Rabu, 20 Mei 2015

Tanda Lahir



Lamaran itu terasa sungguh sangat romantis. Di atap sebuah gedung bertingkat, Allan sudah mempersiapkan sebuah jamuan makan malam. Berbagai rangkaian bunga, lampu hias, balon warna merah muda, dan juga lilin terlihat menghiasi sekitar meja makan. Dua orang pemain biola yang sengaja didatangkan Allan, semakin menambah romantisnya suasana malam itu.

Allan berlutut di samping Alice sambil menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna biru, berisi sebuah cincin emas bertahtakan intan berlian.

"Will you marry me?" pinta Allan dengan sedikit gugup.

"Hmm," Alice mengangguk pelan. Sebuah senyum tersungging di bibir tipisnya.

Rona bahagia nampak jelas terpancar dari wajah Allan. Dia segera bangkit dan menyematkan cincin itu ke jari manis Alice. Sebuah kecupan manis pun mendarat di punggung tangan gadis itu.

Allan menarik pelan tangan Alice supaya gadis itu berdiri. Sesaat kemudian, keduanya telah larut dalam dansa romantis dengan iringan alunan lembut biola. Allan memeluk erat tubuh Alice dan sesekali mencium lembut kening gadis itu. Dengan balutan gaun malam tanpa lengan yang terbuka di bagian punggung, membuat penampilan Alice semakin anggun.

Pesona Alice, seorang model dari Philipina yang kini terjun di dunia 'entertainment' Indonesia, memang telah memikat hati Allan. Alice satu-satunya gadis yang bisa mengerti dan memahami Allan. Dia bisa tahu apa yang disukai atau dibenci Allan, meskipun Allan tidak pernah memberitahu Alice.

"Thanks, kamu udah mau terima lamaranku," bisik Allan di telinga Alice. Tangannya membelai punggung Alice yang terbuka.

Tiba-tiba Allan menghentikan gerakan dansanya. Matanya menatap tajam pada tanda lahir yang dikelilingi tato bertuliskan nama dua orang, yang terletak di punggung kiri Alice. Allan melepaskan pelukannya dan melangkah mundur beberapa langkah. Tanda itu sama persis dengan tanda lahir punya Andri, sahabat karibnya yang tiba-tiba menghilang tujuh tahun yang lalu. Andri sengaja membuat tato bertuliskan nama mereka berdua di sekitar tanda lahirnya saat mereka liburan ke Bali, untuk mengabadikan persahabatan mereka.

"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu berhenti?" tanya Alice bingung dengan perubahan sikap Allan.

"Tan-tanda itu ... A-apa hubungannya kamu dengan Andri?" tanya Allan gugup.

Alice terdiam, bimbang. Seharusnya dia juga menghapus tanda lahir dan tato itu, saat dia melakukan operasi transgender di Philipina. Rasa cinta yang telah lama dia pendam terhadap sahabat karibnya itu, membuat Andri mengubah dirinya menjadi Alice, supaya bisa mendapatkan cinta Allan.

"Tak ada lagi yang bisa aku sembunyikan dirimu. Aku adalah Andri. Aku melakukan semua ini, karena aku mencintaimu ...."

"Aarrgghh!! Tidaak ...!" Allan berlari meninggalkan Alice yang hanya bisa diam terpaku.


Chiayi, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar