Senin, 18 Mei 2015

SAWAN



Sudah tiga hari ini, Putri---anak semata wayangku yang berusia 6 bulan---demam. Selama itu pula, suamiku tidak masuk kerja karena harus gantian denganku, begadang menjaga Putri yang selalu rewel jika tengah malam.

"Sudah kalian bawa ke Puskesmas?" tanya ibu mertuaku yang hari ini datang menjenguk.

"Sudah, Bu, tapi panasnya belum juga turun. Rencananya sore ini, kami akan bawa Putri ke dokter spesialis anak," jawabku.

"Sepertinya Putri kena 'sawan' pengantin dari tetanggamu yang menikah tiga hari lalu. Cobalah kalian pergi ke rumah tukang rias pengantin, yang kemarin merias tetanggamu itu dan minta sedikit bedak, lalu usapkan ke wajah dan tubuh Putri," saran mertuaku sambil mengambil alih Putri dari gendonganku.

Aku menatap suamiku sesaat, meminta pertimbangan. Kuharap dia bisa memahami keraguanku. Bukannya aku tidak percaya dengan mitos 'sawan' yang telah menjadi kepercayaan di daerahku itu, tapi aku lebih berharap kalau Putri diperiksa oleh dokter spesialis anak.

"Tidak ada salahnya kita coba, Bunda. Ini demi kesembuhan anak kita," kata suamiku mematahkan keraguanku. Dia segera meraih dua buah helm di lemari bufet dan menyodorkan salah satu, padaku.

Tanpa menunggu lagi, kami bertiga segera menuju rumah perias pengantin yang terletak di desa tetangga. Setelah memahami maksud kedatangan kami, beliau pun mengambil bedak dan mengusapkan ke wajah, leher, telapak tangan, dan telapak kaki anakku.

"Cepat sembuh, ya, Cantik," kata ibu perias itu, lalu meniup kening anakku pelan.

Malam harinya, Putri tidak lagi rewel. Dia tidur dengan pulas dan suhu badannya tidak sepanas kemarin. Mitos tentang 'sawan' itu memang tidak mudah diterima logika, tapi bagaimanapun juga, kami tetap memercayai kepercayaan yang telah turun-temurun itu.

Chiayi, 2015

Note:
Sawan: sebuah kepercayaan kejawen/atau jawa yang berlaku untuk anak-anak. Biasanya saat ada pengantin atau orang meninggal.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar