Rabu, 24 Juni 2015
Emak, Aku Pulang!
Ini adalah lebaran ke 7 sejak kepergianku pergi merantau ke kota, dan baru sekarang aku bisa pulang ke rumah. Impianku untuk membahagiakan emak dengan merantau ke kota, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Jangankan mengirim uang untuk emak di kampung, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja aku tidak bisa. Tidak jarang tiap hari aku harus berpuasa dan hidup menggelandang dari emperan toko sampai terminal bis.
Minimnya pengetahuan dan pendidikan, membuatku harus menghadapi terjalnya perjalanan hidup di kota, sejak pertama aku menjejakkan kakiku di sana. Mulai dari tasku yang dijambret, bekerja tidak dibayar, jadi pemulung, sampai jadi gelandangan.
Dengan kebaikan seorang dermawan, puasa ke 25 tahun ini akhirnya aku bisa pulang. Akh, kenapa jalan desa ini terasa panjang sekali? Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan emak. Begitu sampai rumah nanti, aku tidak akan lagi meninggalkan emak. Aku akan setiap hari menemaninya menggarap sawah.
"Mak! Aku pulang, Mak!" teriakku sambil berlari begitu sampai halaman rumah.
Namun, yang keluar dari dalam rumah bukanlah emakku, melainkan Pakdhe Mardi dan Istrinya. Aku langsung menyalami dan memeluk keduanya yang masih diam terpaku melihatku. Ternyata selama kepergianku, mereka ada untuk menemani emak.
"Emak mana, Pakdhe, Budhe? Aku kangen sama emak?"
"Masuklah dulu, Angga, tidak baik berbicara dengan berdiri di depan rumah seperti ini," jawab pakdhe sambil mempersilakan aku masuk.
Aku mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam, aku langsung berlari ke dapur begitu mendengar suara orang memasak. Mungkin emak sedang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Namun, yang aku temui di dapur juga bukan emak, melainkan tiga orang ibu-ibu tetangga yang sedang memasak.
"E-emak, mana?" tanyaku perlahan tapi membuat mereka seketika berhenti beraktifitas.
"Angga, sebenarnnya emakmu sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Dan hari ini bertepatan peringatan 100 hari kepergiannya," jelas pakdhe sambil menepuk pundakku.
"E-emak ...." Aku jatuh bersimpuh mendengar jawaban pakdhe yang seperti halilintar menghantam hatiku. Seketika air mataku tumpah membasahi pipi. Semua harapanku musnah sudah. Jangankan untuk memeluk tubuh renta itu, melihat senyum di wajahnya yang keriput saja aku tak bisa.
"Emak, maafkan aku yang tidak bisa membahagiakanmu, yang tidak bisa menemani di hari tuamu, yang tidak bisa mengantar di peristirahatan terakhirmu. Maafkan aku, Mak."
Chiayi, 24 Juni 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar