambil kuelus-elus punggungnya, untuk menenangkannya. Setelah tangisannya reda, kuajak Brian ke rumahku.
Saat Brian sedang menikmati kue di ruang depan, aku pergi mengambil botol multivitamin yang biasa diminum anakku. Kutuang isi multivitamin itu ke dalam gelas, lalu aku cuci bersih botolnya. Kemudian aku isi botol itu dengan satu bungkus obat turun panas milik Brian ditambah sedikit air, lalu aku kocok pelan. Setelah selesai, aku hampiri Brian sambil membawa segelas teh manis.
"Brian mau minum vitaminnya Mbak Putri, nggak? Kalau minum ini, nanti bisa tambah pintar kayak gambar ini, lho." Kumulai rayuanku sambil memerlihatkan gambar yang ada di botol multivitamin itu.
"Pintar itu bisa bikin mobil, ya, Tante?" tanya Brian polos.
"Pastinya, dong. Tidak hanya bisa bikin mobil saja, lho, tapi juga bisa bikin rumah yang gede, bisa bikin jembatan yang gede juga. Brian mau nggak jadi anak pintar?"
"Mau! Mau banget, Tante." Brian mengangguk penuh semangat.
"Kalau Brian mau pintar, berarti harus minum multivitamin ini." Melihat antusias Brian, aku segera menuang isi botol itu ke sendok.
"Pahit nggak, Tante?" tanya Brian agak takut.
"Nggak, dong. Vitamin ini rasanya kayak jeruk. Paling pahitnya dikiiiit. Jangan takut, tante udah siapin teh manis." Kusodorkan segelas teh manis yang sudah aku persiapkan.
Akhirnya rayuan mautku berubah manis. Brian mau meminum obat itu meskipun wajahnya meringis karena kepahitan. Namun, dia bisa kembali tersenyum setelah satu gelas teh manis dia minum habis.
Brian, maafkan tante yang telah memberimu multivitamin berisi obat demam. Tante hanya ingin, supaya kamu lekas sembuh.
Chiayi, 2015
Tanda Lahir
Lamaran itu terasa sungguh sangat romantis. Di atap sebuah gedung bertingkat, Allan sudah mempersiapkan sebuah jamuan makan malam. Berbagai rangkaian bunga, lampu hias, balon warna merah muda, dan juga lilin terlihat menghiasi sekitar meja makan. Dua orang pemain biola yang sengaja didatangkan Allan, semakin menambah romantisnya suasana malam itu.
Allan berlutut di samping Alice sambil menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna biru, berisi sebuah cincin emas bertahtakan intan berlian.
"Will you marry me?" pinta Allan dengan sedikit gugup.
"Hmm," Alice mengangguk pelan. Sebuah senyum tersungging di bibir tipisnya.
Rona bahagia nampak jelas terpancar dari wajah Allan. Dia segera bangkit dan menyematkan cincin itu ke jari manis Alice. Sebuah kecupan manis pun mendarat di punggung tangan gadis itu.
Allan menarik pelan tangan Alice supaya gadis itu berdiri. Sesaat kemudian, keduanya telah larut dalam dansa romantis dengan iringan alunan lembut biola. Allan memeluk erat tubuh Alice dan sesekali mencium lembut kening gadis itu. Dengan balutan gaun malam tanpa lengan yang terbuka di bagian punggung, membuat penampilan Alice semakin anggun.
Pesona Alice, seorang model dari Philipina yang kini terjun di dunia 'entertainment' Indonesia, memang telah memikat hati Allan. Alice satu-satunya gadis yang bisa mengerti dan memahami Allan. Dia bisa tahu apa yang disukai atau dibenci Allan, meskipun Allan tidak pernah memberitahu Alice.
"Thanks, kamu udah mau terima lamaranku," bisik Allan di telinga Alice. Tangannya membelai punggung Alice yang terbuka.
Tiba-tiba Allan menghentikan gerakan dansanya. Matanya menatap tajam pada tanda lahir yang dikelilingi tato bertuliskan nama dua orang, yang terletak di punggung kiri Alice. Allan melepaskan pelukannya dan melangkah mundur beberapa langkah. Tanda itu sama persis dengan tanda lahir punya Andri, sahabat karibnya yang tiba-tiba menghilang tujuh tahun yang lalu. Andri sengaja membuat tato bertuliskan nama mereka berdua di sekitar tanda lahirnya saat mereka liburan ke Bali, untuk mengabadikan persahabatan mereka.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu berhenti?" tanya Alice bingung dengan perubahan sikap Allan.
"Tan-tanda itu ... A-apa hubungannya kamu dengan Andri?" tanya Allan gugup.
Alice terdiam, bimbang. Seharusnya dia juga menghapus tanda lahir dan tato itu, saat dia melakukan operasi transgender di Philipina. Rasa cinta yang telah lama dia pendam terhadap sahabat karibnya itu, membuat Andri mengubah dirinya menjadi Alice, supaya bisa mendapatkan cinta Allan.
"Tak ada lagi yang bisa aku sembunyikan dirimu. Aku adalah Andri. Aku melakukan semua ini, karena aku mencintaimu ...."
"Aarrgghh!! Tidaak ...!" Allan berlari meninggalkan Alice yang hanya bisa diam terpaku.
Chiayi, 2015
Akong Kabur
Tahun baru Imlek sebentar lagi akan tiba. Aku dan majikanku pun sibuk mempersiapkan perayaan acara itu, termasuk menyiapkan masakan. Hari ini kami memasak daging sapi bumbu kecap. Sambil menunggu dagingnya empuk, kami berencana istirahat sebentar sambil menonton tv. Namun, alangkah terkejutnya kami, saat tidak mendapati akong di ruang tamu. Padahal, setengah jam tadi, dia masih tertidur pulas di sofa.
"Yumi, kamu cari akong sampai jalan Ta-Ya. Kalau sampai SD Ta-Ya tidak ketemu, kamu balik ke rumah. Saya akan mencari ke arah danau!" perintah nyonya. Kami pun berpencar arah sesuai kesepakatan.
Setengah berlari aku menyusuri jalan kompleks. Sial, ternyata cuaca sedang mendung dan aku lupa membawa payung karena terlalu panik. Kira-kira 300 meter dari gerbang kompleks, aku melihat akong berjalan tertatih. Segera aku berlari menyusulnya.
"Akong, mau ke mana? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" tanyaku selembut mungkin, tapi akong tidak menjawab. Dia malah mempercepat langkahnya, seolah ingin menghindariku.
"Akong, kita pulang, yuk, mau hujan, nih," bujukku berkali-kali sambil sesekali menarik lengan akong, pelan. Namun akong tetap tidak mempedulikanku dan apa yang sejak tadi aku takutkan, kini jadi kenyataan. Gerimis mulai turun, saat aku belum berhasil membujuk akong untuk kembali ke rumah.
"Aku mau ke bank ambil uang.Uangku ... uangku ...," kata akong berulang kali sambil terus saja berjalan tertatih, meski gerimis sudah menjelma menjadi hujan.
Di bawah guyuran air hujan, kami pun berjalan menyusuri jalan raya. Tidak ada yang bisa aku perbuat, kecuali memegang lengan akong lebih erat lagi supaya dia tidak jatuh. Beberapa tatapan mata dan teriakan dari orang-orang yang berada di teras lobi sebuah apartemen yang tak jauh dari tempat aku dan akong berdiri, seolah menghakimi kebodohanku dalam menjaga akong.
"Akong, ayo pulang. Ayo, Akong!" Kali ini aku menarik lengan akong agak kuat, supaya dia mau menuruti kata-kataku. Bukannya menurut, akong malah memukuliku dengan membabi buta.
"Aku mau uangku. Aku mau ambil uangku!" teriak akong sambil terus memukuliku.
Aku mencoba menahan pukulan akong sambil tetap memegang lengannya. Tiba-tiba tubuh akong terhuyung ke belakang saat dia berusaha melepaskan pegangan tanganku. Aku berusaha menarik tubuh akong ke depan, supaya dia tidak jatuh ke belakang. Tarik menarik pun tak terelakkan. Tiba-tiba akong mendorongku dengan kuat, dan ....
Brukk!!
Aku dan akong jatuh bersamaan dengan tubuh akong menindihku. Beberapa orang nampak berlari dari arah lobi apartemen sambil membawa payung.
"Kenapa kau biarkan akongmu hujan-hujanan?"
"Kamu bisa jaga orang tua, tidak, sih? Masak sampai basah kuyup kayak gini?"
Sambil membantu akong bangkit, mereka terus menyerangku dengan berbagai pertanyaan. Namun, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan mereka. Di samping penguasaan bahasa mandarinku masih kurang, sakit di pantatku lebih menyita pikiranku.
Untunglah saat itu majikanku datang dengan membawa mobil. Sambil membantu menaikkan akong ke dalam mobil, nyonya menjelaskan para orang-orang itu kalau akong sudah pikun, dan hari ini kami agak lalai mengawasinya sehingga akong kabur dari rumah.
Ketegaran Dista
Semua mata pegawai Dista tertuju padanya, saat perempuan cantik itu memasuki ruang tengah salonnya. Sebuah salon kecantikan yang juga menerima paket rias pengantin komplit, termasuk kreasi bentuk uang serah-serahan. Sesungging senyuman yang terlukis di sudut bibir Dista, tak bisa menyembunyikan matanya yang sayu dan sembab.
"Bentuk uang serah-serahan kali ini masjid dan wayang, kan?" Dista mengeluarkan dua bandel uang kertas pecahan seratus dan lima puluh ribuan dari dalam tasnya.
"Biar kami saja yang mengerjakan bentuk uang serah-serahan ini, Mbak. Mbak Dista istirahat saja, supaya punya tenaga untuk merias pengantin besok pagi," kata Nelly sambil mengambil alih tumpukan uang kertas dari tangan Dista yang diikuti anggukan para pegawai yang lain.
Dari mata Dista yang masih terlihat merah, semua pegawai di salon itu tahu kalau Dista telah menangis semalaman. Mereka paham, betapa hancurnya hati Dista saat ini. Rencana Dista untuk menikah bulan depan, hancur luruh saat sang tunangan ketahuan 'bermain api' di belakangnya. Bukan hanya itu, sang tunangan bahkan dengan tega memilih salon Dista untuk mengurusi semua prosesi pernikahannya, mulai dari segala jenis serah-serahan sampai resepsi.
"Kenapa? Saya baik-baik saja, kok. Saya justru sangat bahagia hari ini." Dista kembali tersenyum.
"Bahagia?" tanya para pegawai Dista hampir bersamaan.
"Yup! Aku sangat bahagia karena gadis itu telah membebaskanku dari ikatan laki-laki yang tidak punya tanggung jawab. Untungnya aku tidak jadi menikah dengan dia. Ayo, kita selesaikan melipat uang kertas ini, setelah itu aku traktir kalian semua di ayam goreng Lombok Ijo. Okay?" kata Dista penuh semangat.
"Horee, terima kasih, Mbak Dista!" teriak para pegawai Dista. Rona bahagia pun menyelimuti mereka, melihat ketegaran Dista.
Chiayi, 2015
Selasa, 19 Mei 2015
Sepeda Salim
Salim menghentikan langkahnya, tepat di depan toko sepeda di area 'Shopping', Kota Salatiga. Diletakkannya sebuah plastik kresek warna hitam yang sejak tadi didekapnya. Tangan kecilnya mengusap peluh yang membanjiri keningnya.
"Pak, sepeda yang itu harganya berapa?" tanya Salim pada pemilik toko.
"Yang ini dua juta. Kalau yang itu satu juta tujuh ratus."
Mata Salim menatap sendu pada dua buah sepeda yang diinginkannya. Sudah lama dia ingin mempunyai sepeda. Namun keadaan ekonomi orangtuanya, membuat mereka tidak bisa membelikan sepeda buat Salim. Didekapnya lagi plastik kresek yang tadi dia taruh di lantai. Salim melangkah lunglai menuju belakang area 'Shopping'.
"Pak, yang ini harganya berapa?" tanya Salim sambil menunjuk pada sebuah sepeda bekas yang masih nampak bagus.
"Delapan ratus ribu, Nak," jawab si penjual.
"Boleh kurang, tidak, Pak? Uang tabunganku hanya Rp.720.000."
Cukup lama bapak penjual sepeda itu menatap Salim, hingga akhirnya dia mengangguk. "Boleh! Tapi nilai rapot kamu harus bagus, dan tunjukkan pada saya."
"Pasti, Pak. Saya akan terus rajin belajar supaya tetap rangking satu." Salim mencium punggung tangan penjual sepeda itu, lalu menyerahkan kantung plastik yang berisi uang dari membongkar celengannya pagi tadi.
Salim mengayuh sepeda pertamanya dengan riang menuju rumah. Meskipun hanya sepeda bekas, tapi itu adalah sepeda yang dia beli dengan uang tabungannya sendiri.
Gembong Teroris
Semua orang memuji dan bangga dengan keberhasilan Briptu. Arya, menembak mati gembong teroris, tepat di jantungnya.
Siang hari di kantor, dia mendapat kenaikan jabatan dan lencana. Malam hari di rumah, sarah terima jenazah ayahnya yang dia tembak dua hari lalu.
Chiayi, 2015
Segitiga Berdarah
Suasana hikmat berbalut kesedihan di acara peringatan tiga hari meninggalnya Jeffry---mahasiswa yang dibunuh dengan sadis di kamar kos-nya---mendadak menjadi gaduh manakala datang beberapa orang laki-laki berpostur tinggi dan berpakaian preman, langsung menghampiri dan memborgol tangan Ryan, sahabat karib Jeffry yang sedang menangis pilu.
Beberapa sahabat Ryan nampak terkejut dengan penangkapan itu. Sebagai seorang sahabat terdekat almarhum, wajar saja kalau Ryan dianggap terlibat dalam kematian Jeffry. Namun, ternyata Ryan mempunyai alibi yang kuat, bahwa dia tidak ada sangkut-pautnya dengan kematian Jeffry.
Saat Jeffry ditemukan meninggal, Ryan sedang berada di sebuah KTV yang jaraknya lumayan jauh dari tempat kos Jeffry. Hal itu dibenarkan oleh dua orang teman Ryan, yang saat itu menemaninya di KTV sampai pagi. Selain itu, kondisi pergelangan kaki kanan Ryan yang sedang di-gips dan harus berjalan menggunakan tongkat penyangga, sangat tidak memungkinkan bagi Ryan untuk melakukan pembunuhan.
"Anda bisa beralibi seperti itu, tapi hasil penyelidikan kami mengarah pada Anda sebagai pembunuhan tunggal Saudara Jeffry," kata salah seorang petugas yang menangkap Ryan.
"Anda jangan sembarang menuduh, Pak Polisi. Bagaimana mungkin saya membunuh Jeffry, sedangkan saat kejadian saya berada di KTV?" Ryan tetap membela diri.
"Kami menemukan sidik jari Anda pada kunci jendela kamar korban dan jendela kamar mandi KTV. Sepertinya Anda sengaja keluar dari KTV melalui jendela kamar mandi supaya tidak diketahui orang. Lalu Anda pergi ke tempat kos korban, dengan menggunakan motor yang sebelumnya sudah Anda siapkan di belakang KTV. Anda masuk ke kamar korban melalui jendela yang kuncinya sudah Anda buka tanpa sepengetahuan korban, saat Anda berkunjung ke kamar korban beberapa jam sebelumnya. Setelah itu, Anda balik lagi ke KTV dan bergabung lagi dengan teman-teman Anda, sampai pagi. Bukan begitu, Saudara Ryan?" cerca sang petugas.
"Motor? Bagaimana saya bisa naik motor dengan kondisi kaki seperti ini?" Ryan memperlihatkan pergelangan kaki kanannya yang sedang digips.
"Kenapa dengan kaki, Anda? Bukankah sebenarnya kaki Anda tidak sakit? Anda hanya berpura-pura sakit supaya tidak ada yang mencurigai Anda. Silakan lihat bagian bawah gips Anda. Di sana ada warna kuning dari obat pembersih lantai, yang tumpah saat Anda berusaha menyembunyikan tongkat itu di pojok kamar mandi. Itu berarti kaki Anda bisa berjalan tanpa tongkat. Selain itu, tidak ada jenis gips yang menggunakan lakban supaya nempel di kulit, seperti yang sedang Anda pakai saat ini. Ada yang ingin Anda sangkal lagi, Saudara Ryan?"
Tatapan mata semua orang yang berada di tempat itu, kini tertuju pada gips-nya Ryan. Memang ada bercak berwarna kuning yang warnanya sudah agak pudar. Ryan hanya tertunduk diam. Bulir bening nampak membasahi pipinya.
"Ya, semua analisa Anda benar, Pak. Saya akui, sayalah yang membunuh Jeffry, karena dia telah merebut pacar saya, Anton. Saya tidak menyangka, rencana yang sudah saya susun rapi selama tiga bulan, akhirnya bisa terbongkar oleh polisi," jawab Ryan tanpa berani mengangkat wajahnya.
Pengakuan Ryan tentang cinta segitiga sesama jenis itu, tentu saja menjadi pukulan berat bagi keluarga dan para sahabat almarhum.
Chiayi, 2015
Senin, 18 Mei 2015
SAWAN
Sudah tiga hari ini, Putri---anak semata wayangku yang berusia 6 bulan---demam. Selama itu pula, suamiku tidak masuk kerja karena harus gantian denganku, begadang menjaga Putri yang selalu rewel jika tengah malam.
"Sudah kalian bawa ke Puskesmas?" tanya ibu mertuaku yang hari ini datang menjenguk.
"Sudah, Bu, tapi panasnya belum juga turun. Rencananya sore ini, kami akan bawa Putri ke dokter spesialis anak," jawabku.
"Sepertinya Putri kena 'sawan' pengantin dari tetanggamu yang menikah tiga hari lalu. Cobalah kalian pergi ke rumah tukang rias pengantin, yang kemarin merias tetanggamu itu dan minta sedikit bedak, lalu usapkan ke wajah dan tubuh Putri," saran mertuaku sambil mengambil alih Putri dari gendonganku.
Aku menatap suamiku sesaat, meminta pertimbangan. Kuharap dia bisa memahami keraguanku. Bukannya aku tidak percaya dengan mitos 'sawan' yang telah menjadi kepercayaan di daerahku itu, tapi aku lebih berharap kalau Putri diperiksa oleh dokter spesialis anak.
"Tidak ada salahnya kita coba, Bunda. Ini demi kesembuhan anak kita," kata suamiku mematahkan keraguanku. Dia segera meraih dua buah helm di lemari bufet dan menyodorkan salah satu, padaku.
Tanpa menunggu lagi, kami bertiga segera menuju rumah perias pengantin yang terletak di desa tetangga. Setelah memahami maksud kedatangan kami, beliau pun mengambil bedak dan mengusapkan ke wajah, leher, telapak tangan, dan telapak kaki anakku.
"Cepat sembuh, ya, Cantik," kata ibu perias itu, lalu meniup kening anakku pelan.
Malam harinya, Putri tidak lagi rewel. Dia tidur dengan pulas dan suhu badannya tidak sepanas kemarin. Mitos tentang 'sawan' itu memang tidak mudah diterima logika, tapi bagaimanapun juga, kami tetap memercayai kepercayaan yang telah turun-temurun itu.
Chiayi, 2015
Note:
Sawan: sebuah kepercayaan kejawen/atau jawa yang berlaku untuk anak-anak. Biasanya saat ada pengantin atau orang meninggal.
Bayi Isnanti
"Ayo, Nduk, dorong yang kuat! Ya ... ya, begitu!" teriak Mak Pami, dukun bayi berusia 70 tahun itu pada Isnanti.
"Mak ... sakit, Mak! Aarrgghh ...!" Kedua tangan Isnanti mencengkeram kuat seprei. Peluh begitu deras mengalir di wajahnya. Perempuan yang belum genap berusia 17 tahun itu terpaksa dikeluarkan dari sekolahnya setelah ketahun hamil. Namun, Isnanti selalu menjawab 'tidak tahu' setiap kali ditanya siapakah yang menghamilinya.
"Aarrgghh ...!" Isnanti berteriak perlahan karena menahan rasa sakit saat mengejan.
Bersamaan dengan teriakan itu, lahirlah sesuatu dari rahimnya. Tangan Mak Pami bergetar, dan mulutnya tidak berhenti mengucap istighfar saat meraih bayi yang dilahirkan Isnanti.
"Laki-laki atau perempuan, Mak? Kenapa anakku tidak menangis? Apa yang terjadi dengan anakku, Mak?" Mak Pami tergagap mendengar pertanyaan Isnanti. Dia masih bingung, bagaimana caranya memberitahu Isnanti, bahwa bayi yang dilahirkannya bukanlah manusia, melainkan seekor ular belang berkepala manusia.
Chiayi, 18 Maret 2015
Cinta Pertama Yang Salah
Elena langsung memalingkan wajahnya saat pandangannya beradu dengan sepasang mata elang milik Arka, seorang fotografer baru di perusahaan agency model, tempat Elena bekerja. Wajah Elena langsung bersemu merah dan dia mendadak salah tingkah. Belum pernah sebelumnya Elena merasakan hatinya bergetar seperti ini, jika dia beradu pandang dengan laki-laki.
'Inikah yang namanya jatuh cinta?' batin Elena, bingung.
Sejak memutuskan berkarir di dunia model profesional, banyak laki-laki yang datang menawarkan cinta pada Elena. Namun, gadis cantik berusia 19 tahun itu selalu menolaknya. Elena tidak suka dengan laki-laki yang terlalu 'over acting' dan suka merayu. Akan tetapi Arka beda. Cowok bertubuh atletis itu sangat cuex dan pendiam. Jangankan merayu atau sekedar bertegur sapa dengan Elena, tersenyum saat bertemu pun tidak pernah. Sikap dingin Arka inilah yang membuat Elena penasaran hingga akhirnya timbul rasa cinta.
Elena menarik napas panjang untuk menenangkan debaran hatinya. Sekilas dilihatnya Arka berjalan menuju ruang kerja Pak Ruly, pemimpin perusahaan ini. Penasaran, Elena pun diam-diam mengikuti Arka.
"Bagaimana kerjaan hari ini, Sayang? Pasti para modelku pada godain kamu, ya?" tanya Pak Ruly dengan gaya lemah gemulai, sambil memeluk dan mencium kedua pipi Arka.
"Kenapa? Cemburu, ya? Secantik apapun modelmu, aku tidak akan mungkin jatuh cinta pada mereka. Karena buatku, kamu adalah segalanya." Arka mencubit mesra kedua pipi Pak Ruly, lalu mencium keningnya.
Elena yang melihat kejadian itu langsung berpaling dan bergegas meninggalkan tempat itu. Getaran indah yang baru saja dirasakannya, kini berubah jadi rasa jijik yang berbalut kekecewaan yang pedih.
"Kenapa cinta pertamaku harus jatuh pada seorang gay? Kenapaaa ...?" teriak Elena di dalam mobilnya.
Chiayi, Mei 2015
Manusia Purba
Tidak seperti biasanya, malam ini Talita merasa ngantuk sekali. Padahal jarum jam baru menunjukkan pukul setengah delapan malam. Talita mencoba menggeleng-gelengkan kepala saat pandangannya mulai kabur dari lembar buku pelajarannya. Namun, Talita tetap berusaha fokus belajar. Dia tidak mau mendapatkan nilai jelek pada ulangan Sejarah besok pagi.
Tiba-tiba Talita di kejutan dengan sesosok bayangan yang melintas di dekatnya. Sesaat dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, tapi tak dia dapati siapapun, kecuali dia sendiri.
Talita kembali mencoba fokus pada buku pelajarannya. Namun, tiba-tiba gambar manusia purba yang memegang tongkat di dalam bukunya, terlihat bergerak. Tubuhnya yang berukuran kecil langsung meloncat menerkam Talita dengan tongkatnya. Makhluk purba kecil itu langsung menusuk telapak tangan Talita dengan tongkatnya sampai berdarah. Reflek Talita menarik tangannya dari sisi buku. Namun sepertinya terlambat. Mahkluk purba itu kini telah meloncat ke lengannya, dan dalam sekali lompatan, manusia purba itu kini sudah berada di pundak Talita, dan menancapkan tongkatnya pada leher Talita.
"Aaaa ...!" Talita menjerit sambil memegangi lehernya yang mengucurkan darah segar. Talita jatuh terkapar, mengelepar di lantai bermandikan darah. Tiba-tiba makhluk manusia purba itu sudah berdiri di wajahnya, dan siap menancapkan tongkatnya ke mata Talita.
"Tidaakk ...!" teriak Talita sambil menutup matanya.
"Talita, bangun, Sayang. Katanya belajar, kok malah tidur." Talita mencoba membuka matanya, dan dilihatnya sang mama sudah berdiri di sampingnya.
"Ma, Talita mimpi buruk lagi," kata Talita sambil memeluk mamanya.
"Kamu pasti belum sholat isya, kan? Makanya mimpi buruk," kata mama sambil mengelus rambut Talita.
Chiayi, 7 Mei 2015
Langganan:
Komentar (Atom)

















