Kamis, 21 Mei 2015

Paranoid ( Flash Fiction )




Beberapa hari ini Nenek Gayung sangat bahagia karena cucunya, Si Tobil, akhirnya meninggal dunia dan menyusulnya ke dunia hantu. Namun, karena Si Tobil dianggap terlalu ganteng dan kematiannya kurang tragis---mendadak sakit jantung karena tiba-tiba dicium oleh topeng monyet yang sedang ditanggapnya---membuat dia harus menjalani ospek beberapa hari di makam, supaya bisa jadi hantu yang menyeramkan dan ditakuti oleh manusia.

Malam itu nampak Nenek Gayung bergegas melayang menuju tempat Si Tobil menjalani ospek. Tangan kanannya membawa gayung yang berisi penuh darah kambing, sedangkan tangan kirinya memegang erat kain kebayanya yang hampir lepas karena tiupan angin malam yang wuuss ... kencang banget. Sebuah berita yang barusan dia baca di beranda facebook-nya, membuat Nenek Gayung takut dan cemas akan kondisi Si Tobil yang saat ini tengah menjalani ospek.

'Seorang mahasiswa baru, meninggal dunia karena dianiaya oleh seniornya saat ospek.' Demikian judul dari berita yang langsung membuat kain kebaya Nenek Gayung melorot nggak karuan, saking syoknya.

'Bagaimana jika mereka menyiksa Si Tobil sama seperti mahasiswa baru itu? Tidak memberinya minum darah atau memanggangnya di bawah sinar matahari. Atau ... Jangan-jangan ... oh, tidaak!!' Berbagai pikiran paranoid langsung berjumpalitan di benak Nenek Gayung.

Begitu sampai di tempat ospek, Nenek Gayung langsung meletakkan gayungnya. Lalu, dia mencincing kebayanya tinggi-tinggi, memasukkan ujung kain ke tali yang mengikat pinggangnya, kemudian berkacak pinggang. Beberapa hantu nampak melongo melihat betis dan paha Nenek Gayung yang kurus dan tidak mulus alias keriput. Tanpa basa-basi Nenek Gayung langsung marah-marah pada; Pakdhe Pocong, Tuyul imut, Genderuwo Merah, dan Kunti sexy yang bertugas sebagai tukang plonco hantu baru.

"Wooii ...!! Awas, ya, kalau sampai kalian menganiaya cucu kesayanganku, Si Tobil, sampai meninggal! Aku tidak akan segan-segan mencium kalian satu per satu sampai kalian muntah!"

"Menganiaya, bagaimana, Nek? Kita sebagai keluarga besar hantu, kan, harus saling mengasihi," kata Pakdhe Pocong sambil ngesot ke arah Nenek Gayung. Dia barusan makan mie ayam, jadinya tidak berani lompat-lompat karena takut sakit perut.

"Menganiaya seperti di berita ini, lho," Nenek Gayung mengeluarkan HP Sa*m*ng yang dia selipkan di dadanya yang telah rata. Kemudian dia membuka aplikasi Facebook dan menunjukkan berita yang tadi dibacanya kepada Pakdhe Pocong.

"Ini, sih, kejadiannya di dunia manusia, Nek. Manusia dan hantu, kan, udah beda dunia. Kalau mereka, dianiaya memang bisa mati, tapi kalau hantu dianiaya dan diplonco kayak gimana, ya, nggak mungkin bisa mati. Masak mau mati dua kali, sih."

"Oh, iya ... ya. Aku lupa kalau kita dan manusia itu udah beda dunia. Dan cucuku, Si Tobil, tidak akan mati karena dia sekarang sudah jadi mantan manusia. Xixixixixi ...." Nenek Gayung tertawa nyaring, membuat para hantu yang berada di situ langsung menutup hidung, karena aroma tempe busuk yang menyebar dari mulut Nenek Gayung.


Chiayi, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar