Selesai ber-zikir setelah sholat Dzuhur, Bu Pasirah segera menuju teras depan rumahnya. Kemudian dia duduk di atas bale-bale bambu sambil memegang dua buah undangan. Matanya menatap lurus ke ujung jalan, menanti kedatangan suaminya dari masjid, dengan cemas.
Hari ini, bertepatan dengan perayaan hari raya Idul Adha, ada dua buah undangan pernikahan yang harus dihadiri Bu Pasirah. Salah satunya masih terbilang saudara dekat. Jadi, tidak enak rasanya kalau tidak datang.
Memenuhi undangan pernikahan, bukan hal yang mudah buat Bu Pasirah, saat ini. Uang hasil kerja suaminya sebagai buruh penggarap sawah dan uang hasil dari menjual sapu lidi yang dibuatnya sendiri, sering kali kurang untuk biaya hidup sehari-hari. Belum lagi kalau penyakit asam urat suaminya kambuh, tidak ada lagi orang yang membantunya mencari pelepah kelapa.
"Bu, lihat! Aku sudah bikin tusuk sate yang banyak. Nanti, daging qurban-nya kita bikin sate, kan, Bu?" Aisya, gadis manis berusia 8 tahun itu meletakkan seikat tusuk sate di samping ibunya, sebelum dia berlari ke ujung jalan menyambut kedatangan bapaknya. Sebuah plastik kresek kecil warna hitam, segera dibawanya ke dapur.
"Bagaimana daging qurban-nya, Pak?" tanya Bu Pasirah penuh harap.
"Alhamdulillah, bisa, Bu. Ini uangnya, pergilah kondangan sekarang." Pak Rozak menyerah dua lembar uang dua puluhan ribu kepada istrinya.
"Bapak ...! Ibu ...! Kenapa semuanya hanya tulang dan tidak ada dagingnya? Bagaimana Ais bisa bikin sate?" Aisya berlari dari arah dapur sambil membawa panci yang berisi tulang-belulang.
"Ais, bikin satenya tahun depan saja, ya, Sayang." Pak Rozak membungkukkan badannya setinggi badan Aisya. Dengan lembut dibelainya rambut anak semata wayangnya itu. "Sebaiknya sekarang Ais mandi dan ganti baju. Kali ini Ais boleh ikut ibu kondangan."
"Tapi, Pak, Ais pengen sate ...."
Pak Rozak dan Bu Pasirah saling berpandangan. Bagaimana mereka harus menjelaskan pada si kecil, kalau daging qurban yang mereka dapat terpaksa harus dijual, karena mereka butuh uang untuk kondangan. Bagi mereka, tidak masalah jika mereka tidak makan daging, asalkan silaturahmi dengan saudara tetap terjaga.
Chiayi, 24 September 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar