Kamis, 19 November 2015
NARASI LELAKI TUA
Lelaki tua itu tergolek lemah dan tak berdaya. Mata rabunnya menatap nanar dinding dan langit-langit kamarnya, yang menjadi saksi perjuangan sang istri tercinta, saat melahirkan putra pertama mereka. Teriakan kesakitan sang istri yang memenuhi penjuru kamar, seolah mengoyak rasa bersalahnya karena tidak punya uang untuk membawa istrinya ke bidan. Namun, tangis keras dari sang jabang bayi, telah menorehkan sejarah indah dalam hidupnya. Dia telah menjadi seorang bapak.
Di kamar ini pula keriangan dan canda tawa anak-anaknya terukir. Bahkan aroma wangi bunga melati saat dia mencium kening anak perempuannya, sesaat sebelum ijab kabul, masih bisa dia rasakan.
Tahun berganti. Anak-anak mereka menikah dan membina keluarga di kota. Kamar itu pun kembali sepi saat semua anak-anaknya sudah jarang pulang mengunjunginya.
"Apa lebaran kali ini mereka juga tidak bisa pulang lagi, Pak?" tanya istrinya setiap kali mushola samping rumahnya mulai mengumandangkan takbir.
"Mungkin mereka sibuk, Bu. Sabar, ya," jawab lelaki itu mencoba menenangkan istrinya. Padahal dia sendiri sibuk meredam segumpal rindu yang menyesakkan dadanya. Hingga sang istri mengembuskan napas terakhirnya di kamar ini, anak-anak pun tak ada yang pulang.
Satu per satu kenangan indah di kamar itu coba dia putar di antara desah napas yang semakin berat.
"Mbah! Mbah Mangsur! Mbah ...!"
"Pintunya terkunci! Ayo kita dobrak saja!"
Satu per satu tetangga masuk dan mengerumuni jasad lelaki tua yang mulai dingin itu.
"Innalillahi wainnaillahirojiun ... Sudah tiga hari beliau tidak terlihat di mushola. Ternyata ...."
Chiayi, November 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar