Minggu, 31 Mei 2015
Model FLP Taiwan
"Mak, kamu yakin dia model yang bakalan mewakili FLP?" tanya Ryan Ferdian Darsudi pada Mak Siti Allie yang tengah mengeluarkan baju kebaya modern dari dalam 'polybag'. Sesekali diliriknya seseorang yang tengah didandani di ruang 'make up' itu.
"Tentu saja, Tak. Kamu tahu, kan, kalau dia berasal dari Solo. Jadi, walaupun dia sudah lama tinggal di Taiwan, tapi tetap memegang teguh budaya Jawa."
"Iya, juga, sih, Mak. Tapi apa nggak ada yang lebih ...."
"Sudah, Jangan khawatir. Di tangan kami, dia akan menjelma bak putri keraton." Mak Siti menepuk pundak Ryan, pelan. Kemudian dia berlalu, berjalan ke arah sang model, sedangkan Ryan mengekor di belakangnya.
"Wah, hebat kamu, Fy! Riasanmu bikin wajah dia 'mangklingi'."
Ryan masih saja tak berkedip memandangi penampilan sang model, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sesekali nampak mulutnya berdecak kagum sampai meneteskan cairan bening.
"ck, ck, ck ...."
"Hahaha ... Siapa dulu, dong. ALlf Coco Fy gitu loohh." Gadis berjilbab yang bertugas merias model itu, tertawa lepas sambil memainkan kuas 'eye shadow'.
"Sudah, sudah ... jangan becanda terus. Cepat pakaikan baju dan sepatunya. Kita udah nggak punya waktu lagi. Ririn, mana sapatunya? Cepat!" perintah Mak Siti.
"Wah, gawat, Mak! Sepatunya nggak muat! Padahal ini sudah nomer paling besar, lho." Ririn Arums yang bertugas membawakan sepatu untuk sang model hanya bisa menunduk sedih dan takut.
"Waduh, bagaimana ini?" Mak Siti dan Sakina saling berpandangan.
Tiba-tiba datang Radytha Rahma Sarytha FirmanSyah menghampiri mereka. Dia adalah anggota FLP yang memiliki tubuh paling subur.
"Pakai sepatuku saja. Kebetulan aku pakai 'hak' tinggi hari ini." Radytha segera melepas sepatunya dan menyerahkan pada sang model. "Tuh, pas, kan."
"Dan inilah penampilan peserta nomer 30, dari Group Lingkar Pena Taiwan. Hadirin sekalian, beri tepuk tangan untuk peserta nomeeer ... 30!" teriak MC dari atas panggung.
"Cepat! Cepat, Justto! Sampai di depan, jangan lupa selendangnya dikibarkan, ya." Sekali lagi Mak Siti memberi instruksi pada Justto Lasoo, model dari FLP.
"Do'ain aku, ya, teman-teman," kata Justto sambil berjalan ke belakang panggung.
"Pasti ...!" teriak teman-temannya, kompak.
Setelah seorang peserta turun panggung, Justto mulai keluar dari 'backstage'. Dengan balutan kebaya modern warna kuning keemasan dan dipadu dengan warna merah marun, Justto melangkah dengan anggun di atas 'catwalk'. Kilatan lampu blitz dan gemuruh tepuk tangan para penonton membuat dia makin percaya diri. Perlahan direntangkannya kedua tangannya, dan selendang batiknya berkibar sempura terkena embusan kipas angin.
Sampai di ujung stage, Justto berhenti sebentar, mengatupkan dua telapak tangannya di dada sebagai penghormatan kepada para juri, lalu memutar tubuhnya dan kembali melenggang dengan anggun menuju 'backstage.
Begitu Justto turun panggung, teman-temannya yang sudah menunggu, langsung menyambut dia penuh dengan kegembiraan. Tiba-tiba seorang laki-laki bermata sipit dan berkulit putih datang menghampiri mereka.
"Maaf, boleh saya berkenalan dengan modelnya. Saya A-Ciang. Bagaimana kalau saya mengundang Nona untuk makan malam?" kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Justto.
"Nona, Nona kepala Lu botak! Aku, tuh, cowok tulen. Masak mau jeruk makan jeruk," kata Justto dengan suaranya yang bariton.
"Oh, maaf ...." Lelaki bermata sipit itu langsung pergi diiringi gelak tawa seluruh anggota FLP.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar