Senin, 18 Mei 2015
Bayi Isnanti
"Ayo, Nduk, dorong yang kuat! Ya ... ya, begitu!" teriak Mak Pami, dukun bayi berusia 70 tahun itu pada Isnanti.
"Mak ... sakit, Mak! Aarrgghh ...!" Kedua tangan Isnanti mencengkeram kuat seprei. Peluh begitu deras mengalir di wajahnya. Perempuan yang belum genap berusia 17 tahun itu terpaksa dikeluarkan dari sekolahnya setelah ketahun hamil. Namun, Isnanti selalu menjawab 'tidak tahu' setiap kali ditanya siapakah yang menghamilinya.
"Aarrgghh ...!" Isnanti berteriak perlahan karena menahan rasa sakit saat mengejan.
Bersamaan dengan teriakan itu, lahirlah sesuatu dari rahimnya. Tangan Mak Pami bergetar, dan mulutnya tidak berhenti mengucap istighfar saat meraih bayi yang dilahirkan Isnanti.
"Laki-laki atau perempuan, Mak? Kenapa anakku tidak menangis? Apa yang terjadi dengan anakku, Mak?" Mak Pami tergagap mendengar pertanyaan Isnanti. Dia masih bingung, bagaimana caranya memberitahu Isnanti, bahwa bayi yang dilahirkannya bukanlah manusia, melainkan seekor ular belang berkepala manusia.
Chiayi, 18 Maret 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar