Rabu, 18 November 2015
PILIHAN HATI
Kuparkir mobilku di depan sebuah rumah megah berlantai dua, bercat kuning gading. Rumah itu tidak banyak berubah sejak aku tinggalkan delapan tahun silam. Kenangan terakhirku di rumah itu pun, seketika terputar ulang di benakku.
Plakk....!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku, begitu aku memalingkan wajah dari cermin karena suara panggilan. Di depanku, ayah berkacak pinggang dengan pandangan penuh amarah. Segera kuhapus riasan di wajahku dan melepas sepatu Mama yang aku pakai.
"Mau jadi apa kamu? Kamu sengaja ingin menghancurkan nama baik dan martabat Ayah, ya?" teriak ayah dengan tangan yang siap terayun lagi ke arahku.
"Sudah, Ayah, jangan tampar Carlo lagi." Mama menarik tanganku ke belakang tubuh mungilnya, saat Ayah hendak menamparku lagi. Sementara aku hanya menundukkan di belakang tubuh Mama sambil menahan sakit di pipi kiriku.
"Kau tahu, sudah berapa banyak uang yang aku keluarkan untuk kampanye pencalonanku? Siapa yang akan memilihku kalau mereka tahu anakku ternyata adalah seorang banci seperti ini?" Suara Ayah yang semakin meninggi, membuatku semakin menggigil ketakutan.
"Tapi memukul Carlo bukanlah jalan keluar yang tepat, Ayah. Kita bisa cari jalan yang lain," bujuk Mama mencoba menenangkan Ayah.
Sesuai musyawarah keluarga, aku pun harus rela keluar dari keluarga, daerah, juga negaraku demi nama baik Ayah. Aku tidak peduli. Inilah pilihan hatiku, menjadi diri aku sendiri.
Dulu, aku pernah menyesal dilahirkan dengan raga seperti ini. Sehingga aku diam-diam merubah diri sesuai jiwaku. Aku berharap kedua orangtuaku bisa menerima perubahan fisikku, dan tidak memandangku seperti sampah. Namun, ternyata mereka menyingkirkanku hingga aku harus berusaha sendiri meniti hidup.
"Miss Carla, para model sudah menunggumu di hotel untuk gladi bersih," bisik Keyla, asistenku, yang langsung memupus lamunanku.
"Beri waktu aku sebentar untuk menyerahkan undangan ini kepada orangtuaku. Aku ingin mereka tahu, bahwa kini aku bisa meraih prestasi jadi desainer terkenal, dengan raga yang berubah ini." Kutarik napas panjang sebelum turun dari mobil dan kulangkahkan kaki dengan mantap menuju pintu gerbang rumah ayahku.
Chiayi, 11 November 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar