Rabu, 20 Mei 2015
Rayuan Maut
Sepertinya sudah sepuluh menit lebih, Brian---anak tetanggaku---yang berusia tiga tahun, menangis keras. Aku sedikit cemas, takut kalau suara tangisannya itu akan mengganggu tidur siang anakku.
Setelah mendapat izin dari suamiku, aku pun pergi ke rumah tetangga untuk mencari tahu, kenapa Brian menangis terus.
"Dia lagi demam, tapi tidak mau minum obat. Sampai aku paksa pun tetap tidak mau. Karena tidak mau nurut, akhirnya aku pukul pantatnya," jelas Mbak Mitha---ibunya Brian---sambil menunjukkan bungkusan kecil-kecil, yang berisi serbuk obat dari Puskesmas.
"Kalau begitu, coba saya bujuk dia, ya, Mbak. Siapa tahu dia mau nurut," kataku sambil mengambil alih bungkusan obat itu dari tangan Mbak Mitha. Kemudian aku menghampiri Brian yang masih menangis di sofa.
"Lho, Brian kenapa nangis, Sayang? Sini, sini, sama tante Ayu. Cup, cup,cup." Kugendong Brian sambil kuelus-elus punggungnya, untuk menenangkannya. Setelah tangisannya reda, kuajak Brian ke rumahku.
Saat Brian sedang menikmati kue di ruang depan, aku pergi mengambil botol multivitamin yang biasa diminum anakku. Kutuang isi multivitamin itu ke dalam gelas, lalu aku cuci bersih botolnya. Kemudian aku isi botol itu dengan satu bungkus obat turun panas milik Brian ditambah sedikit air, lalu aku kocok pelan. Setelah selesai, aku hampiri Brian sambil membawa segelas teh manis.
"Brian mau minum vitaminnya Mbak Putri, nggak? Kalau minum ini, nanti bisa tambah pintar kayak gambar ini, lho." Kumulai rayuanku sambil memerlihatkan gambar yang ada di botol multivitamin itu.
"Pintar itu bisa bikin mobil, ya, Tante?" tanya Brian polos.
"Pastinya, dong. Tidak hanya bisa bikin mobil saja, lho, tapi juga bisa bikin rumah yang gede, bisa bikin jembatan yang gede juga. Brian mau nggak jadi anak pintar?"
"Mau! Mau banget, Tante." Brian mengangguk penuh semangat.
"Kalau Brian mau pintar, berarti harus minum multivitamin ini." Melihat antusias Brian, aku segera menuang isi botol itu ke sendok.
"Pahit nggak, Tante?" tanya Brian agak takut.
"Nggak, dong. Vitamin ini rasanya kayak jeruk. Paling pahitnya dikiiiit. Jangan takut, tante udah siapin teh manis." Kusodorkan segelas teh manis yang sudah aku persiapkan.
Akhirnya rayuan mautku berubah manis. Brian mau meminum obat itu meskipun wajahnya meringis karena kepahitan. Namun, dia bisa kembali tersenyum setelah satu gelas teh manis dia minum habis.
Brian, maafkan tante yang telah memberimu multivitamin berisi obat demam. Tante hanya ingin, supaya kamu lekas sembuh.
Chiayi, 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar