Minggu, 31 Mei 2015
Dua Bidadariku
Patah tumbuh, hilang berganti.
Mungkin pepatah ini lah yang cocok menggambarkan sekelumit kisah hidupku yang selamanya tidak akan pernah aku lupakan. Aku yakin, apa pun yang terjadi kepadaku adalah kehendak Allah, dan aku kembalikan semuanya ini hanya kepada Allah semata. Keyakinan itu lah yang kini membuatku kembali mencoba bangkit lagi, demi buah hatiku tercinta, Zahra.
*****
Sejak adikku mengenalkanku dengan temannya yang bernama Syakda, aku selalu merasa tidak tenang. Rasanya ingin selalu memandang wajahnya yang cantik, dan melihat senyumnya yang menawan. Sebagai laki-laki normal, wajar saja kalau aku sudah jatuh cinta pada Syakda, kembang desa sebelah yang baru saja pulang dari pondok pesantren.
Lama-kelamaan rasa ini semakin kuat di hatiku, hingga aku beranikan diri meminta kedua orangtuaku untuk melamar Syakda. Aku tahu banyak laki-laki lain yang memperebutkannya, tetapi aku tidak perduli.
Saat aku dan kedua orangtuaku mendatangi rumahnya, hati dan tubuhku terasa bergetar. Apalagi saat aku melihatnya mengenakan jilbab warna ungu, sungguh sangat anggun dan cantik. Dia benar-benar seperti jelmaan bidadari.
Acara lamaran pun berjalan lancar. Aku tidak menyangka, kalau lamaranku yang sebenarnya hanya mencoba keberuntungan ini, ternyata diterima oleh Syakda. Aku tahu banyak pemuda baik-baik dan bahkan kaya, tergila-gila dan berebut ingin mempersunting Syakda.
Pernah suatu hari aku bertanya padanya, apa alasan dia memilih menerima lamaranku, sedangkan aku hanya seorang pengangguran dan berandalan? Kenapa dia tidak memilih mereka yang sarjana, santri yang alim, atau mereka yang berpenghasilan cukup? Dia menjawab, bahwa dia selalu melihat wajahku dalam sholat istikharahnya, sehingga dia yakin aku lah jodoh yang dipilih Allah untuknya.
Bisa menikahi Syakda adalah sebuah anugerah untukku. Bukan karena aku bisa memenangkan persaingan dalam memperebutkannya, tetapi lebih kepada perubahan dalam diriku sendiri. Syakda yang pendiam dan anggun itu selalu saja bisa membuatku nyaman bila berada di sisinya. Hanya dengan seluas senyum dan dekapan lembutnya, maka semua emosi dan lelahku akan hilang seketika. Aku yang dikenal sebagai pemuda berandalan pembuat onar oleh hampir semua orang, perlahan bisa berubah jadi tenang setelah menikah dengannya. Sehingga seluruh keluarga besarku menganggap Syakda adalah malaikat yang dikirim Allah untuk merubah tabiat burukku.
Tidak aku pungkiri, kharisma yang terpancar dari Syakda benar-benar membuatku bertekuk lutut. Apalagi saat dia mengaji, suaranya sungguh bisa menenangkannya batinku. Meskipun dia tahu aku adalah seorang preman, namun dia tidak pernah menuntutku untuk merubah. Yang aku tahu, dia seolah tidak pernah lelah untuk mengajakku sholat bersama. Meski selalu aku tolak, tetapi dia tidak pernah marah. Malahan dia selalu mencium tanganku seusai sholat sembari berkata, "Aku akan selalu sabar menanti Mas Yanto jadi iman dalam hidup dan sholatku."
Sikapnya yang sabar dan penuh pengertian itu lah yang akhirnya membuat aku perlahan sadar dan mencoba untuk hidup normal. Aku ingin menjadi suami yang bisa menafkahi dan juga jadi panutan bagi istriku. Aku ingin menjadi imam yang baik buat istri dan anakku nanti.
Aku pun mulai meninggalkan kebiasaan burukku dan mencoba bekerja. Jika pagi aku bekerja di sawah, warisan dari orangtua Syakda, sedangkan sore sampai malam aku menjadi kernet angkutan kota. Meskipun hasilnya tidak seberapa, namun aku bersyukur bisa menafkahi istriku dengan uang halal, apalagi Syakda tidak pernah protes dengan jumlah uang yang aku berikan padanya. Aku juga mulai belajar sholat lagi. Ternyata tidak mudah untuk kembali belajar agama yang sudah begitu lama aku tinggalkan. Yang aku ingat, terakhir aku sholat sewaktu kelas satu SMP. Namun Syakda seolah tidak pernah lelah untuk mengajariku. Di bawah bimbingannya, perlahan aku mulai bisa membaca Alquran, dan alhamdulilah sudah bisa menjadi iman sholat untuknya.
Kebahagian rumah tanggaku pun semakin lengkap dengan kehamilan istriku ditahun ke-empat pernikahan kami. Subhanallah, tidak hentinya aku bersyukur, atas segala nikmat dan karunia ini. Anak yang sudah lama kami nantikan, kini sudah bersemayam dalam rahim istriku tercinta. Akh, rasanya masih tidak percaya kalau aku akan menjadi seorang bapak.
Semenjak istriku hamil, aku jadi semakin semangat bekerja. Aku ingin mempersiapkan yang terbaik untuk kelahiran bayi kami. Bahkan aku rela pulang larut, asalkan bisa mendapatkan tambahan uang untuk menyambut kelahiran bayi kami nanti.
Namun ternyata Allah berkehendak lain. Siang itu, 25 November 2006, aku mendapat kabar kalau istriku di bawa ke RSUD Ungaran karena jatuh, dan mengalami pendarahan hebat. Padahal saat itu usia kandungannya baru masuk bulan ke delapan. Saat itu aku benar-benar panik dan takut. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menyusul ke sana. Sampai di sana, keluarga besarku sudah berkumpul di depan UGD dan tidak diperbolehkan masuk, karena istriku sedang dalam perawatan intensif. Aku coba bertanya kepada ibuku penyebab jatuhnya istriku. Katanya istriku terpeleset saat mencuci baju. Padahal sejak kehamilannya menginjak tujuh bulan, aku dan ibu selalu melarang dia untuk melakukan pekerjaan berat, ternyata dia keras kepala.
Setelah hampir satu jam kami menunggu, akhirnya seorang dokter keluar menemui kami. Aku pun langsung bertanya padanya tentang kondisi istriku, dan dia menyampaikan sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Posisi bayi melintang, sedangkan Si Ibu terlalu lemah untuk melahirkan secara normal karena pendarah, dan ketubannya sudah pecah. Jalan satu-satunya adalah operasi. Mengingat kondisi keduanya, kemungkinan kami hanya bisa menyelamatkan satu diantara keduanya."
Aku langsung lemas mendengar ucapan Dokter itu, "Ya Allah, jangan Kau ambil salah satu dari mereka. Aku sangat menyayangi keduanya." pintaku dalam hati. Tanpa sadar butiran bening sudah menetes di pipiku.
"Silahkan ke bagian administrasi untuk menandatangani surat persetujuan operasi," kata seorang suster menyadarkanku.
"Apa kah tidak bisa diselamatkan keduanya, Dok? Saya mohon ... saya mohon, Dokter ...," kataku mengiba pada dokter itu.
"Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk ibu dan bayinya."
Setelah menandatangani surat persetujuan operasi aku langsung berlari menghampiri istriku yang tengah didorong menuju kamar operasi. Di bias wajahnya yang pucat, dia masih berusaha melukis seulas senyum di bibirnya. Jarum infus dan transfusi darah masih melekat di pergelangan tangannya. Darah segar pun masih nampak membekas di seprai dan selimutnya.
"Bertahan, Dek, kamu dan anak kita akan baik-baik saja," kataku mencoba menenangkannya. Padahal di dalam hatiku sendiri, rasa takut dan khawatir begitu hebat menyekapku. Kugenggam erat tangannya yang terasa dingin dan berkali-kali kuciumi keningnya. Aku ingin dia tahu, bahwa aku di sini untuknya dan ikut merasakan sakitnya.
"Ka ... sih nama anak ki ... ta Az ... zahra," bisik lirih istriku. Aku hanya bisa mengangguk. Air mataku berderai. Aku sungguh tak tega melihat wajahnya yang menahan sakit yang teramat sangat. Sebelum memasuki ruang operasi, kembali kuciumi wajah istriku tercinta.
Takut, cemas, bingung, gelisah ... dan entah perasaan apalagi yang kini menghantuiku selama proses operasi istriku. Aku hanya bisa duduk, berjalan mondar-mandir, dan duduk lagi, persis seperti orang linglung.
"Berdoa, Yan. Doakan istri dan anakmu supaya selamat," kata ibu seiring suara adzan isya yang terdengar sayup.
Aku segera bergegas ke mushola rumahsakit untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Baru dua rokaat aku berhenti dan kembali menangis. Sholatku tidak tenang. Bayangan wajah istriku yang sedang kesakitan begitu kuat menari di pelupuk mataku.
"Ya Allah, ampuni aku yang tidak bisa menegakkan sholat ini dengan benar. Ya Allah, selamatkan istri dan anakku. Jangan Kau ambil salah satu dari mereka." kupanjatkan sebaris doa sebelum aku kembali bersuci dan mengulang sholatku.
Setelah selesai sholat, aku segera berlari menuju kamar operasi lagi. Tepat saat aku sampai di sana, pintu kamar operasi dibuka dari dalam. Aku dan keluargaku langsung menghampiri dokter yang tadi mengoperasi istriku.
"Bagaimana, Dok ...?" tanyaku hampir serempak dengan ibuku.
"Maaf kan saya, Pak, Bu. Bayinya sudah lahir dengan selamat, tetapi kami tidak bisa menyelamatkan nyawa ibunya."
"Tidaaakk ...!! Dek, Syakda ...!" aku langsung berlari masuk ke dalam ruang operasi. Kupeluk erat tubuh istriku yang baru saja di tutup oleh seorang suster. Tidak mampu lagi kutahan airmata ini. Hatiku terasa hampa saat kulihat wajah istriku yang telah pucat. Kosong ... hatiku seolah hilang. Separuh jiwaku kini telah pergi untuk selamanya. Tiba-tiba semua kebahagian selama ini menjelma menjadi kemarau yang gersang dalam sekejap.
"Istri bapak sendiri yang meminta dokter untuk menyelamatkan bayinya. Dia tidak ingin membunuh bayi yang sudah lama dia nantikan," kata seorang suster di sampingku.
Ya, aku mengerti maksud istriku. Dia sangat ingin bisa mempersembahkan seorang bayi untuk pernikahan kami, tetapi aku tidak menyangka semua itu harus ditebus dengan kepergiannya. Akh, betapa mulia hati istriku.
"Selamat jalan, Sayang. Ijinkan aku titipkan salam perpisahan panjang di keningmu. Selamanya, kamu lah bidadariku di dunia dan di surga. Terimakasih atas kesetiaanmu menemaniku dalam suka dan duka. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga dan membahagiakanmu. Tunggu aku di sana, Sayang." Kembali kucium kening istriku dan berusaha untuk ikhlas melepasnya menghadap Illahi.
*****
Beberapa hari sejak kematian istriku, aku masih malas untuk bekerja. Duka ini masih kuat menyelimuti hatiku. Setiap bayangan wajahnya melintas di benakku, airmataku selalu menetes. Kini seluruh waktuku hanya aku gunakan untuk beribadah dan berdoa untuk istriku. Aku ingin istriku tahu, bahwa aku akan selalu ada untuknya, meski kini dia di alam yang berbeda.
Hingga suatu hari Allah menyadarkanku bahwa aku masih punya tanggung jawab yang lain. Zahra, anakku yang selama ini dirawat ibuku sakit, dan harus diopname karena suhu badannya mencapai 40 derajat. Aku sadar, Zahra membutuhkanku, dan aku tidak boleh menyia-nyiakan amanah yang telah Allah titipkan padaku. Aku belum siap kehilangan lagi.
Sejak saat itu, aku kembali berusaha menata hidupku. Kembali bekerja untuk masa depan anakku tercinta, Zahra yang membutuhkan kasih sayang dan juga biaya, sedangkan tabunganku semakin menipis.
Demi masa depan bidadari kecilku, akhirnya aku terima tawaran seorang teman untuk bekerja ke Taiwan.
Kini, satu tahun sudah aku di tanah Formusa ini. Mengais rezeki demi anakku, Disyak Putri Az-zahra.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar