Jumat, 05 Juni 2015

SEBUAH TUGAS



Bibir Karim berhenti mengucap doa-doa, ketika mobil yang ditumpanginya berhenti tak jauh dari pusat kota. Beberapa ruas jalan yang menuju ke arah pusat kota memang sengaja ditutup untuk menghindari kemacetan, saat perayaan pergantian tahun seperti saat ini. Dari balik jendela kaca mobil, Karim melihat begitu banyak orang lalu-lalang di sepanjang jalan itu.

"Kamu sudah siap, Karim?" tanya lelaki separuh baya yang duduk di samping Karim.

"Saya ...." Karim menatap ragu pada lelaki yang berpakaian serba putih itu. Tangannya mencengkeram kuat tas punggung warna hitam di pangkuannya.

"Seharusnya kamu bahagia dengan tugas ini, Karim, karena surga telah menantimu." Lelaki itu menepuk-nepuk pundak Karim, lembut. Beberapa wejangan yang terucap dari bibirnya, perlahan membakar semangat Karim yang sedang dilanda keraguan.

"Saya siap, Kyai!" kata Karim, mantap.

Karim bergegas memakai tas punggung yang sedari tadi dipangkunya. Setelah berpamitan dan mencium punggung tangan lelaki yang dipanggilnya 'kyai', Karim kemudian turun dari mobil diikuti oleh dua orang laki-laki berpakaian modis, yang sedari tadi duduk di jok belakang.

Tanpa sepatah kata pun, ketiganya berjalan di antara kerumunan orang, menuju pusat kota. Suara bising terompet seolah menjadi penyemangat Karim dalam mengemban tugasnya.

Setelah 30 menit berjalan, ketiganya berhenti di depan sebuah club malam yang cukup besar, di kota itu. Ketiganya dengan mudah bisa masuk ke dalam club, karena Kedua orang teman Karim itu, sebelumnya sudah ditugaskan selama sebulan untuk menyelidiki tempat itu. Dengan menjadi anggota VIP club tersebut, kedua orang itu dengan mudah bisa akrab dengan para penjaga dan pekerja di sana.

Begitu sampai di dalam, Karim memperhatikan seluruh ruangan club itu. Aroma minuman keras dan asap rokok begitu menyengat hidung Karim. Hentakan musik dari DJ, mengiringi para pengunjung untuk bergoyang. Beberapa wanita berpakaian bikini nampak tengah meliuk-liukan badannya, pada sebuah tiang di panggung sebelah kiri.

"Lima belas menit lagi, acara puncak pergantian tahun akan dimulai. Kami harus segera pergi dari sini," bisik salah satu teman, di telinga Karim.

"Baiklah, selamat tinggal, Saudaraku," kata Karim sambil memeluk mereka satu per satu.

Sepeninggal kedua temannya, Karim duduk di bar sambil menanti acara pergantian tahun. Segelas arak putih yang dipesannya, sama sekali tidak dia sentuh.

Tiga puluh detik menuju pukul 12 malam, seorang DJ mengajak semua pengunjung untuk berkumpul di tengah ruangan, dan bersiap menghitung mundur. Karim pun beranjak dari tempat duduknya. Dengan langkah tenang, dia berjalan menuju tengah-tengah kerumunan pengunjung yang mulai berhitung dari angka dua puluh.

Menginjak hitungan ke lima, Karim memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Sebuah benda kecil berbentuk kotak, digenggamnya erat. Saat para pengunjung berteriak menyebut angka 'dua', Karim menekan sebuah tombol pada benda kecil yang tengah di genggamnya.

Duuaarrr!!

*****

Pagi ini, semua media memberitakan peristiwa ledakan bom di malam tahun baru, di sebuah club malam yang menewaskan lebih dari 80% pengunjungnya.



Chiayi 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar