Rabu, 20 Mei 2015
Ketegaran Dista
Semua mata pegawai Dista tertuju padanya, saat perempuan cantik itu memasuki ruang tengah salonnya. Sebuah salon kecantikan yang juga menerima paket rias pengantin komplit, termasuk kreasi bentuk uang serah-serahan. Sesungging senyuman yang terlukis di sudut bibir Dista, tak bisa menyembunyikan matanya yang sayu dan sembab.
"Bentuk uang serah-serahan kali ini masjid dan wayang, kan?" Dista mengeluarkan dua bandel uang kertas pecahan seratus dan lima puluh ribuan dari dalam tasnya.
"Biar kami saja yang mengerjakan bentuk uang serah-serahan ini, Mbak. Mbak Dista istirahat saja, supaya punya tenaga untuk merias pengantin besok pagi," kata Nelly sambil mengambil alih tumpukan uang kertas dari tangan Dista yang diikuti anggukan para pegawai yang lain.
Dari mata Dista yang masih terlihat merah, semua pegawai di salon itu tahu kalau Dista telah menangis semalaman. Mereka paham, betapa hancurnya hati Dista saat ini. Rencana Dista untuk menikah bulan depan, hancur luruh saat sang tunangan ketahuan 'bermain api' di belakangnya. Bukan hanya itu, sang tunangan bahkan dengan tega memilih salon Dista untuk mengurusi semua prosesi pernikahannya, mulai dari segala jenis serah-serahan sampai resepsi.
"Kenapa? Saya baik-baik saja, kok. Saya justru sangat bahagia hari ini." Dista kembali tersenyum.
"Bahagia?" tanya para pegawai Dista hampir bersamaan.
"Yup! Aku sangat bahagia karena gadis itu telah membebaskanku dari ikatan laki-laki yang tidak punya tanggung jawab. Untungnya aku tidak jadi menikah dengan dia. Ayo, kita selesaikan melipat uang kertas ini, setelah itu aku traktir kalian semua di ayam goreng Lombok Ijo. Okay?" kata Dista penuh semangat.
"Horee, terima kasih, Mbak Dista!" teriak para pegawai Dista. Rona bahagia pun menyelimuti mereka, melihat ketegaran Dista.
Chiayi, 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar