Malam ini, seperti biasa kudatangi satu per satu pemakaman di daerah Ngaliyan. Sebuah rutinitas yang aku lakukan sejak aku sadar bahwa aku sudah meninggal tapi tak punya makam. Satu per satu kuperiksa nama dan tanggal kematian pada nisan-nisan itu. Namun, kembali aku harus kecewa. Tidak ada satu pun, nama dan tanggal kematiannya yang cocok denganku.
"Kenapa tak kau coba bertanya pada keluargamu? Siapa tahu mereka tahu di mana makammu," bisik angin di antara dedaunan.
"Baiklah, akan aku turuti saranmu. Tapi aku tak tahu di mana rumahku. Bisakah kau terbangkan aku ke rumahku, sekarang?"
Seketika angin berembus kencang, membawaku ke sebuah pandok sederhana di pinggir sebuah desa. Kulihat dua orang manusia sedang tertidur lelap. Seorang laki-laki di kamar depan dan seorang wanita tua di kamar belakang yang kumuh. Rambut wanita tua itu berantakan dan kedua kakinya dipasung pada sebuah balok kayu.
"Apakah mereka itu keluargaku?" tanyaku ragu, karena aku tidak mengenali wajah kedua manusia itu.
"Tentu saja mereka itu keluargamu," jawab angin bergemuruh.
Aku mendekati laki-laki itu dan memasuki ruang paling kedap-nya, ruang mimpi.
"Nak, apakah kamu tahu di mana makamku?" tanyaku selembut mungkin padanya, tapi dia seolah marah dan mendorong tubuhku dengan keras.
"Apa?! Makam?! Jangankan menunjukkan makammu, mengakuimu sebagai bapak pun aku tak sudi. Gara-gara dirimu, emak menjadi gila dan orang-orang mengucilkan kami. Dasar kau PKI! Pergiii ...!"
Aku keluar dari ruang mimpi laki-laki itu dengan bingung. Aku hanya menanyakan makamku, tapi kenapa dia memarahi, mengusir, dan menuduhkuku sebagai anggota PKI, sama seperti orang-orang yang telah membunuhku dulu? Belum juga kutemukan jawaban, angin menyeretku ke kamar belakang yang kumuh tempat wanita tua itu berbaring.
"Tanyakan padanya, mungkin dia tahu di mana makammu," bisik angin.
Aku kembali masuk ke ruang paling kedap, ruang mimpi. Begitu melihat kedatanganku, wanita itu langsung menghambur padaku. Dengan berderai air mata, diciuminya punggung tangan kananku.
"Assalamualaikum, Pak, kenapa baru sekarang sampeyan datang? Aku kangen banget sama sampeyan."
"Aku datang padamu karena aku ingin bertanya, apakah kamu tahu di mana letak makamku?" tanyaku pelan.
"Dari kabar yang aku terima, mereka membunuh sampeyan di bukit sebelah barat, di hutan bambu, Pak. Aku tidak tahu pasti persisnya di mana karena sampai sekarang, mereka tidak mengizinkanku pergi ke sana."
"Berarti aku dikubur di hutan bambu tanpa nisan?" tanyaku setengah berguman.
"Njih, Pak," jawab wanita itu dalam isaknya. Belum sempat kuulurkan tanganku untuk menyeka air matanya, tiba-tiba angin berteriak dari celah-celah dinding.
"Cepatlah pergi, sebelum subuh menjelang!"
Tanpa pamit, aku keluar dari ruang mimpi wanita itu dan mengikuti embusan angin menuju hutan bambu di bukit sebelah barat.
"Di sini, kan, kuburan masal orang-orang yang diduga anggota PKI. Kasihan, ya, mereka," kata salah satu peronda pada temannya saat melintas di dekat kebun bambu, ketika aku tiba di sana.
Chiai, 30 September 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar