Kamis, 21 Mei 2015
Seribu Dolar ( Flash Fiction )
Hari ini, waktu berjalan begitu lambat. Jarum jam di dinding pun seolah tidak mau bergerak. Berulang kali kuperhatikan, masih saja bertengger di angka 12.
Saat ini aku sedang menunggu majikanku pulang kerja. Biasanya dia pulang jam 6 sore. Beberapa hari yang lalu, majikanku sudah berjanji untuk membantuku menarik uang tunai dari bank, tempat aku menabung. Namun, sudah dua hari dia selalu lupa. Terlalu sibuk, itu alasannya. Semoga saja hari ini dia tidak lupa lagi, karena aku sudah berjanji pada keluargaku untuk mengirim uang ke mereka, secepatnya.
Krak! Krak! Krak!
Suara pintu garasi terbuka. Dari balik tirai jendela, aku melihat mobil majikanku tengah masuk garasi. Aku segera berlari membukakan pintu depan buat dia.
"Nyonya, uang sa-ya ...." Pintaku malu-malu, begitu dia masuk ke rumah.
"Oh, jangan khawatir, hari ini sudah aku ambil. Ini uangmu, pas 80 ribu dolar," kata nyonya sambil menyodorkan sebuah amplop tebal, warna coklat.
"Alhamdulilah ...," lirihku . Segera kumasukkan amplop itu ke dalam saku celanaku.
Setelah semua pekerjaanku selesai, aku lantas masuk ke kamar untuk menghitung uang itu. Deg! Hanya 79 ribu dolar, kurang seribu dolar. Ah, mungkin aku yang salah hitung. Kembali kuhitung lembaran uang seribu-an dolar itu, tapi tetap saja jumlahnya tidak berubah. Tetap 79 lembar.
Uang seribu dolar sangatlah berharga buat aku. Itu adalah hasil keringatku bekerja di kota besar ini. Jika uang itu aku kasih ke Mbah Yayi--mertuaku-- uang itu bisa buat beli beras beberapa kilo, atau buat bayar listrik. Bisa juga buat bayar uang SPP, Dek Putri. Namun, ternyata uang seribu dolar itu tidak aku temukan. Aku juga tidak berani bertanya pada majikan, takut dikira tidak percaya. Ah, rasanya pengin nangis menerima kenyataan ini. Sejenak duniaku terasa runtuh berkeping-keping dan berhamburan entah kemana.
Butuh waktu beberapa hari buatku untuk mengikhlaskan uang itu. Rasa sesak di dada ini perlahan hilang, saat aku mendengar nasihat Mbah Yayi di telpon.
"Allah lebih tahu yang terbaik buat hamba-Nya, Nduk. Jangan bersedih, Allah tidak akan pernah menukar rezeki hamba-Nya."
Ternyata Mbah Yayi benar, aku mendapat ganti uangku yang hilang. Akhir bulan Juli aku mendapat undian struk belanja, sebesar seribu dolar.
Chiayi, 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar