Tahun baru Imlek sebentar lagi akan tiba. Aku dan majikanku pun sibuk mempersiapkan perayaan acara itu, termasuk menyiapkan masakan. Hari ini kami memasak daging sapi bumbu kecap. Sambil menunggu dagingnya empuk, kami berencana istirahat sebentar sambil menonton tv. Namun, alangkah terkejutnya kami, saat tidak mendapati akong di ruang tamu. Padahal, setengah jam tadi, dia masih tertidur pulas di sofa.
"Yumi, kamu cari akong sampai jalan Ta-Ya. Kalau sampai SD Ta-Ya tidak ketemu, kamu balik ke rumah. Saya akan mencari ke arah danau!" perintah nyonya. Kami pun berpencar arah sesuai kesepakatan.
Setengah berlari aku menyusuri jalan kompleks. Sial, ternyata cuaca sedang mendung dan aku lupa membawa payung karena terlalu panik. Kira-kira 300 meter dari gerbang kompleks, aku melihat akong berjalan tertatih. Segera aku berlari menyusulnya.
"Akong, mau ke mana? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" tanyaku selembut mungkin, tapi akong tidak menjawab. Dia malah mempercepat langkahnya, seolah ingin menghindariku.
"Akong, kita pulang, yuk, mau hujan, nih," bujukku berkali-kali sambil sesekali menarik lengan akong, pelan. Namun akong tetap tidak mempedulikanku dan apa yang sejak tadi aku takutkan, kini jadi kenyataan. Gerimis mulai turun, saat aku belum berhasil membujuk akong untuk kembali ke rumah.
"Aku mau ke bank ambil uang.Uangku ... uangku ...," kata akong berulang kali sambil terus saja berjalan tertatih, meski gerimis sudah menjelma menjadi hujan.
Di bawah guyuran air hujan, kami pun berjalan menyusuri jalan raya. Tidak ada yang bisa aku perbuat, kecuali memegang lengan akong lebih erat lagi supaya dia tidak jatuh. Beberapa tatapan mata dan teriakan dari orang-orang yang berada di teras lobi sebuah apartemen yang tak jauh dari tempat aku dan akong berdiri, seolah menghakimi kebodohanku dalam menjaga akong.
"Akong, ayo pulang. Ayo, Akong!" Kali ini aku menarik lengan akong agak kuat, supaya dia mau menuruti kata-kataku. Bukannya menurut, akong malah memukuliku dengan membabi buta.
"Aku mau uangku. Aku mau ambil uangku!" teriak akong sambil terus memukuliku.
Aku mencoba menahan pukulan akong sambil tetap memegang lengannya. Tiba-tiba tubuh akong terhuyung ke belakang saat dia berusaha melepaskan pegangan tanganku. Aku berusaha menarik tubuh akong ke depan, supaya dia tidak jatuh ke belakang. Tarik menarik pun tak terelakkan. Tiba-tiba akong mendorongku dengan kuat, dan ....
Brukk!!
Aku dan akong jatuh bersamaan dengan tubuh akong menindihku. Beberapa orang nampak berlari dari arah lobi apartemen sambil membawa payung.
"Kenapa kau biarkan akongmu hujan-hujanan?"
"Kamu bisa jaga orang tua, tidak, sih? Masak sampai basah kuyup kayak gini?"
Sambil membantu akong bangkit, mereka terus menyerangku dengan berbagai pertanyaan. Namun, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan mereka. Di samping penguasaan bahasa mandarinku masih kurang, sakit di pantatku lebih menyita pikiranku.
Untunglah saat itu majikanku datang dengan membawa mobil. Sambil membantu menaikkan akong ke dalam mobil, nyonya menjelaskan para orang-orang itu kalau akong sudah pikun, dan hari ini kami agak lalai mengawasinya sehingga akong kabur dari rumah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar