Kamis, 25 Juni 2015
PULANG UNTUK PERGI
Malam perlahan beranjak memasuki dini hari. Dentang jam gantung di ruang depan terdengar bergema dua kali, tapi Mbah Mangsuri memutuskan untuk bangun dari lelapnya yang baru sekejap. Raut kelelahan terpancar jelas dari wajah tuanya yang mulai keriput. Dengan penerangan lampu kamarnya yang hanya 5 watt, Mbah Mangsuri memilih pakaian terbaik yang dia punya. Sebuah kemeja batik warna coklat tua pemberian pak RT, dua tahun lalu. Sebuah sarung dan sandal selop yang sudah tipis, tak lupa dia persiapkan bersama kopiah yang sudah lusuh.
Perlahan dia duduk di tepi tempat tidur dan diusapnya punggung Mukhlis, cucu satu-satunya yang berusia 7 tahun. Sejak kematian istrinya dan kepergian anak semata wayangnya, Karmi, ke Taiwan, Mbah Mangsuri memang hanya tinggal berdua dengan Mukhlis di gubuknya yang sederhana.
"Bangun, Le, sebentar lagi ibumu pulang," bisik Mbah Mangsuri lembut.
"Ngghh ...." Mukhlis hanya menggeliat sesaat, lalu memeluk guling kumalnya dan kembali tertidur.
Mbah Mangsuri kembali mengusap-usap punggung Mukhlis sebelum akhirnya beranjak keluar kamar. Di luar kamar, para tetangga dan kerabat masih terlihat berada di ruang tengah dan ruang depan. Sebagian ada yang tertidur di atas tikar yang sengaja digelar, sebagian lagi ada yang masih mengaji dengan suara lirih. Beberapa pemuda nampak berjaga di depan rumah sembari berbincang ditemani kopi yang sudah dingin. Sementara itu di dapur juga terlihat beberapa ibu-ibu yang tengah memasak sesuatu.
"Sudah ada kabar?" tanya Mbah Mangsuri pada salah satu tetangganya yang berada di situ.
"Rombongan sudah bertolak dari bandara, dua jam yang lalu, Mbah. Semua keperluan juga sudah kami persiapkan di ruang depan, tinggal menunggu kedatangan mereka."
"Terima kasih. Saya akan bersiap dulu," pamit Mbah Mangsuri, lalu melangkah pelan menuju kamar mandi di belakang rumah.
Setelah mencuci muka dan mengambil air wundhu, Mbah Mangsuri pun kembali ke kamarnya. Dikenakannya pakaian yang tadi sudah dia persiapkan. Sekilas dipandanginya sang cucu yang masih terlelap. Hatinya bingung, antara membangunkan sang cucu karena sebentar lagi ibunya akan tiba, ataukah tetap membiarkan sang cucu terlelap melepas segala lelah yang seharian kemarin mendera tubuh mungilnya.
"Tidurlah yang nyenyak, Le. Saat kau bangun nanti, impianmu untuk bertemu ibu akan jadi kenyataan." Mbah Mangsuri meletakkan satu setel baju koko di samping sang cucu, kemudian beranjak keluar kamar.
"Mereka datang! Mereka datang!" teriak beberapa orang di depan rumah seiring suara sirine ambulan yang semakin mendekat. Satu per satu orang-orang yang berada di dalam rumah berjalan menuju depan rumah, termasuk Mbah Mangsuri.
"Yang tabah, ya, Mbah," kata pak RT sambil membimbing Mbah Mangsuri.
Tak berapa lama rombongan yang terdiri dari empat mobil, satu ambulan, dan beberapa sepeda motor nampak berhenti di depan rumah Mbah Mangsuri. Mereka adalah rombongan pengantar jenazah Karmi, anak semata sayang Mbah Mangsuri sekaligus ibu dari Mukhlis yang meninggal di Taiwan, karena dibunuh pacarnya. Karmi ditemukan sudah tidak bernyawa di dekat kebun pinang di daerah Kaoshiung.
Karmi pergi ke Taiwan 6 tahun lalu setelah bercerai dengan suaminya. Saat itu Mukhlis baru berusia 6 bulan. Setahun berlalu, tidak sekali pun Karmi memberi kabar atau mengirim uang ke rumah. Bahkan pihak PJTKI yang memberangkatkan Karmi malah menyuruh Mbah Mangsuri mengganti biaya penempatan Karmi dikarenakan Karmi kabur dari majikannya, sebelum biaya penempatan itu terbayar lunas.
Mbah Mangsuri terpaksa menjual separuh sawahnya untuk membayar denda Karmi. Hingga tahun ke empat ada sedikit titik terang mengenai keberadaan Karmi. Seorang tetangga yang juga bekerja di Taiwan, pernah bertemu dengan Karmi di depan sebuah KTV pada suatu malam. Menurutnya, Karmi yang malam itu berpenampilan sexy, dikawal dua orang laki-laki bertubuh kekar keluar dari KTV. Karmi sempat berhenti dan menoleh ketika tetangganya itu memanggil namanya. Namun kemudian dua orang laki-laki itu segera menarik Karmi ke dalam mobil warna hitam yang terparkir di depan KTV. Dalam hitungan menit, mobil itu pun melaju meninggalkan KTV.
Berita miring tentang Karmi yang diduga menjadi wanita panggilan pun santer terdengar di telinga Mbah Mangsuri. Namun, lelaki tua itu tetap diam dan tidak mau berkomentar apa-apa. Dia tetap percaya kalau Karmi punya iman yang kuat.
"Mbah, kami dari pihak pemerintah dan PJTKI, datang untuk mengantar jenazah Mbak Karmi. Bersama ini, kami sampaikan juga santunan dan beberapa surat bukti kematian almarhumah. Mohon diterima, Mbah," kata seorang laki-laki berpakaian seragam warna coklat muda, didampingi tiga orang laki-laki berpakaian serupa dan dua orang polisi. Dia menyerahkan sebuah amplop warna coklat dan map warna biru.
Setelah menandatangi sejumlah dokumen, Mbah Mangsuri menghampiri peti mati Karmi yang sudah dibuka. Seorang kerabat membantu membuka penutup wajah Karmi. Mbah Mangsuri berdiri mematung memandangi wajah putri kesayangannya yang sudah begitu lama dia rindukan. Anak satu-satunya yang dia harapkan bisa jadi tumpuan di hari tuanya nanti, kini telah terbujur kaku dengan mata terpejam. Tak ada senyum bahagia atau pelukan hangat di pertemuan yang terkahir mereka. Hanya ada keheningan dan duka yang terpancar di antara keduanya.
Dengan tangan gemetar, perlahan Mbah Mangsuri mengusap wajah dingin Karmi dan mencium keningnya.
"Assalamualaikum ... selamat datang, Nduk. Akhirnya hari ini kamu pulang ke rumah, meski besok harus pergi lagi untuk selamanya. Apapun yang sudah terjadi kemarin, bapak tidak pernah marah atau membencimu. Buat bapak, kamu tetap putri bapak yang paling bapak sayangi. Maafkan bapak yang tidak pernah bisa membahagiakanmu, hingga kamu menempuh jalan ini. Maafkan bapak, Nduk ...." Mbah Mangsuri kembali mencium kening Karmi. Setitik air mata nampak mengalir di pipinya yang keriput dan tubuh Mbah Mangsuri jatuh terduduk dan lemas.
"Mbah ... sabar, Mbah ... Istiqfar, Mbah. Ikhlaskan Mbak Karmi supaya dia tenang di sana." Melihat keadaan Mbah Mangsuri, beberapa kerabat langsung memapah Mbah Mangsuri masuk ke dalam kamar.
Setelah kepergian istrinya, kini giliran kebersamaannya dengan sang putri tercinta juga harus berakhir. Tinggallah sang cucu yang menjadi tumpuan terakhirnya dalam melewati masa tuanya nanti. Mbah Mangsuri tahu semua ini sangatlah berat baginya, tapi Mbah Mangsuri percaya, Allah tidak pernah meninggalkan hambanya sendirian dalam mengahadapi cobaan. Kepasrahan dan keikhlasan diteguhkannya dalam hati dan Mbah Mangsuri siap menghadapi hari esok.
Tamat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar