Selasa, 19 Mei 2015

Segitiga Berdarah



Suasana hikmat berbalut kesedihan di acara peringatan tiga hari meninggalnya Jeffry---mahasiswa yang dibunuh dengan sadis di kamar kos-nya---mendadak menjadi gaduh manakala datang beberapa orang laki-laki berpostur tinggi dan berpakaian preman, langsung menghampiri dan memborgol tangan Ryan, sahabat karib Jeffry yang sedang menangis pilu.

Beberapa sahabat Ryan nampak terkejut dengan penangkapan itu. Sebagai seorang sahabat terdekat almarhum, wajar saja kalau Ryan dianggap terlibat dalam kematian Jeffry. Namun, ternyata Ryan mempunyai alibi yang kuat, bahwa dia tidak ada sangkut-pautnya dengan kematian Jeffry.

Saat Jeffry ditemukan meninggal, Ryan sedang berada di sebuah KTV yang jaraknya lumayan jauh dari tempat kos Jeffry. Hal itu dibenarkan oleh dua orang teman Ryan, yang saat itu menemaninya di KTV sampai pagi. Selain itu, kondisi pergelangan kaki kanan Ryan yang sedang di-gips dan harus berjalan menggunakan tongkat penyangga, sangat tidak memungkinkan bagi Ryan untuk melakukan pembunuhan.

"Anda bisa beralibi seperti itu, tapi hasil penyelidikan kami mengarah pada Anda sebagai pembunuhan tunggal Saudara Jeffry," kata salah seorang petugas yang menangkap Ryan.

"Anda jangan sembarang menuduh, Pak Polisi. Bagaimana mungkin saya membunuh Jeffry, sedangkan saat kejadian saya berada di KTV?" Ryan tetap membela diri.

"Kami menemukan sidik jari Anda pada kunci jendela kamar korban dan jendela kamar mandi KTV. Sepertinya Anda sengaja keluar dari KTV melalui jendela kamar mandi supaya tidak diketahui orang. Lalu Anda pergi ke tempat kos korban, dengan menggunakan motor yang sebelumnya sudah Anda siapkan di belakang KTV. Anda masuk ke kamar korban melalui jendela yang kuncinya sudah Anda buka tanpa sepengetahuan korban, saat Anda berkunjung ke kamar korban beberapa jam sebelumnya. Setelah itu, Anda balik lagi ke KTV dan bergabung lagi dengan teman-teman Anda, sampai pagi. Bukan begitu, Saudara Ryan?" cerca sang petugas.

"Motor? Bagaimana saya bisa naik motor dengan kondisi kaki seperti ini?" Ryan memperlihatkan pergelangan kaki kanannya yang sedang digips.

"Kenapa dengan kaki, Anda? Bukankah sebenarnya kaki Anda tidak sakit? Anda hanya berpura-pura sakit supaya tidak ada yang mencurigai Anda. Silakan lihat bagian bawah gips Anda. Di sana ada warna kuning dari obat pembersih lantai, yang tumpah saat Anda berusaha menyembunyikan tongkat itu di pojok kamar mandi. Itu berarti kaki Anda bisa berjalan tanpa tongkat. Selain itu, tidak ada jenis gips yang menggunakan lakban supaya nempel di kulit, seperti yang sedang Anda pakai saat ini. Ada yang ingin Anda sangkal lagi, Saudara Ryan?"

Tatapan mata semua orang yang berada di tempat itu, kini tertuju pada gips-nya Ryan. Memang ada bercak berwarna kuning yang warnanya sudah agak pudar. Ryan hanya tertunduk diam. Bulir bening nampak membasahi pipinya.

"Ya, semua analisa Anda benar, Pak. Saya akui, sayalah yang membunuh Jeffry, karena dia telah merebut pacar saya, Anton. Saya tidak menyangka, rencana yang sudah saya susun rapi selama tiga bulan, akhirnya bisa terbongkar oleh polisi," jawab Ryan tanpa berani mengangkat wajahnya.

Pengakuan Ryan tentang cinta segitiga sesama jenis itu, tentu saja menjadi pukulan berat bagi keluarga dan para sahabat almarhum.

Chiayi, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar