Minggu, 31 Mei 2015

JAUZA



Menjadi seorang ibu, adalah sebuah anugerah. Jangan pernah kita sia-siakan kesempatan itu.

****

Rasanya puas sekali, gladi bersih terakhir siang ini berjalan lancar. Para pendukung acara dan segala perlengkapan pun sudah 95% siap. Tiket pun sudah 'sold out' jauh-jauh hari. Tinggal istirahat sebentar lalu persiapan 'make up' untuk tampil malam nanti.

Sebagai salah satu calon diva, tentunya aku ingin konser amal malam nanti bisa sukses. Dengan begitu, nama dan penjualan albumku pun akan ikut terdongkrak. Aku benar-benar beruntung mempunyai management dan perusahaan rekamanan yang solid, yang membantu melambungkanku di dunia tarik suara ini.

"Mbak, ada BBM dari kakakmu." segera kusambar HP yang disodorkan Meylan, managerku.

'Aku udah sampai Jakarta, menginap di Putri Duyung, Ancol. Jauza aku ajak juga. Kalau ada waktu, Kemarilah.' isi pesan kakakku, Aulia.

"Mey, aku mau pergi sebentar menemui kakakku,"

"Tapi kamu perlu istirahat untuk perform kamu nanti malam."

"Hanya sebentar, Mey ... Please. Aku kangen banget sama Jauza."

"Hhmm, baiklah. Untuk mengalihkan wartawan, aku akan mengajak Ipank untuk keluar, wawancara. Kamu keluar lewat belakang. Jangan lupa pakai kerudung. Nih, pakai saja mobilnya Ipank." Aku menerima kunci mobil yang Meylan sodorkan. Setelah memakai kerudung, aku mengambil tas dan bergegas ke tempat parkir lewat pintu belakang.

Kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi ke arah Ancol. Aku ingin segera melampiaskan rasa kangen di antara waktu yang sempit ini.

Kedatangan Jauza ke Jakarta ini, sangatlah berarti buat aku. Bocah berusia 5 tahun itu adalah anak kandungku yang sengaja aku sembunyikan dari publik, demi karir menyanyiku. Dia terpaksa aku titipkan ke kakakku yang tinggal di Kalimantan, setelah aku lolos audisi lomba menyanyi, yang digelar salah satu stasiun televisi swasta. Pihak management dan perusahaan rekaman tidak mau statusku sebagai 'single parent', menghambat laju karirku yang terus menanjak. Aku selalu mengalihkan pembicaraan jika para wartawan bertanya tentang masalah pribadi. Baik itu status maupun kondisi keluargaku. Rencananya, jika konserku sukses malam nanti, baru aku akan mengenalkan Jauza ke publik, dan membuka status asliku.

Begitu sampai di hotel, aku langsung menemui kakakku yang sedang bermain di pantai, bersama Jauza.

"Terima kasih udah bawa Jauza ke sini, Mbak. Aku kangen banget sama dia." Sejenak aku dan kakakku berpelukan untuk melepas kangen.

"Sama-sama," kata kakakku. "Jauza, sini, salaman dulu sama Tante Aura!" teriak kakakku memanggil Jauza yang tengah asik bermain pasir. Jauza pun berlari menghampiri kami berdua.

"Tante, apa kabar?" Jauza mengulurkan tangannya yang mungil.

"Tante, kabar baik," jawabku sambil membalas uluran tangannya. "Bolehkah tante memelukmu?" Jauza memandangku sesaat, lalu mengangguk pelan.

Kupeluk tubuh mungil itu dengan segenap hati. Air mataku luruh di pipi. Sedih sekali menerima kenyataan, buah hatiku tak mengenaliku. Rasa bersalah dan bahagia beradu dalam dadaku. Bayi yang dulu aku tinggal, kini telah telah menjelma menjadi seorang bocah tampan yang sangat menggemaskan.

"Maafkan mama, Sayang," lirihku pilu. Kubelai rambutnya dan kucium pipinya yang cubby.

"Tante, kita main ombak, yuk," ajak Jauza membuyarkan lamunanku.

"Ayuk! Siapa takut!" jawabku setelah menghapus air mata.

Sesaat kemudian aku dan anakku, Jauza, sudah berkejaran di antara gemuruh ombak. Semburat keemasan mentari semakin menambah ceria kebahagiaanku bisa memeluk, mencium, dan mengejar anakku. Sambil bergandengan tangan, kami melompat-lompat di antara laju ombak. Hari ini aku benar-benar merasakan menjadi seorang ibu.

"Ra! Aura ... telpon!" teriak kakakku sambil melambai-lambaikan ponselku.

Setelah mengajak Jauza menepi, aku menghampiri kakak dan meraih telpon yang disodorkannya.

"Mbak Aura, ini sudah jam berapa? Kenapa belum balik ke sini? Dua jam lagi acaranya akan dimulai." Suara Meylan terdengar panik dari seberang sana.

"Aduh, maaf ... aku keasikkan main sama Zaza. Okay, aku balik sekarang." Kututup telpon dan menyimpannya kembali ke dalam tas.

"Zaza, jangan terlalu ke tengah, Sayang! Zaza kembali!" Teriakan kakakku yang sambil berlari ke berlari ke arah laut, seketika membuatku panik.

"Zaza mau ngejar burung-burung itu!" teriak Jauza di antara gemuruh ombak. Sementara air laut sudah mencapai dadanya.

"Cepat tarik Zaza, Mbak! Laut sudah mulai pas,...." Belum selesai aku mengingatkan, tiba-tiba ombak besar datang menerjang.

"Jauzaaa ...!" Aku langsung berlari ke tengah lautan menyusul kakakku yang saat itu sudah berjarak satu meter dari Jauza. Begitu ombak surut, aku hanya menemukan kakakku berdiri mematung sendiri, tanpa Jauza di pelukannya.

"Tolong! Tolong! Anakku hilang!" Aku berteriak-teriak sambil berjalan ke tengah lautan dengan panik. Aku semakin berteriak histeris manakala tubuh anakku tetap tidak ditemukan, meski petugas Sar pantai sudah turun tangan. Kakakku dan seorang petugas Sar, kemudian memaksaku untuk menunggu di darat selama masa pencarian.

Hingga malam tiba, aku masih bersimpuh di tepi pantai, menanti buah hatiku kembali. Tak kuhiraukan HPku yang terus berdering. Entah sudah berapa puluh panggilan dan pesan singkat dari Meylan, tapi aku tidak peduli. Anakku lebih penting dari konser itu.

"Tuhan, kembalikan anakku. Aku berjanji akan mengakui dan merawatnya dengan tanganku sendiri. Beri hamba kesempatan untuk jadi ibu yang baik buat anak hamba, Tuhan," doaku di antara derai air mata.

"Sudah ketemu! Sudah ketemu!" teriak beberapa orang dari perahu karet yang merapat ke pantai. Aku dan kakakku segera berlari menghampiri mereka. Namun, kakiku seketika lemas, manakala mereka bilang kalau Jauza telah meninggal.

"Zaza ... bangun, Sayang! Maafkan mama. Jangan tinggalkan mama, Sayang. Zazaaa ...!" Kupeluk tubuh anakku yang dingin. Sedingin wajahnya yang tanpa senyum. Zazaku kini telah pergi untuk selamanya.

Chiayi,




Tidak ada komentar:

Posting Komentar