Tentang Mas Ari
Lebaran selalu identik dengan acara silaturahmi atau saling mengunjungi. Seperti pada Lebaran ketiga kali ini, aku diajak oleh keluarga besar suami untuk mengunjungi Mbah Bardhi, salah seorang leluhurnya yang tinggal di kota Magelang.
Ternyata di rumah Mbah Bardhi telah berkumpul beberapa kerabat lainnya yang berasal dari berbagai kota. Meskipun banyak orang dan ada beberapa yang baru kenal, tapi suasana kekeluargaan sangat terasa sekali di sana. Para dewasa saling bercerita dan melepas kangen. Sedangkan anak-anak, riang bermain sambil sesekali mencicipi berbagai menu makanan yang tersedia.
Di antara sekian banyak anak-anak di sana, hanya Ari---anak laki-laki berusia 7 tahun yang merupakan anak pertama dari Mbak Yeni, berasal dari Jakarta---yang tidak mau bermain dengan anak-anak lainnya. Sama seperti Lebaran tiga tahun yang lalu, Ari hanya duduk di balai ruang tengah. Kalau dulu dia mengambil banyak Aqua gelas sebagai mainan, kini dia mengambil kaleng biskuit. Ari mengeluarkan beberapa biskuit dan menyusunnya ke atas atau ke samping. Dia tidak mau bicara atau pun menjawab jika ada yang mengajaknya bicara atau bermain.
"Bunda, Mas Ari itu sombong, ya, mentang-mentang dari Jakarta," bisik anakku sambil bergelayut manja.
"Mas Ari itu tidak sombong, Sayang. Tapi, ada sedikit 'sakit' di kepalanya."
"Begini, ya, Bunda?" Anakku menggerakkan jari telunjuk kanannya seperti membelah kening.
"Sstt ... bukan seperti itu dan tidak boleh bilang seperti itu tentang Mas Ari."
Aku segera menarik anakku dalam pelukanku, sebelum ada yang tahu tentang penilaiannya terhadap Ari. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada anakku bahwa Ari tidak sombong dan tidak gila. Namun, Ari punya dunia yang lain dan dia sedang menikmati dunianya itu. Dunia yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya, dunia Autis. Mbak Yeni memang pernah bercerita, kalau Ari mengindap autis dan sampai sekarang masih menjalani terapi.
"Nanti kalau kita sudah sampai rumah, bunda akan kasih tahu kamu kenapa Mas Ari seperti itu. Pokoknya tidak boleh bicara soal Mas Ari di sini. Mengerti?"
"Mengerti, Bunda," jawab anakku. Lalu, dia kembali berbaur dengan teman-temannya untuk meneruskan permainan yang tertunda.
Chiayi, 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar