Selasa, 19 Mei 2015
Sepeda Salim
Salim menghentikan langkahnya, tepat di depan toko sepeda di area 'Shopping', Kota Salatiga. Diletakkannya sebuah plastik kresek warna hitam yang sejak tadi didekapnya. Tangan kecilnya mengusap peluh yang membanjiri keningnya.
"Pak, sepeda yang itu harganya berapa?" tanya Salim pada pemilik toko.
"Yang ini dua juta. Kalau yang itu satu juta tujuh ratus."
Mata Salim menatap sendu pada dua buah sepeda yang diinginkannya. Sudah lama dia ingin mempunyai sepeda. Namun keadaan ekonomi orangtuanya, membuat mereka tidak bisa membelikan sepeda buat Salim. Didekapnya lagi plastik kresek yang tadi dia taruh di lantai. Salim melangkah lunglai menuju belakang area 'Shopping'.
"Pak, yang ini harganya berapa?" tanya Salim sambil menunjuk pada sebuah sepeda bekas yang masih nampak bagus.
"Delapan ratus ribu, Nak," jawab si penjual.
"Boleh kurang, tidak, Pak? Uang tabunganku hanya Rp.720.000."
Cukup lama bapak penjual sepeda itu menatap Salim, hingga akhirnya dia mengangguk. "Boleh! Tapi nilai rapot kamu harus bagus, dan tunjukkan pada saya."
"Pasti, Pak. Saya akan terus rajin belajar supaya tetap rangking satu." Salim mencium punggung tangan penjual sepeda itu, lalu menyerahkan kantung plastik yang berisi uang dari membongkar celengannya pagi tadi.
Salim mengayuh sepeda pertamanya dengan riang menuju rumah. Meskipun hanya sepeda bekas, tapi itu adalah sepeda yang dia beli dengan uang tabungannya sendiri.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar