Jumat, 05 Juni 2015

Sandiwara Kerinduan



Arin terhenyak dari lelapnya oleh sebuah tepukan lembut di pundaknya. Sambil menguap, Arin menegakkan kepalanya.

"Ambil obat di lobby depan." Seorang wanita cantik, berkulit putih dengan seragam berwana merah muda, menyerahkan secarik kertas kepada Arin.

"Oh, iya, Suster." Arin menerima kertas berisi daftar resep itu. Dengan menahan lelah dan kantuk, perempuan Indonesia berusia 34 tahun yang bekerja sebagai perawat lansia itu, melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang remang, menuju lobby depan rumah sakit itu.

Sepuluh menit kemudian dia sudah kembali dengan tiga bungkus obat di tangannya. Setelah menyerahkan obat itu kepada suster jaga, Arin kembali ke kursinya di samping ranjang ama yang dijaganya. Sekilas ditatapnya jam dinding di tembok samping, yang menunjukkan pukul 4.53 pagi.

"Ah, sudah hampir pagi rupanya." Arin segera melipat selimut yang dipakainya semalam, dan menyimpannya ke dalam tas. Sementara itu seorang suster menyuntikkan beberapa obat ke dalam infus ama.

"Kapan ikatan ama akan dibuka, Suster?" tanya Arin pelan sambil memperhatikan pergelangan tangan dan kaki ama, yang diikat pada sisi ranjang.

"Saya tidak berani memastikan kapan, tergantung kondisi psikologi ama. Kalau dia terus mengamuk seperti semalam, ya sebaiknya dia tetap diikat supaya tidak membahayakan dirinya sendiri," jawab suster itu. Setelah selesai menyuntikkan obat, suster itu pun kembali ke meja jaga.

Arin mengusap wajah ama yang tertidur pulas karena pengaruh obat tidur. Tak nampak sedikit pun beban di wajah keriputnya. Berbeda dengan beberapa hari belakangan ini. Ama selalu nampak murung dan uring-uringan. Kerinduannya terhadap Chen Lu--anak bungsunya--sepertinya sudah tidak tertahan.

Chen Lu adalah anak kesayangan ama. Di usianya yang belum genap 30 tahun, Chen Lu sudah bisa membelikan ama rumah, mobil, dan beberapa saham dari berbagai perusahaan terkenal. Namun, sejak ama di ajak tinggal bersama Tuan Hwang--anaknya yang pertama--di kota ini, lima tahun yang lalu, Chen Lu tidak pernah sekalipun datang mengunjungi ama. Bahkan telpon pun tidak pernah.

"Kalau sampai kali ini Chen Lu tidak datang juga, aku akan benar-benar bunuh diri!" teriak ama saat Arin menemaninya makan siang kemarin.

"Mungkin Tuan Chen Lu sedang sibuk, Ama." Arin mencoba menenangkan.

"Sibuk apa? Sudah lima tahun lebih dia tidak pulang. Padahal jarak Taipei ke sini hanya 5 jam. Kalau dia sudah tidak mau menganggap aku ibunya, lebih baik aku mati!" Ama meletakkan sumpit ke meja dengan kasar, dan beranjak menuju kamar. Selera makannya seketika hilang. Rasa kangen dan amarah pada anak kesayangannya beradu dalam dadanya.

Arin hanya bisa mengusap lembut punggung ama. Perjanjiannya dengan sang majikan untuk merahasiakan keberadaan Chen Lu dari sang ibu, membuat Arin hanya bisa membisu.

"Arin, kau sudah siapkan perlengkapan untuk tinggal beberapa hari di rumah sakit!" teriak Ama dari balkon depan.

Arin yang sedang mencuci piring di dapur langsung berlari ke arah balkon depan. Ama yang dikiranya sedang tidur, ternyata diam-diam pergi ke balkon depan.

"Ama, apa-apaan ini? Cepat masuk! Nanti dikira tetangga, ama mau bunuh diri." Dengan raut wajah panik, Arin mencoba menarik tangan ama yang sudah terlanjur tengkurap di atas pagar balkon. Namun, ama menolak, malah kedua kakinya kini sudah berada di luar, berpijak pada alas pagar balkon.

"Cepat teriak panggil tetangga, biar mereka segera telpon 119. Tanganku sudah capek!"

"Ah, Ama, kenapa bohong lagi? Ama kan sudah janji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi." Arin geregetan bercampur panik melihat tingkah laku ama. Arin takut kalau ama tidak kuat menahan berat beban tubuhnya yang lumayan gendut itu dan jatuh dari lantai lima, apartemen mereka.

"Aku mau tahu, apakah Chen Lu akan pulang jika melihat aku stres dan mau bunuh diri."

Melihat kelakuan ama, Arin hanya bisa mengambil napas panjang. Ini ketiga kalinya ama nekad melakukan hal-hal aneh, supaya Chen Lu mau pulang. Ama pernah pura-pura sakit jantung, pernah juga minum obat tidur dua kali lipat, dan sekarang pura-pura mau bunuh diri.

Kerinduan ama sebagai seorang ibu terhadap anaknya, ternyata bisa membuatnya nekad melakukan hal yang membahayakan. Tanpa ama sadari, bahwa anaknya tidak akan pernah kembali lagi sampai kapan pun.

"Ibu tidak pernah tahu kalau Chen Lu telah dihukum mati, karena menjadi kurir narkoba di negara tetangga. Saya membawa ibu ke sini, untuk menjaga perasaan ibu dari gunjingan masyarat. Mudah-mudahan di tempat ini, ibu bisa melupakan Chen Lu dan menikmati hari tua dengan tenang," kata Tuan Hwang, sewaktu Arin bertanya mengenai Chen Lu

"Arin, cepat! Aku sudah tidak tahan, nih!" teriak ama membuyarkan lamunan Arin.

"I-iya, Ama ...." Arin pun segera berteriak minta tolong ke tetangga, sesuai permintaan ama.

Para tetangga di apartemen itu seketika jadi heboh, melihat seorang nenek hendak lompat dari lantai lima. Beberapa dari mereka segera merentangkan selimut tebal untuk jaga-jaga kalau nenek itu terjatuh, sebelum petugas penyelamat datang.

"Arin, pegang tanganku yang kuat, aku ingin teriak dan berontak. Jangan dilepaskan, ya. Nanti kamu pura-pura mencegah aku, ya. Awas, kalau kamu tidak nurut!" Ama sempat tersenyum pada Arin yang terlihat masih bengong, sebelum akhirnya berteriak-teriak dan meronta.

"Lepaskan! Biarkan aku mati, tidak ada seorang pun yang menyayangiku!" Ama mulai berakting. Dia berteriak sambil menggerak-gerakan badannya. Kemudian dia mengerdipkan matanya ke arah Arin. Arin yang menangkap maksud ama, langsung ganti berteriak.

"Jangan, Ama! Masih banyak yang menyayangimu, termasuk aku. Aku sayang kamu, Ama! Jangan lompat!"

Keduanya tetap terus berakting sampai petugas penyelamat datang. Begitu petugas penyelamat berhasil menarik ama, Arin langsung masuk kamar mengambil tas perlengkapan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sementara ama, masih terus berteriak-teriak dan mengamuk, meski dalam keadaan sudah terikat.

"Arin, bagaimana? Apa ada kabar kalau Chen Lu akan pulang?" tanya ama setengah berbisik, membuyarkan lamunan Arin.

"Hah, Ama sudah bangun ...." Arin tergagap, senang.

"Sstt, jangan keras-keras, nanti ketahuan suster. Kapan Chen Lu akan datang?"

Arin diam. Dia sadar, sampai kapan pun dia tidak akan bisa menjawab dengan jujur pertanyaan perempuan tua yang merindukan anaknya itu. Kerinduan ama terhadap Chen Lu, selamanya hanya berupa asa-asa kering yang maya. Seperti halnya dirinya, yang tidak akan pernah bertemu anak semata wayangnya yang telah meninggal dunia karena muntaber, empat tahun lalu. Kondisi ekonomi yang sulit, membuat Arin tidak bisa membawa anaknya untuk berobat.

Cinta dan rindu seorang ibu pada anaknya, tak terbatas ruang dan waktu. Semua itu terpatri dalam sukma, selamanya.


Chiayi 2015





1 komentar: