Gerhana bulan yang sedang berlangsung, membuat suasana di pemakaman umum Desa Kidung, perlahan semakin gelap dan mencekam. Embusan angin menebar wangi bunga kenanga dan mawar dari makam Delia yang tanahnya masih basah. Perlahan gundukan tanah makam itu bergetar, mengugurkan bunga-bunga yang bertaburan di atasnya. Seberkas sinar dari dalam makam seolah membelah tanah dan merekah semakin besar. Tidak berapa lama kemudian, gumpalan asap tampak keluar dari dalam makam Delia dan membentuk sebuah sosok manusia.
Dari balik pohon besar, tampak seorang laki-laki berjalan tertatih mendekati makam Delia sambil memanggul sesuatu. Dengan hati-hati diletakkannya sesuatu yang tadi dipanggulnya, yang tak lain adalah tubuh seorang wanita, di samping makam Delia.
"Delia, bapak datang, Sayang. Ini bapak bawakan media agar kamu bisa terlahir lagi ke dunia. Masuklah ke dalam rahim wanita, Anakku," kata laki-laki itu, yang tak lain adalah Ki Mangun, bapaknya Delia sambil duduk bersimpuh di dekat tubuh wanita tadi yang tergolek pingsan. Mulut Ki Mangun berkomat-kamit membaca mantra.
Gumpalan asap di atas makam Delia yang membentuk sosok manusia tadi, bergerak mendekati bapaknya. Kemudian gumpalan asap itu perlahan masuk ke dalam perut wanita yang masih pingsan itu.
"Ha ha ha ha ....! Bagus anakku. Manjinglah ... manjinglah sukna sari di rahim suci. Manjinglah ...." Ki Mangun itu terus-menerus membaca mantra sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Eeggrhh ... egghh ...," rintih wanita itu saat mulai tersadar dari pingsannya. Belum lagi dia sadar sepenuhnya, wanita itu merasakan sesuatu yang bergerak-gerak dalam perutnya. Kedua tangannya memegang perutnya yang semakin membesar dan membesar.
"Aarrgghh ... tidaakk! Sa-sakiiit ...! Aarrgghh ...! teriak wanita itu kesakitan.
Melihat hal itu, Ki Mangun langsung mengambil sebuah belati dari balik bajunya. Dengan kasar, disibaknya baju wanita itu dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya membelah perut wanita itu dengan belati.
"Ja-jangan ... aarrgghh ...."
Darah segar bercampur potongan usus menggalir membasahi tubuh wanita itu seiring nyawanya yang terlepas dari raganya. Ki Mangun langsung mengambil jabang bayi dari perut wanita itu sekaligus memotong tali pusarnya.
"Selamat datang kembali ke dunia, Anakku," kata Ki Mangsur sambil membungkus tubuh bayi perwujudan Delia itu dengan bajunya. Sebuah seringai menghiasi bibirnya saat meninggalkan pemakaman itu.
Chiayi, 2 September 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar